Kecelakaan Konstruksi Bisa Dipidana

Dari foto dan video yang beredar, kelihatannya yang roboh adalah pier head atau kepala kolom yang sedang dicor beton. Atau baru saja selesai. Terlihat jelas betonnya belum mengeras. Hal itu bisa terjadi karena struktur cetakan beton yang tidak kuat menahan beban sehingga roboh.

Tidak kuatnya cetakan beton bisa terjadi karena dari perhitungan memang tidak kuat atau pemasangan cetakan/bekisting yang tidak sesuai dengan desain. Sebagian kecelakaan konstruksi memang disebabkan faktor manusia. Bukan disebabkan faktor alam. Sebab, faktor alam seharusnya sudah diperhitungkan dalam desain dan pelaksanaan. Faktor manusia itu juga termasuk faktor kekurangan tenaga atau kelelahan.

Pier head atau kepala kolom Tol Becakayu yang sedang dicor beton ambruk
(DERY RIDWANSAH/JAWA POS)

Saya menilai keputusan pemerintah untuk menghentikan seluruh proyek pekerjaan elevated sudah bagus. Itu bisa jadi upaya untuk menghindari kecelakaan lanjutan. Sangat mungkin elemen struktur lain direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang sama. Sehingga besar kemungkinan kecelakaan sejenis bisa terjadi lagi.



Yang kemudian menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana kecelakaan-kecelakaan tersebut dianalisis dengan lebih mendalam dan lengkap. Yang paling penting lagi adalah pemberian sanksi bagi pihak yang terbukti bersalah. Maksudnya bukan sekadar sanksi administratif. Tapi juga sanksi yang memberikan efek jera agar tidak terjadi insiden serupa.

Dengan sanksi tegas, para pelaku bidang konstruksi dan infrastruktur dapat lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas profesional mereka. Idealnya, sanksi dikembalikan kepada hukum yang berlaku. Apakah ada faktor kesengajaan, keteledoran, atau lainnya. Kalau terbukti sudah keterlaluan, minimal berikan sanksi yang berupa suspend sementara sampai dinilai layak oleh yang berwenang.

Kalau kontraktor yang bersalah, maka kontraktor itu juga harus bertanggung jawab. Jangan cuma dilemparkan kepada pekerja lapangan. Apalagi kalau ternyata ditemukan adanya usaha-usaha pengurangan mutu dan kuantitas pekerjaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Di Prancis, pemerintahnya sudah memberlakukan hukuman pidana untuk kecelakaan konstruksi. Kadang-kadang dakwaannya pun mengerikan. Ada pihak-pihak yang didakwa dengan pembunuhan berencana karena kasus kecelakaan konstruksi. Mereka dikenai sanksi kurungan dan tentu denda yang besar.

Di Prancis, kasus kecelakaan konstruksi ditangani dengan sangat serius. Tahun lalu baru saja ada sebuah kasus kecelakaan yang selesai disidangkan. Padahal, kasusnya terjadi 13 tahun lalu. Namun, penyelidikannya tidak berhenti. Di Indonesia, hal itu tidak dilakukan. Makanya, kecelakaan terus berulang. Mereka malas dan tidak mau belajar. Toh, tidak akan ada sanksi.

Dengan masifnya pembangunan infrastruktur, rasanya Indonesia sudah saatnya untuk memikirkan dan mulai mengimplementasikan dengan serius sanksi hukum untuk pihak-pihak yang terlibat dalam kecelakaan konstruksi yang menimbulkan korban jiwa. Jangan terus bersembunyi di balik fenomena alam, crash program, atau yang lainnya. Contohlah negara-negara yang sudah maju.

Ditulis oleh:

Prof Dr Ir Herlien Dwiarti Soemari Pakar Rekayasa Struktur ITB


(and/c11/ang)