Keteladanan Lima Perwira

Sikap luhur lima perwira tersebut tampak saat menolak kenaikan pangkat setelah sukses memimpin operasi itu. Kelimanya tak mengambil jatah naik pangkat meski 57 anak buah mereka naik pangkat istimewa. Pengorbanan mereka yang menyabung nyawa tak sebanding dengan para koruptor yang bisanya mengerat kantong rakyat. Begitu pun setelah ketahuan, malah merepotkan karena maunya tak bertanggung jawab.

Kalau biasanya anak buah gampang dikorbankan, lima perwira tersebut menyatakan: keberhasilan milik anak buah, kegagalan milik komandan. Alangkah langka sikap seperti itu. Yang kerap dipertontonkan justru pimpinannya sibuk berkelit, kalau perlu pakai jurus pura-pura, demi menyelamatkan diri dari kejahatan sendiri. Bila ada kesempatan, anak buah dikorbankan sambil berlagak lupa atau tidak ingat.

Keteladanan lima perwira yang berjuang di tengah hutan Papua itu bisa menjadi oase. Kelak akan dikenang, ada lima prajurit kita yang punya sikap keperwiraan yang gagah. Semoga sikap seperti itu terbawa ketika kelak mereka memperoleh posisi jadi pemimpin yang lebih tinggi. Bangsa ini membutuhkan jiwa kepemimpinan yang kesatria seperti itu.

Yang penting dicatat juga kecermatan mereka dalam membebaskan sandera. Tak langsung dar-der-dor adu senjata, tapi juga memperhitungkan dengan cermat keselamatan rakyat yang tersandera hampir sebulan itu. Dan, alhamdulillah, tak ada korban jiwa. Ini seperti cermin jernih: jangan gampang mengorbankan rakyat. Keberhasilan justru harus demi rakyat itu sendiri. Hormat, grak!.




(*)