Ketika Tawon Diwisatakan – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Apa yang Anda ketahui tentang tawon? Bagaimana jika tawon ini dijadikan objek wisata edukasi? Di Malang, mungkin di antara Anda sudah ada yang tahu, ada tempat khusus yang menjadikan tawon sebagai objek wisata. Yakni, di Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Setiap tahun, semakin banyak saja yang berkunjung ke tempat tersebut.  Sayangnya, saya baru berkunjung ke tempat itu, dua minggu lalu. Padahal, objek yang diberi nama ”wisata petik madu” itu sudah ada sejak 2011.

Apa menariknya wisata petik madu itu? Bagi yang sudah pernah mengunjunginya, setidaknya ada tiga yang membuat menarik.  Pertama, bisa tahu banyak, dan banyak tahu tentang seluk-beluk dunia pertawonan.

Seperti jamak diketahui, tawon adalah hewan yang kaya akan filosofi hidup. Hewan ini termasuk yang paling solid dan kompak. Dalam satu koloni, sudah ada pembagian tugas yang jelas.



Secara garis besar, ada dua golongan tawon. Tawon pekerja dan tawon ratu. Tugas antartawon dijalankan berdasarkan umurnya. Tawon yang baru lahir, belum bisa terbang karena sayapnya masih lemah, bertugas membersihkan sarang.

Tawon yang agak besar, tapi belum bisa terbang, bertugas merawat anak-anaknya ratu. Jika tawon sudah bisa terbang, tapi jangkauan terbangnya belum bisa terlalu jauh, bertugas membuat dan menjaga sarang. Bagi tawon yang sudah dewasa dan sudah mampu terbang jauh, tugasnya mencari makan.

Sedangkan ratu tawon tugasnya hanya bertelur. Telur dari ratu tawon bisa menjadi tawon pekerja, tawon pejantan, atau bisa juga menjadi ratu, ini sangat bergantung dari makanan dan pembuahan.

Semuanya ini berjalan seperti sebuah sistem yang tertata, terencana, terarah dan berhasil guna (makanya kalau cara kerja kita awut-awutan, amburadul, berarti kita kalah dengan tawon!!!).

Dari sisi umur, tawon tergolong hewan berumur pendek. Tawon pekerja hanya berumur rata-rata 45 hari. Sedangkan tawon ratu paling lama bisa hidup 6 tahun. Tapi, meski umurnya pendek, tapi hidup tawon penuh makna. Meski umurnya pendek, hewan ini jika bekerja sangatlah rajin. Mereka tidak mau menyia-nyiakan umurnya yang pendek untuk berbuat sesuatu yang bermakna.  Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tawon tidak hanya menghasilkan madu yang berguna bagi kesehatan. Hewan ini juga menghasilkan propolis yang berasal dari getah tanaman.

Propolis juga bisa sebagai antioksidan, antialergi, dan juga anti peradangan. Tawon bisa pula menghasilkan bee pollen yang berasal dari serbuk sari bunga. Fungsinya sebagai bahan campuran obat-obatan.

Yang juga bisa dihasilkan dari tawon adalah royal jelly. Manfaatnya untuk regenerasi sel pada manusia. Ada juga lilin tawon yang terbuat dari sarang tawon yang dipanaskan. Ini banyak digunakan sebagai campuran kosmetik, pengawet buah, dan bisa untuk dibuat aneka kerajinan.

Nah, hidup tawon yang singkat, ternyata mampu membuat berbagai hasil (karya) yang bermanfaat. (Sementara kita punya umur bisa puluhan tahun, sudahkah kita menghasilkan karya yang bermanfaat???).

