Komedian Arie Kriting: Mending Pulang Kampung

 Mending Pulang Kampung

JawaPos.com – Jauh sebelum demokrasi kita adopsi dan pilih sebagai sistem yang dianut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kampung halaman saya di Buton, Sulawesi Tenggara, sudah memegang teguh filosofi “Bolimo Karo, Sumanamo Lipu”.

Yang maknanya, kurang lebih, jangan mengutamakan diri sendiri, utamakanlah kepentingan orang banyak.

Falsafah yang dijalankan pada masa Kesultanan Buton itu merupakan kearifan lokal yang murni dicetuskan nenek moyang kita. Melalui kebijaksanaan mereka, tanpa harus mengutip literatur demokrasi dari zaman Yunani itu.

Menyimak situasi sosial dan politik yang berkembang sekarang, saya pribadi merasa penting untuk memaknai lagi maksud dari falsafah tersebut. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri, hal itu mungkin terdengar sederhana, tapi bisa jadi sering kali kita lewatkan.



Masyarakat saat ini saya lihat seperti terjebak dalam kebenaran mereka masing-masing. Yang dipicu dukungan politik yang demikian menggebu-gebu dalam pemilu yang baru berlalu. Diperuncing propaganda masing-masing dengan klaim sebagai perwakilan akal sehat di satu sisi, melawan mereka yang mengklaim diri sebagai perwakilan orang baik.

Itu membuat kita melihat yang berseberangan pilihan pada dua kategori: sebagai orang yang tidak berakal sehat atau bukan orang baik. Polarisasi tersebut kemudian membuat kita keasyikan saling menyerang dan saling menjatuhkan dengan beragam narasi.

Saking asyiknya saling menjatuhkan, kita tidak sadar bahwa mungkin sebagian dari kita sudah kehilangan akal sehat dan sebagian lainnya semakin jauh dari kepribadian orang baik. Tidak cukup sampai di sana, kebisingan itu lalu ditambahi mereka yang menyebut diri sebagai golongan putih. Mereka yang mengajukan protes terhadap sistem yang dijalankan, terhadap gagasan yang diajukan, terhadap pertunjukan politik yang disajikan. Turut sertanya mereka ini lalu ditanggapi secara keliru oleh sebagian orang.

Meminta mereka bungkam hanya karena identitas golongan putih yang mereka usung. Semakin bisinglah kondisi kebangsaan kita, Saudara-saudara sekalian! Tiga kubu yang berpolemik karena pandangan politik itu berseteru meramaikan segala macam arena. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Kebisingan yang mengubur jeritan kubu keempat, para apatis, mereka yang tidak peduli dan hanya ingin memanfaatkan liburan panjang saat pemilu dengan berlibur. Jeritan yang tidak memiliki motivasi politik, tapi karena tercekik harga tiket penerbangan yang melambung tinggi.

Pemilu pun mencapai babak puncak di hari pencoblosan. Tingkat partisipasi publik untuk pemilu tahun ini meningkat drastis. Di luar negeri bahkan para pemilih rela antre berjam-jam demi memuaskan hasrat mencoblos calon pemimpin yang mereka dukung.

Tentu saja itu pertanda baik. Artinya, masyarakat kita tidak hanya gemar berkoar. Tapi juga bertindak nyata dengan mewujudkan segala pertengkaran tersebut dalam bentuk suara nyata untuk jagoan masing-masing.

Dunia maya pun dihiasi berbagai gambar kelingking berwarna ungu. Meskipun beberapa orang lebih memilih mencelupkan dan memamerkan jari tengah mereka, mungkin memang itu jari kesukaannya hehehe.

Anyway, sedikit catatan mengenai meningkatnya angka partisipasi ini, entah ada hubungannya dengan harga tiket yang meroket atau tidak, namun beberapa kawan saya yang tadinya apatis pun saya lihat mengunggah gambar memamerkan kehadiran mereka di tempat pemungutan suara (TPS). Setidaknya bisa tetap menjaga eksistensi, meskipun latarnya bukan pemandangan pantai, mungkin demikian.

Secara umum tidak banyak kendala dan insiden berarti saat proses pencoblosan. Dalam hal ini, kita patut mensyukuri kedewasaan masyarakat kita pada hari itu, hari ketika pemilihan umum dilaksanakan.

