Jalan Awal Memahami ID Seniman

Karya itu memancing perbincangan, membuat kita masygul; oh, ternyata karya seni rupa masih ”diperhitungkan”. Di ”pameran” tanpa ”party” dan mungkin juga tanpa ”kurator” penanggung jawab itu, ”karya” menjadi begitu menonjol. Karya –dalam hal ini lukisan– dalam peristiwa ”pemakzulan” di ruang publik itu maju untuk digunjingkan ”diperbincangkan”. Yang lebih menarik lagi, karya itu maju seorang diri untuk ”membela” diri sendiri yang pada akhirnya dipastikan (meng)kalah.

Peristiwa kehebohan Indonesia Idea menunjukkan satu hal, sudah lama kita tak melihat secara saksama sebuah karya dibahas secara ekstensif dan berkelanjutan walaupun dalam bentuknya yang paling banal (persekusi). Sudah lama kita menyaksikan karya hanya selesai dalam sekali pameran; tergantung di dinding atau tergeletak di pojok dinding, judul karya dan nama seniman pembuatnya disebut satu kali dalam katalog, setelah itu tak pernah lagi dilirik.

Sudah lama juga kita tak pernah lagi menyaksikan satu artikel panjang yang ditulis secara serius yang membahas hanya satu karya utama sebagaimana yang pernah dilakukan Sindhunata atas Berburu Celeng karya Djoko Pekik. Karya itu ditinjau dari berbagai arah; dari sejarah hingga proses kreatif membuatnya; dari harga hingga konteks politik semasa. Beruntunglah Djoko Pekik, karya yang dibuatnya dengan susah payah itu mendapat apresiasi yang layak dari seorang pemerhati seni. Tapi, seberapa banyak seniman yang mendapatkan karya hasil ikhtiar kreativitas terbaiknya memperoleh apresiasi mendalam dan tidak hanya tersebutkan dalam satu atau dua paragraf di esai atau reportase media massa.

Tepat saat Indonesia Idea kalah dalam pengeroyokan publik tanpa pembelaan yang berarti, kita menjadi tahu satu hal, karya si seniman memang tak punya garansi apa pun untuk mendapat pembelaan oleh ekosistem seni rupa itu sendiri; bukan hanya para pemikir seni rupa, akademisi, bahkan komunitas-komunitas yang hidup dari rezeki seni rupa itu sendiri.



Kita tiba-tiba menjadi ragu –pinjam nama lukisan Galam Zulkifli tersebut–, masih hidupkah sebetulnya ide keindonesiaan itu; terutama sekali ide seni rupa yang mengejawantah di bawah warna-warna visual dalam bingkai karya seni rupa tersebut. Jika masih ada, ide itu bergerak di mana; jika istirahat, ide itu tidur di mana; dan jika sakit, ide itu dirawat di bangsal nomor berapa di rumah sakit mana.

Saya memang masygul, menyaksikan 40 karya seni yang dipajang di perhelatan Biennale ”Equator” Jogja lewat begitu saja dalam kesepian yang teramat-amat. Karya yang didominasi seni media baru yang berupa video dan instalasi di Jogja National Museum (JNM), Jogjakarta, itu tidak hanya kehilangan penonton, kelesuan perhatian seniman, tapi juga berlalu dengan statistik catatan yang tak pernah naik. Tema biennale dibahas sedemikian rupa secara maksi, tapi umumnya tanpa mengikutsertakan (karya) para perupanya.

Padahal, Bung dan Nona tahu jua, ide dan segala harapan yang cerlang dan lindap ada dalam karya-karya mereka itu. Lain tidak.

Dalam karya-karya itulah perupa mengekspresikan gagasannya. Ide (ID) perupa ada dalam karya tersebut. Dalam karya itu, perupa melakukan kerja ID sehabis-habisnya, semampu-mampunya. Menangkap dan meng(n)hikmati ide perupa itu, dengan demikian, mestilah melihat dari dekat dan dekat sekali karya itu. Karya tersebut tak bisa hanya dilihat sekilas, klik, unggah di Instagram tanpa keterangan, setelah itu lepas. Ada sejarah pikiran di balik lapisan warna, ada sejumlah kesakitan hidup di balik sejumlah pilihan bahan. Seperti itulah, antara lain, seniman bersiasat dengan kehidupan.

