Ketika Panglima Penyuka Keindahan

Hari itu, saya ngobrol cukup lama dengan Mayjen TNI Tri Yuniarto, S.AP, M.Si, M.Tr (Han). Hampir tiga jam. Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari itu belum setahun menjabat. Tepatnya baru delapan bulan. Tapi, dia mampu membuat perubahan di markasnya, dan di lingkungan markasnya. Jadi lebih indah. Jadi lebih tertib. Jadi lebih tertata. Jadi lebih lengkap.

Dan yang lebih kelihatan, setidaknya jika dilihat dari pinggir jalan, di depan markas Divisi Infanteri 2 Kostrad Singosari itu, terdapat videotron. Di videotron itulah, berbagai kegiatan di lingkungan Divisi Infanteri 2 Kostrad dipublikasikan kepada masyarakat. ”Saya ingin, setiap orang yang melintas di depan markas kami punya tanda. Jadi, setiap kali lihat videotron, ooo…ini markasnya divisi. Sehingga mudah diingat,” kata Tri, ketika saya temui di ruang kerjanya.

Saya lantas diajak berkeliling ke markasnya. Diajak melihat-lihat ke setiap ruangan di dalam markas. Saya pernah melihat-lihat ruangan itu di era panglima-panglima sebelumnya. Saya melihat yang berbeda hari itu dengan sebelumnya adalah kondisi interior di setiap ruangan yang sudah dibikin lebih indah dan kekinian. Meja-meja dan kursi sudah dipermak ulang. Kayak bukan di markasnya tentara.



Foto-foto para panglima yang pernah bertugas di Divisi Infanteri 2 Kostrad Singosari diperbaiki bingkainya. Lebih elegan. Ukurannya pun dibikin sama.

”Di sini, kita buka semua. Yang sudah tertib, lebih ditertibkan lagi. Misalnya di gudang senjata, harus ada apa saja. Gudang amunisi, garasi, kita tata semua. Termasuk kalau ada yang ingin buka ruangan saya, silakan,” kata pria 51 tahun itu.

Yang menarik adalah suasana di halaman markas.  Divisi Infanteri 2 Kostrad berdiri di atas lahan 38,47 hektare. Begitu kami berada di halaman markas, sejauh mata memandang, tampak terlihat jalanan aspal yang kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Aspal hotmix. ”Kalau rusak kita sudah tidak pake semen untuk menambal. Ini langsung diaspal hotmix,” cerita Tri. Pinggiran aspal, yang berwarna hitam-putih semuanya dikeramik. ”Agar kalau kotor, bisa langsung dilap (dibersihkan),” tambahnya.

Tampak di pinggir kanan-kiri jalanan beraspal di lingkungan markas, dibikin taman dengan tanaman pucuk merah. Tanaman pucuk merah itu diletakkan dalam pot yang ditata begitu rapi. ”Saya beli 200 pot, semuanya ditanami pucuk merah. Ini agar nuansanya tidak selalu hijau,” lanjut lulusan terbaik Akmil 1989 ini, sambil mengajak kami terus menyusuri sudut-sudut markas.

Saya melihat, deretan parkir motor milik para prajurit tertata rapi. Semua menghadap ke arah yang sama. Di antara pohon-pohon di areal halaman, di dekat lapangan utama markas, dipasangi tali. ”Ini tujuannya agar tidak ada motor yang seenaknya menyeberang melintasi areal rerumputan,” kata Tri, yang hari itu ditemani istrinya, Ny Endang Nuriayani S.E. ”Semua diatur, agar tertib, dan supaya lebih nyaman.

Taman-taman itu diberi tanaman agar terlihat lebih indah,” katanya. ”Kalau ada yang teriak jiwa ragaku demi Merah Putih, tapi buang sampah nggak pada tempatnya, ini menurut saya nggak ada artinya. Disiplin itu harus diterapkan mulai dari hal yang paling kecil. Karena disiplin adalah modal dasar untuk keberhasilan di pertempuran.”

