Ketum PSSI Jangan Sosok Numpang Tenar

JawaPos.com – Untuk saat ini, mencari sosok calon ketua umum (Ketum) PSSI yang akan maju pada bursa kongres luar biasa (KLB) bukanlah persoalan mudah.

Butuh pertimbangan dari berbagai sudut agar bisa memunculkan figur yang tepat untuk menjadi bapak sepak bola tanah air dalam lima tahun ke depan.

Kita sama-sama tahu, yang ada saat ini memang mayoritas kelompok lama yang berada di organisasi. Mau bicara sosok pun, tidak banyak perubahan yang terjadi di tubuh organisasi. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir.

Poin utamanya, siapa pun calonnya harus punya komitmen untuk tetap memajukan sepak bola tanah air. Tidak sekadar numpang tenar atau bahkan menggunakan PSSI sebagai kendaraan pribadi menuju target yang diinginkan.



Saat saya aktif bermain dahulu, ada Pak Kardono (almarhum) yang punya latar belakang perwira TNI-AU. Secara organisasi memang berjalan bagus. Tetapi, keberadaan sosok militer di PSSI juga perlu ditopang dengan para pengusaha ulung. Posisi mereka jelas cukup sentral untuk mencarikan sumber dana pembinaan sepak bola nasional.

Sebab, sampai saat ini, masalah pembinaan menjadi problem klasik yang belum terselesaikan. Khususnya untuk pembinaan yang ada di daerah.

Terakhir, Pak Edy Rahmayadi yang punya latar belakang Pangkostrad juga mundur sebelum masa tugas berakhir. Padahal, saya berharap banyak kepada beliau untuk membawa PSSI menjadi lebih baik.

Mantan pemain juga bisa ambil bagian. Yang perlu diperhatikan, mengurus sepak bola itu butuh kemampuan manajerial yang mumpuni. Selain itu, butuh kerja sama dengan banyak pihak.

Terutama dalam menjalin jaringan dengan AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) ataupun FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional). Ketum juga harus lincah dalam menjalin komunikasi, tidak hanya di internal PSSI, tapi juga dengan pihak asing.

Jaringan yang dimiliki calon Ketum nanti sangat dibutuhkan. Setidaknya untuk mendorong para pemain muda agar tidak hanya jago kandang. Mereka butuh jam terbang untuk bersaing di kompetisi internasional. Seperti yang saya lakoni pada 1988, saat merantau ke Jepang bersama Matsushita (sekarang Gamba Osaka).

Bagaimana dengan calon dari unsur birokrasi? Kita tentu masih ingat Pak Azwar Anas pernah menduduki jabatan itu pada 1991-1999. Saya pikir boleh-boleh saja memunculkan itu. Hanya, pola komunikasinya bisa lebih ditata kembali. Agar tidak dianggap sebagai intervensi pemerintah.

*) Anggota skuad timnas perebut emas SEA Games 1987

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Seperti disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Nuris Andi Prastiyo/c10/ttg)