Jangan Sampai Kemandirian Itu Hilang

Milad Ke-107 Muhammadiyah: Jangan Sampai Kemandirian Itu Hilang

SAYA masih anggota Muhammadiyah. Sempat diberi amanah memimpin organisasi besar ini selama dua periode berturut-turut, mulai 2005 sampai 2015. Sekarang menjabat ketua Ranting Pimpinan Muhammadiyah Pondok Labu. Tempat saya tinggal.

Jadi, saya ini lurahnya Muhammadiyah. Lurah yang sempat jadi presiden.

Saya berharap organisasi ini tetap eksis menampilkan kiprahnya yang bermanfaat bagi umat manusia, tidak hanya umat Islam. Sejalan dengan misi rahmatan lil alamin. Alhamdulillah, sejauh ini Muhammadiyah terus-menerus meningkatkan kualitas gerakannya dan dalam bentuk lembaga-lembaga yang nyata yang disebut amal usaha. Sesuatu yang patut disyukuri.

Karena itu, Muhammadiyah harus terus mengukuhkan dirinya sebagai gerakan masyarakat madani. Menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah. Karena Muhammadiyah punya prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Selain bekerja membangun amal usaha, tidak boleh terlibat dalam politik perebutan kekuasaan. Maka, Muhammadiyah sebenarnya tidak peduli apakah ada anggotanya yang jadi menteri, menjabat ini atau itu. Silakan menjabat, tapi kadang-kadang kalau diberi jabatan juga kalau merasa tidak cocok, ya bisa saja mundur. Itulah yang positif dari Muhammadiyah.

Muhammadiyah jangan sampai kehilangan peran vital sebagai mitra kritis pemerintah. Dalam bentuk beramal ma’ruf dan ber-nahi munkar di tengah satu suasana termasuk terakhir ini. Di mana kekuatan-kekuatan sosial politik kita secara umum banyak yang tiarap. Banyak yang tidak lagi efektif. Karena sibuk berlomba-lomba merebut posisi strategis. Dan bahkan ketika ada pemilihan pimpinan partai politik, malah berlomba-lomba meminta dukungan terhadap pemerintah. Pada presiden. Ini gejala tidak positif. Seharusnya partai politik menjadi agen perubahan. Nggak bisa jadi agen perubahan kalau dia tidak kritis.

Maka, harapan kita bertumpu pada ormas sebagai civil society organization, sebagai masyarakat madani yang memang usianya lebih tua dari negara dan peran kesejahteraannya lebih nyata untuk pembentukan karakter bangsa. Nah, ormas-ormas ini, atau disebut masyarakat madani ini, jangan sampai kehilangan elan vital sebagai ormas. Yakni, kemandirian.

Kalau saya ditanya tentang Muhammadiyah, alhamdulillah Muhammadiyah relatif punya kemandirian. Pesan saya sebagai pimpinan paling bawah, berkali-kali saya sampaikan, jangan sampai kehilangan kemandirian. Tetap, Muhammadiyah harus jadi mitra pemerintah. Bukan semata untuk politik kekuasaan.

Muktamar terakhir Muhammadiyah melahirkan keputusan, negara Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Negara kesepakatan dan negara pembuktian. Mengakui pemerintahan yang sah, berdasarkan hasil pemilu yang sah, berdasarkan demokrasi, berdasarkan konstitusi. Namun, tidak kehilangan daya kritis kalau pemerintah salah.

Apalagi, saat ini kita menghadapi gejala deviasi, distorsi, dan disorientasi kehidupan nasional kita dari nilai-nilai dasar-dasar Pancasila dan UUD 1945. Selama ini kan kita terjebak pada klaim sepihak, subjektif, dan cenderung monopolistik dan manipulatif terhadap Pancasila.

Bicaranya Pancasila, namun kita mengembangkan sistem politik yang jauh bertentangan dari sila keempat. Kita mengembangkan praktik ekonomi yang jauh menyimpang dari amanat Pancasila sila kelima. Ini penyimpangan terhadap Pancasila.

Maka, radikalisme, ekstremisme memang ditolak oleh agama-agama. Apalagi Islam yang menegakkan jalan tengah dan moderasi. Tapi, saya terusik dengan ketidakadilan kalau melihat radikalisme itu hanya seolah bermotif keagamaan belaka. Mohon para pemangku amanat elite politik untuk melihat pula, ada radikalisme yang tidak kalah berbahayanya. Yaitu, radikalisme yang sekuler dan liberal. Radikalisme yang berimpit dengan sekuler dan liberalisme. Itulah yang justru merasuki sistem kenegaraan kita.

Radikalisme sekuler liberal telah merasuki sistem politik kita, merasuki sistem ekonomi kita, sehingga tidak menghasilkan keadilan sosial. Tolong ini juga dilihat sebagai radikalisme yang nyata.

*) Ketua umum PP Muhammadiyah 2005–2015

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Taufiqurrahman