Namun, seperti formula penulisan kisah drama di film layar lebar pada umumnya, selalu ada bagian yang disebut dengan istilah fake victory (kemenangan palsu). Tepat di saat kita merasa semua sudah selesai dan berharap keadaan akan kembali normal, satu per satu masalah kembali hadir.

Yang pertama adalah meninggalnya ratusan petugas KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara), PPS (panitia pemungutan suara), PPK (panitia pemilihan kecamatan), pengawas TPS, dan petugas keamanan saat menjalankan tugas. Beban kerja proses penghitungan suara dalam pemilu serempak ini ternyata di luar dugaan begitu membebani.

Itu bukan perkara sederhana menurut saya. Mungkin di era modern seperti saat ini, kita dapat menerima jika kematian ratusan orang itu disebabkan bencana alam, wabah, atau peperangan. Tetapi, jika disebabkan beban pekerjaan, tidak bisa tidak, harus ditinjau dan diadakan proses evaluasi menyeluruh mengenai sistem ini. Kita sudah lama meninggalkan era kerja rodi dan kerja romusa di zaman penjajahan. Tidak selayaknya manusia meregang nyawa karena beban kerja yang sedemikian hebat.

Yang kedua, tentu saja kebisingan yang dihadirkan mereka yang mengklaim kemenangan, melontarkan narasi kecurangan, dan menolak hasil quick count berbagai lembaga survei. Bahkan juga berujung pada deklarasi sepihak yang seolah menunjukkan sikap mau menang sendiri.

Padahal, proses penghitungan suara yang real pun belum pula selesai. Gagasan pengerahan people power sempat juga mengemuka dari tokoh-tokoh yang menuduh ada kecurangan. Jelas bagi saya hal semacam itu cukup mengkhawatirkan.

Sedikit berbeda dengan pemilu sebelumnya dalam era reformasi, kali ini gonjang-ganjing yang dihasilkan terus bergema dan belum terlihat akan ada tanda-tanda untuk mereda. Sementara itu, hanya sedikit orang yang mau berdiri di tengah untuk meredakan situasi.

Sebagian malah kembali asyik menghadirkan narasi-narasi permusuhan khas akal sehat melawan orang baik ini. Tuduhan kecurangan tumpang-tindih silih berganti dengan ejekan seputar sikap yang ditempuh sang penantang, datang dari mereka yang mengaku orang baik.

Riuh politik ini bagi saya sudah sampai pada titik jenuh. Dan, ini belum selesai sepenuhnya, Kawan sekalian! Kita masih menantikan babak penutup ketika hasil akhir pemilu kali ini diumumkan secara resmi.

Semoga saja, ketika saat itu tiba, kita semua bisa menerima dengan lapang dada. Selayaknya falsafah dari kampung halaman yang saya perkenalkan di atas. Semoga kita bisa lebih memelihara kepentingan masyarakat banyak daripada hasrat untuk memuaskan ego kita sendiri.

Apa pun hasilnya nanti, semoga people power justru diarahkan untuk menjalin kembali kemesraan. Juga mempererat tali silaturahmi semua komponen bangsa.

Berbicara mengenai falsafah Buton dan mempererat tali silaturahmi membuat saya teringat kampung halaman. Beberapa saat lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadan dan selanjutnya merayakan Lebaran.

Semoga saja pada Ramadan tahun ini kita diberi umur panjang dan kesehatan untuk bisa menjalankan puasa dan merayakan Lebaran. Semoga juga harga tiket penerbangan bisa turun sehingga kaum apatis dapat liburan ke tempat yang mereka mau.

Dan, saya juga bisa beli tiket pulang merayakan Lebaran di kampung halaman. Agar bisa mengeratkan kembali tali silaturahmi yang mungkin menjadi renggang karena kontestasi pilpres dalam pemilu ini.

Sepertinya tahun ini kita jauh lebih membutuhkan momentum saling bermaafan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sungguh setelah menulis ini semua, saya semakin merindukan keharmonisan, kedamaian, dan kesederhanaan yang ditawarkan kampung halaman. Semoga bisa segera pulang kampung, mereguk kembali kabarakatina tana wolio. (*)