Kegenitan Akademisi

JawaPos.com – Ketika pihak redaktur opini meminta tulisan saya direvisi, saya bisa memahami karena bahasa surat kabar berbeda dengan jurnal akademik. Namun, pendapat koran juga mengandaikan gagasan yang berdasar pada teori, variabel, data, metodo­logi, dan kesimpulan.

Namun, sebagai pengulas (reviewer) sebuah artikel, saya menemukan kecenderungan si penulis untuk menggunakan bahasa asing seperti Inggris dan Arab dalam mengurai sebuah karangan ilmiah. Padahal, kata-kata yang diketengahkan tidak mengandaikan istilah teknis, teori, atau kata kunci sehingga bisa diungkapkan dalam bahasa utama. Sebab, jurnal yang bersangkutan tidak diterbitkan di Amerika atau Arab Saudi.

Tentu penggunaan bahasa Inggris sepenuhnya bisa dilakukan dalam penulisan abstrak. Sebab, ia bisa menjadi akses kepada pembaca yang lebih luas.

Sejatinya, tema yang ditulis dosen di perguruan tinggi negeri itu penting dan layak dibaca, yakni isu syair agama dalam bahasa Jawa yang berpesan tentang penolakan terhadap fanatisme. Tanpa harus disampaikan dalam bahasa populer, tulisan itu bisa disusun dalam bahasa baku tanpa mengurangi kejituan, kebernasan, dan mutu.

Kata taken for granted, misalnya, yang sering ditemukan dalam tulisan serupa, bisa dihindari dengan menyebut dipahami begitu saja. Padahal, kata itu hanya menunjukkan bahwa pemahaman harfiah itu tak sepatutnya dijadikan pegangan.

Selanjutnya, saya menemukan begitu banyak bahasa Inggris dan sedikit bahasa Arab dalam tubuh tulisan. Kata an sich sering digunakan untuk itu sendiri. Yang menjadi istilah penting dalam filsafat, ding an sich yang berarti thing-in-itself atau nomena, lawan fenomena.

Kalau an sich semata-mata, ia tidak menggambarkan neologisme yang dijelaskan oleh Immanuel Kant tentang realitas. Untuk itu, kata tersebut tak perlu dijadikan kata pemanis karena ia tidak menambah makna baru terhadap lema sebelumnya.

Kata lain yang juga ditemukan adalah truth claim. Padahal, kata majemuk itu bisa ditulis dengan tuntutan kebenaran. Siapa pun tak perlu berlindung pada aturan penyerapan kata asing dengan hanya dicetak miring. Sebab, kamus telah menyediakan padanannya.

Malah, tanpa beban penulis menyebut sacred violence tanpa menyertakan sinonim. Padahal, ia tidak menghasilkan karya berbahasa asing. Menariknya, dalam bahasa sendiri, secara gegabah pengajar tersebut menerakan budaya lokalitas setempat. Kegagalan memahami kata lokal yang diserap dari local menyebabkan lewah karena setempat berarti lokalitas.

Menariknya, kata fungsi sosial diikuti dengan social function, yang hendak menyampaikan bahwa syair yang dibacakan itu bisa merekatkan hubungan sosial karena dibaca secara bersama-sama dan berfungsi sebagai perekat anggota masyarakat.

Malah kata keaslian diikuti dengan persamaannya dalam bahasa nasional yang diserap dari bahasa lain. Meskipun ditulis secara keliru (otentitas), yang semestinya otentisitas. Sementara itu, contoh lain adalah roh kemanusiaan yang diikuti dengan ruh al-insaniyyah sebagai bentuk ketidaksadaran orang ramai bahwa bahasa Arab membawa pesan yang jauh lebih utuh terkait dengan religiusitas. Dengan kata lain, keabsahan wacana keagamaan ditandai dengan seberapa banyak kata dari rumpun semitik itu diletakkan dalam kertas kerja.

Justru tantangan terbesar akademisi adalah menghadirkan bahasa kebangsaan sebagai alat menyampaikan gagasan. Mengingat bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna, kesan ilmiah tidak dilihat dari seberapa banyak kata asing diterakan. 

*) Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (*)