Kaya, Miskin, dan Parasite

PARASITE panen pujian dan penghargaan internasional. Sejak Mei 2019, film berbahasa Korea itu tercatat telah memperoleh penghargaan Palme d’Or dalam Cannes Film Festival. Lalu, pada awal 2020, film karya sutradara Bong Joon-ho itu berturut-turut dinobatkan sebagai film berbahasa asing terbaik di Golden Globe 2020 dan memperoleh penghargaan tertinggi Best Ensemble dari Screen Actors Guild (SAG) Awards 2020.

Prestasi itu bisa dipuncaki Parasite di perhelatan Academy Awards nanti. Film yang diproduksi selama 77 hari tersebut juga mendapat enam nominasi Oscars.

Apa yang membuat Parasite begitu menarik? Tentu saja, selain didukung tata sinematografis yang begitu indah, akting aktor kawakan seperti Song Kang-ho yang memukau, serta skenario film yang solid, film tersebut menampilkan tema naratif yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Yaitu, pertentangan kelas antara si kaya dan si miskin.

Karena itu, kendati film tersebut dituturkan dalam bahasa Korea, cerita yang ingin disampaikan Parasite terasa begitu familier bagi penonton yang berasal dari belahan negara lain. Di luar pembicaraan mengenai ideologi ekonomi dan politik, persoalan mengenai pertentangan kelas itu sebenarnya telah jauh dipahami secara kultural oleh manusia.

Menurut Zygmunt Bauman (1982), pertentangan kelas itu cenderung hidup lebih lama daripada konfigurasi historis yang melahirkan dan membesarkannya.

Jejaring Parasit

Meski begitu, tema naratif dalam Parasite tetap perlu menempatkan pertentangan kelas itu dalam sebuah jejaring relasi kuasa antara si kaya, yang diwakili keluarga Park, dan si miskin, yang diwakili keluarga Kim serta pasangan Mun-gwang dan Geun-se.

Sebagai jejaring, relasi kuasa itu tidak bersifat satu arah, tapi bersifat resiprok atau timbal balik. Dalam jejaring itu, terjadi konflik kepentingan di antara tiga keluarga tersebut. Dalam hal ini, secara metaforis, Bong Joon-ho mendudukkan ruang keluarga Park sebagai pusat konflik kepentingan bagi ketiga keluarga yang dimaksud.

Bagi keluarga Park, ruang keluarga menjadi tempat mereka bercengkerama untuk menikmati kenyamanan dan kepuasan, baik material maupun seksual. Bagi keluarga Kim, ruang keluarga Park dibayangkan sebagai tempat mereka memandang masa depan yang lebih baik. Tak seperti ruang keluarga mereka yang sejajar dengan gorong-gorong kota yang kumuh dan jorok.

Sementara itu, bagi pasangan Mun-gwang dan Geun-se, ruang keluarga Park diidamkan sebagai tempat mereka dapat menikmati kebebasan yang sejati, lepas dari masalah finansial dan kejaran para penagih utang. Dari ruang keluarga itu, mereka semua bisa memandang taman yang indah, sebuah metafora yang menarik mengenai situasi hidup yang lebih segar dan menjanjikan.

Untuk mencapai situasi hidup yang demikian, tiga pihak itu berusaha saling memanipulasi, memanfaatkan, dan menguasai. Mereka seolah-olah menjadi parasit bagi yang lain.

Keluarga Kim memanfaatkan keluarga Park agar mereka dapat memperoleh pekerjaan. Namun, keluarga Kim lupa bahwa dengan gaji yang mereka peroleh, keluarga Park juga bisa menguasai dan memerintah mereka sekehendak hati.

Hal serupa terjadi pada Mun-gwang, yang pernah menjadi pengurus rumah tangga. Selama bertahun-tahun dia bekerja untuk melayani keluarga Park agar tetap dipercaya sebagai pengurus rumah tangga di rumah itu. Sehingga dia secara sembunyi-sembunyi dapat merawat Geun-se, suaminya yang tinggal di ruang bawah tanah.

Namun, kerja keras dan pengabdian yang dia berikan justru diganjar dengan gaji yang begitu kecil. Bahkan diakhiri dengan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan keluarga Park secara sepihak.

Dalam film tersebut, Bong Joon-ho ingin menunjukkan bahwa sifat parasit yang ditampilkan tiga keluarga itu menjadi cermin kondisi masyarakat modern saat ini. Bagaimana sifat parasit itu ditampilkan para tokoh cerita digambarkan Bong Joon Ho dalam bentuk komedi.

Namun, di pengujung cerita, secara mengejutkan, komedi itu berubah menjadi tragedi yang menyeramkan ketika Geun-se yang dibakar dendam menikam anak perempuan Kim dan Kim menghunjamkan pisau ke dada tuannya, Park, di taman yang indah. Tragedi itu tidak hanya menghilangkan nyawa, tetapi sekaligus mengandaskan dan mengubur cita-cita tiga keluarga tersebut.

Pembacaan Ulang Sinema Asia

Tidak dapat dimungkiri bahwa pujian dan penghargaan yang diperoleh Parasite tidak hanya mengorbitkan Bong Joon-ho sebagai salah satu sutradara masa depan, tetapi juga mengangkat industri perfilman Korea di kancah global. Bagi para sineas Asia, prestasi yang diperoleh Parasite itu seolah menjadi sinyal yang sangat kuat bahwa sinema Asia tampaknya sedang diminati industri perfilman global.

Sayangnya, sampai saat ini film-film yang dihasilkan negara-negara Asia belum begitu banyak berbicara di kancah internasional. Sebab, masih didera sindrom inferiority complex, minder untuk bersaing dengan film-film Barat.

Akibatnya, film-film yang diproduksi hanya berkubang pada genre yang itu-itu saja. Hal apakah yang dapat dilakukan para sineas Asia agar film-film yang mereka produksi bisa memiliki nasib sebaik Parasite?

Setidaknya, ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, para sineas Asia harus berani membaca dan mendefinisikan ulang eksistensi sinema Asia berdasar konteks sosial, ekonomi, politik, dan kultural tiap-tiap negara. Bukan berdasar definisi yang pernah dibuat industri perfilman Barat.

Menurut Stephen Teo (2013), pembacaan dan pendefinisian ulang itu mutlak dilakukan karena sinema Asia begitu luas dan beragam yang meliput gaya (style), ruang (spaces), dan teori (theory). Dengan begitu, para sineas Asia juga mampu menemukan kembali wajah Asia dalam emosi dan pengalaman masyarakatnya. Dalam hal ini, Parasite secara jujur menampilkan bahwa pertentangan kelas di dalam masyarakat Asia pada era kapitalisme sungguh nyata.

Kedua, sebelum menjadikan film-film yang diproduksi sebagai bagian dari sinema Asia atau sinema dunia, para sineas harus terlebih dahulu menjadikan film-film itu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Artinya, film-film itu tidak hanya dinilai secara kuantitatif sebagai box office yang sanggup mengumpulkan banyak penonton.

Namun, film-film tersebut juga secara kualitatif harus menjadi simbol nilai-nilai yang dipercaya dan diperjuangkan masyarakat. Kendati menyingkapkan sejumlah nilai universal, Parasite tetap bergeming untuk menampilkan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat Korea. Entah berupa mitos, entah berupa bahasa di tengah dunia yang semakin berlari dengan cepat. (*)

*) Dosen Universitas Pelita Harapan Karawaci; penulis buku Atas Nama Dendam! Wajah Narasi Film Laga Indonesia