Untuk mengontrol kebersihan, kerapian, dan ketertiban lingkungan markas, Tri menugaskan kepada beberapa stafnya yang telah dia tunjuk bertanggung jawab di setiap sektor. Di markas itu ada empat kesatuan. Denma, satuan perhubungan, peralatan dan ajudan jenderal. ”Masing-masing penanggung jawab sektor setiap hari harus melaporkan kondisi sektornya masing-masing di grup WhatsApp.

Saya memantau dari grup WA. Sesekali saya turun untuk ngecek secara langsung,” kata bapak dua anak ini.  Dia lantas mencontohkan tempat sampah yang baru dibikin yang  terbuat dari drum. ”Saya bikin 100 drum. Dan setiap drum dikasih nomor. Ada penanggungjawabnya. Jadi, kalau ada yang rusak, langsung ketahuan siapa yang harus bertanggung jawab.”

Jujur, saya baru kali ini, bertemu jenderal yang sampai begitu detailnya ngurusi hal-hal yang mungkin bagi banyak orang dianggap sepele.

Dari jalan-jalan ke halaman, lapangan hingga areal pertamanan di lingkungan markas, kami lantas diajak mengunjungi beberapa ruangan pertemuan dan hall yang sudah didesain ulang interiornya.

Mulai dari pintu, atap, hingga dinding. Yang menarik, pada dinding-dinding ruangan itu, dipasang foto-foto alutsista (alat utama sistem pertahanan), yang kebanyakan berupa kendaraan tempur. ”Foto-foto (alutsista) yang dipasang ini kita punya semua lho. Jadi, kita pasang ini karena kita punya,” kata Tri.

Selain membenahi markas dan lingkungan halamannya menjadi lebih rapi, lebih indah, dan lebih tertata, Tri juga berhasil menambah fasilitas di arena Kampung Tentara. Kampung Tentara dulunya adalah lahan kosong seluas sekitar 4,8 hektare yang dipenuhi semak belukar.

Di era Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad dijabat Mayjen TNI Dr Marga Taufiq S.H M.H, lahan kosong itu berhasil disulap menjadi semacam kawasan untuk permainan, kuliner, olahraga, dan hiburan. Dibangunlah kolam renang, deretan kafe-kafe, dan fasilitas cuci mobil.

Oleh Tri, Kampung Tentara ditambahi lapangan tembak yang diberi nama Vichada Shooting Range. Dan nggak tanggung-tanggung. Lapangan tembak itu berskala nasional.  ”Ketika membangun lapangan tembak itu, modal kami cuma alat berat buldoser dan ekskavator sama bahan bakar. Yang lain-lain adalah bantuan dari teman-teman kita,” ceritanya. ”Lapangan tembak ini bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. Kampung Tentara adalah arena milik rakyat.”

Memang, diakui oleh Tri, ada sisi bisnisnya di arena Kampung Tentara. Karena di sana menjual makanan, dan masuk kolam renang juga harus membeli tiket, dan lain-lain. ”Tapi, bisnis di sini (Kampung Tentara) bukan yang utama,” lanjutnya.

Bagi Tri, di mana pun dia bertugas, keberadaannya harus bisa mewarnai,  membuat perubahan dan bermanfaat bagi masyarakat. ”Ini perintah KSAD, bahwa di mana pun kita bertugas, harus bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat di sekitar kita,” katanya.

”Pejabat di sini nggak lama. Paling lama setahun. Makanya, ketika saya memutuskan untuk membangun atau membuat sesuatu, saya harus bisa menyelesaikannya dalam waktu yang cepat. Jangan sampai, yang saya bikin belum jadi, lalu saya dipindahtugaskan. Saya nggak ingin meninggalkan pekerjaan yang belum selesai kepada pengganti saya. Ini etika yang harus dijaga,” jelasnya.

Dari perbincangan dengan Panglima Tri Yuniarto, setidaknya saya bisa mendapatkan tiga poin. Pertama, pemimpin itu harus mewarnai dan mampu membuat perubahan yang lebih baik, di mana dia ditugaskan. Kedua, jangan remehkan hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya, membiasakan tertib, bersih, dan rapi, harus dimulai dari lingkungan tempat bekerja. Ketiga, pemimpin harus meninggalkan legacy yang bisa dikenang oleh anak buah dan penggantinya. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)