Alasan kedua mengapa wisata petik madu ini menarik, bisa merasakan berbagai sensasi. Sensasi menikmati madu yang dimakan langsung bersama sarang tawon. Sarang tawon dikunyah-kunyah, dan ketika sedang mengunyah itu, akan terasa madunya. Madu yang benar-benar asli!!! Madunya ditelan, sarang tawonnya dilepeh (dibuang). Jadi, kayak mengunyah permen karet. Saya sendiri baru kali pertama itu, merasakan sensasi menikmati madu bersama sarang tawon.

Lalu, sensasi dikerubungi tawon.  Apa nggak takut disengat? Ternyata, ada tipsnya, agar tidak disengat tawon. Yakni, jangan membuat gerakan tubuh yang cepat. Misalnya, jangan sekali-kali mengibas-ngibaskan tangan di dekat tawon. Jika itu dilakukan, maka tawon akan mendekat, hinggap, dan menyengat.

Jadi, asal kita tidak membuat gerakan yang cepat, kita akan aman dari sengatan tawon. Makanya, meski tangan kita dikerubungi tawon, meski wajah kita dikerubungi tawon, asal kita diam, tidak membuat gerakan yang cepat, maka kita tidak akan disengat. Asyik!!! Bagi saya, baru pertama ini seumur-umur tubuh saya dikerubungi tawon, tanpa takut disengat. Terasa nggremet-nggremet.

Selanjutnya, sensasi disengat tawon. Kali ini tujuannya untuk terapi. Kebetulan, saya bisa bertemu langsung dengan Pak Hariyono, pemilik wisata petik madu. Dia begitu memahami seluk-beluk dunia tawon. Dia mewarisi pengetahuan tentang tawon dari bapaknya, yang seorang peternak tawon. Di antara saudara-saudaranya, Pak Hariyono-lah yang mau menggeluti dunia pertawonan. Dia lalu meneruskan peternakan tawon milik bapaknya, lalu membuka wisata petik madu di Lawang itu, di atas lahan seluas sekitar 8 hektare.

Pak Hariyono tidak hanya menjadi peternak tawon. Tapi, dia juga bisa melakukan terapi sengat tawon. Pasiennya lumayan banyak. Rata-rata pasien yang diterapi tawon oleh Pak Hariyono punya keluhan nyeri-nyeri di persendian, kecetit, rematik, dan beberapa penyakit lain.

”Sengatan tawon pada titik-titik tertentu, bisa merangsang sel darah putih pada tubuh. Sel darah putih sangat penting untuk memperbaiki dan memperkuat daya tahan tubuh,” kata Pak Hariyono. Dia lantas menantang saya untuk diterapi dengan sengatan tawon. Awalnya saya agak takut. Tapi, karena penasaran, saya memberanikan diri.  Kebetulan, pas ada keluhan, punggung agak terasa kaku.

Maka, beberapa titik di punggung bagian bawah saya satu per satu disengati tawon. Ada teknik khusus, bagaimana caranya sengatan tawon itu bisa tepat sasaran. Dan Pak Hariyono juga punya alat khusus. Semacam botol kecil, dan ada tabung yang hanya bisa dilalui beberapa ekor tawon. Tawon-tawon inilah yang kemudian menyengat punggung saya. Clekitt… rasanya seperti disuntik.

Alasan ketiga, mengapa wisata petik madu itu menarik, karena di sana siapa pun yang mau menjadi peternak tawon akan diajari mulai dari awal. Sampai benar-benar mengerti dan bisa melakukannya sendiri.

Dengan tiga alasan di atas, maka menurut saya, wisata petik madu tersebut sangat layak untuk dipoles lagi dan lebih dikembangkan sebagai  wisata edukasi jujukan. Saya rasa, di Malang Raya, atau mungkin di Jawa Timur, belum ada wisata edukasi berbasis pertawonan yang lengkap, seperti yang ada di wisata petik madu di Lawang.  Dipoles lagi, dibikin atraksi yang lebih menarik lagi, maka wisata petik madu Lawang bakal keren. Bagaimana menurut Anda? Salam Hope 313!!! (Instagram: kum_jp)