Keniscayaan Mobil Listrik

Yang terakhir, PLN bakal melakukan penyederhanaan penggolongan golongan listrik nonsubsidi bahwa golongan 1.300–4.400 VA dikelompokkan menjadi satu dan ditingkatkan menjadi 5.500 VA. Meski tujuan awalnya untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong produktivitas masyarakat, penyederhanaan tersebut juga akan memudahkan penggunaan alat-alat listrik, termasuk mobil listrik.

Mobil listrik menggerakkan mobil dari energi kimia yang terkandung di dalam baterai. Selama pelepasan beban (discharging), terjadi konversi dari energi kimia menjadi energi listrik, lalu dikonversi lebih lanjut menjadi energi gerak oleh motor listrik. Untuk memenuhi kebutuhan energi sebuah mobil roda empat, biasanya diperlukan ratusan cell baterai.

Jika dibandingkan dengan mobil BBM, mobil listrik memiliki beberapa keunggulan. Pertama, mobil listrik dengan teknologi mutakhir mampu mengubah hingga 80 persen dari energi listrik yang disedot baterai menjadi energi untuk menggerakkan mobil. Sementara itu, mobil BBM hanya bisa memanfaatkan sekitar 30 persen dari energi BBM.

Jadi, mobil listrik mempunyai efisiensi hampir tiga kali lebih tinggi. Harga satuan energi listrik umumnya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga satuan energi BBM. Dengan berpatokan harga listrik nonsubsidi pada golongan 1.300–4.400 VA sebesar Rp 1.467,28/kWh dan harga bensin pertamax Rp 8.250,00/liter, melalui beberapa perhitungan konversi satuan, harga listrik sekitar 40 persen lebih mahal ketimbang harga BBM. Sementara itu, di AS listrik hanya sekitar 10 persen lebih mahal jika dibandingkan dengan harga BBM.



Kedua, hampir tidak adanya emisi yang diciptakan oleh mobil listrik. Sementara itu, mobil BBM yang menghasilkan energi gerak lewat pembakaran mengeluarkan berbagai gas emisi, misalnya CO2, NOx, partikulat, dan CH4. CO2 dari mobil BBM dan proses industri berkontribusi 65 persen dari total gas efek rumah kaca di atmosfer bumi (sumber: IPCC).

Ketiga, rendahnya biaya perawatan mobil. Mobil listrik mempunyai lebih sedikit komponen yang berputar dan hampir tidak memerlukan minyak pelumas. Sementara itu, bergantung kepada kondisi jalan dan perilaku pengguna mobil BBM, umumnya minyak pelumas harus diganti setiap 4.800–8.000 km.

Tantangan
Meskipun memiliki sederet kelebihan, market share mobil listrik dunia saat ini masih di bawah 1 persen. Tantangan utama mobil listrik adalah harganya yang masih mahal. Berikutnya adalah lama pengisian baterai dan kapasitas baterai. Untuk mengisi penuh baterai umumnya diperlukan lebih dari 2 jam. Pengisian metode cepat (fast charging) bisa dilakukan, tetapi bisa mengurangi umur baterai.

Ketersediaan stasiun penyedia listrik umum (SPLU) untuk mengisi baterai juga masih terbatas. Per Agustus 2017, PLN telah menyediakan 875 SPLU yang bersebar di beberapa kota. Di antara jumlah tersebut, 542 unit SPLU ada di Jakarta.

Tantangan terakhir adalah masalah keselamatan. Kita mungkin pernah mendengar baterai telepon seluler meledak. Fenomena tersebut bisa juga terjadi pada baterai mobil listrik dan efeknya jauh lebih besar karena kapasitas baterainya lebih besar pula. Ledakan tersebut timbul dari panas yang tidak terkontrol (thermal runaway) di dalam baterai. Untuk mencegahnya, baterai harus dilengkapi dengan sistem pendingin yang baik.

Prospek
Masa depan mobil listrik bergantung kepada seberapa berhasil kita mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Riset dan pengembangan baterai telah dan sedang dilakukan secara masif beberapa tahun terakhir ini, baik oleh industri otomotif mobil BBM (misalnya, GM, Toyota, dan BMW) maupun industri mobil listrik (seperti Tesla). Dalam sepuluh tahun terakhir, harga baterai yang merupakan komponen utama turun secara signifikan sekitar 75 persen (sumber: IEA Global). Di AS diperkirakan harga mobil listrik akan kompetitif jika harga baterai berada pada kisaran USD 100/kWh dan tampaknya bisa dicapai beberapa tahun lagi. Untuk masalah kapasitas, beberapa baterai sudah mampu menggerakan mobil di atas 350 km, seperti baterai mobil Chevy Bolt.

Kebijakan global dalam soal emisi bisa juga menjadi penentu utama berkembangnya mobil listrik. Jika target emisi yang ditetapkan sudah tidak mampu dipenuhi oleh mobil BBM, aka mobil listrik menjadi pilihannya. Tetapi, perlu diingat bahwa dalam upaya mengurangi emisi bumi dengan mobil listrik, analisis sistemnya harus dilakukan dengan melibatkan sumber pembangkit listrik (well-to-wheel analysis). Selama pembangkit listriknya menggunakan batu bara, emisi bumi secara keseluruhan akan lebih buruk. Itu terjadi karena pembangkit listrik dengan menggunakan batu bara menghasilkan total emisi yang tinggi ke bumi.

Industri mobil listrik masih dalam tahap kelahiran. Rasanya tidak akan terlambat jika kita ikut terlibat dalam hajatan itu sehingga bisa memperoleh hasil maksimal Melihat ke belakang tentang pembuatan mobil BBM, selama ini hampir semua komponen mobil sudah bisa dikuasai dan dibuat di Indonesia, kecuali bagian mesin. Untuk mobil listrik, komponen mesinnya diganti oleh baterai dan motor listrik.

Pada tahap awal, industri mobil listrik di Indonesia bisa bekerja sama dengan supplier baterai, misalnya LG dan Panasonic, untuk menyuplai kebutuhan tersebut dibarengi dengan transfer teknologi. Bahkan, raksasa industri otomotif seperti GM pun tidak membuat baterai sendiri. Tetapi, mereka disuplai oleh perusahaan ketiga. Industri mobil listrik diperkirakan terus berkembang dan semoga Indonesia ikut berperan di dalamnya. (*)


(*Principal engineer di Southwest Research Institute, Texas, Amerika Serikat)