Betul, ide seni rupa Indonesia ada sebagaimana di sigi buku yang terbit dengan segala ambisinya, Seni Rupa Indonesia (2012). Buku itu berisi (esai) sejarah panjang pergulatan ide seni rupa yang lebih membahas ekosistem seni rupa dalam kaca benggala yang besar dengan berbagai aliran dan politik yang mengitarinya.

Betul, ada buku Seni Rupa Kita (2015) yang mengupas dengan renyah apa itu seni, bagaimana ide seni muncul, dan seperti apa wujud ekosistem seni rupa bekerja.

Makin ke sini, yang kita jumpai adalah katalog-katalog pameran dan makin memiuhnya karya dibahas. Di dunia akademik, latihan dasar ”penulisan seni rupa”, yakni menulis resensi karya secara ”baik dan benar”, juga makin tidak diminati –atau tidak ingin dikatakan mati suri. Yang digeber-geber dan masuk studi serius adalah bagaimana mengelola pameran (seni rupa) nir peninjauan karya. Kita tak terbiasa lagi untuk berhenti lebih lama pada sebuah karya, mencerna lebih dalam kedalaman lapis warnanya, dan pada akhirnya menjangkau ide seperti apa yang disodorkan seniman si subjek ide seni rupa itu.

Meresensi suatu karya –seperti halnya dengan meresensi buku– merupakan pintu masuk paling dasar dan sederhana, tapi penting, untuk memasuki dan mengenal ide seniman. Juga, kita tahu bahwa jalan penawaran ide kepada masyarakat itu bukanlah jalan yang murah. Seperti halnya dengan jalan para penyair atau penulis prosa yang mewakafkan hidup mereka untuk men-cauk intisari kata-kata lewat pertaruhan hidup yang hanya sekali itu, seorang perupa juga melakukan pengorbanan yang sama besarnya demi butiran ide rupa yang ditawarkan. Jika para penulis mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk melakukan riset demi menghasilkan karya, para perupa lebih besar lagi; bukan hanya dana riset, tapi juga biaya bahan yang luar biasa mahal.

Menurut saya, jalan paling awal adalah mendengarkan dari dekat sekali dan menangkap ide-ide yang coba ditawarkan seorang seniman dari setiap karya yang mereka kerjakan. Dalam setiap karya, menyembul sejumlah ide. Di setiap festival atau pameran besar, ide-ide itu biasanya menguap saja bersama pengalaman kesepian sang seniman saat bekerja demikian intens bersama warna di malam-malam yang panjang, berkeringat, dan melelahkan.

Dalam pameran besar dengan sejumlah nama, umumnya yang menonjol dan didengar pendapatnya adalah para kurator, penulis, atau pembicara. Kita tak lagi melihat seniman dan karyanya diletakkan di titik-dekat, zoom in, dan menjadi subjek terpenting untuk didengarkan saat mereka membaca serta merespons dunia di mana mereka menjalani hidup dan berpikir.

Pada akhirnya, karya di ”zaman now” hanya menjadi latar warna untuk berpose. Jika pun ada harapan, satu-satunya ihwal yang menolong dengan tesertakannya nama perupa dan penjelasan setengah halaman kuarto karya adalah buku katalog yang disusun pemilik perhelatan. Selain itu, tak ada.

Oh, jika pun ada, hanya segelintir orang yang mengambil kuliah pascasarjana pengkajian seni. Tapi, jumlah mereka sama sekali tak signifikan dengan produksi karya seni rupa yang berjubel-jubel. Lebih sial lagi, di jumlah sedikit itu, karya kajian seni mereka umumnya terlempar dalam tumpukan ”karya ilmiah” di perpustakaan kampus, menunggu dilego para pengepul skripsi. (*)


(*Pendiri @radiobuku dan @warungarsip di Jogjakarta)