Komodifikasi dan Reifikasi Imlek

IMLEK sesungguhnya bukan sekadar peristiwa kultural dan politik, tetapi juga menjadi bagian dari realitas ekonomi kapitalisme global. Sebagai peristiwa kultural, Imlek adalah pesta perayaan tahun baru yang disambut gembira oleh warga Tionghoa di berbagai belahan dunia. Sementara itu, sebagai realitas politik, Imlek adalah momen pengakuan terhadap identitas etnis Tionghoa, khususnya di Indonesia.

Seperti diketahui, dua keputusan penting terkait Imlek dikeluarkan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 2000, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967, yang antara lain melarang perayaan Imlek. Kemudian, pada 2001, Gus Dur kembali mengeluarkan Keputusan Presiden No 19 Tahun 2001, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Sejak 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri bahkan telah menetapkan Hari Raya Imlek sebagai salah satu hari libur nasional.

Selama hampir dua dekade, di Indonesia perayaan Imlek terkesan makin lama makin meriah. Tidak berbeda dengan perayaan tahun baru, Imlek tidak hanya menjadi milik etnis Tionghoa. Masyarakat umum pun seolah tertular dan ikut merasakan gegap gempita perayaan Imlek. Di mal-mal, berbagai tenant membuka gerai dengan tawaran diskon yang menggoda. Di sejumlah kawasan dan kompleks perumahan menengah ke atas, pintu masuk umumnya dihiasi dengan pernak-pernik Imlek.

Komodifikasi dan Reifikasi

Sebagai bagian dari realitas ekonomi, Imlek saat ini boleh dikata tidak berbeda dengan perayaan hari besar lainnya. Di berbagai pusat perbelanjaan, bisa dilihat lampu lampion menghiasi berbagai sudut dengan warna merah yang dominan. Hampir di semua pusat keramaian, Imlek dirayakan dengan meriah. Imlek tidak hanya menjadi momen orang-orang Tionghoa pulang kampung dan menjalin silaturahmi dengan kerabatnya. Dewasa ini Imlek juga telah berkembang dan mengalami proses pergeseran makna.

Pertama, bukan tidak mungkin Imlek kini telah mengalami proses komodifikasi. Komoditas berbeda dengan komodifikasi. Komoditas secara sederhana dapat didefinisikan sebagai hasil kerja manusia, entah itu dalam bentuk barang atau jasa, yang sengaja diproduksi untuk dipertukarkan melalui mekanisme pasar. Komoditas, dalam wujudnya sebagai benda maupun jasa, umumnya diproduksi secara masal, melayani kebutuhan banyak konsumen, dan diproduksi berulang-ulang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen yang menjadi target pasarnya (Lee, 2006).

Lebih dari sekadar memproduksi barang dan jasa yang bisa dipertukarkan atau diperjualbelikan di pasar, yang dimaksud dengan komodifikasi adalah proses semakin banyak aktivitas manusia yang memiliki nilai moneter dan menjadi barang yang diperjualbelikan di pasar (Abercrombie et al., 2010: 94).

Komodifikasi menjadikan sesuatu yang bukan komoditas, kemudian seolah-olah menjadi komoditas atau diperlakukan seperti halnya komoditas yang bisa diperjualbelikan demi laba. Sebuah ritual sosial seperti Imlek yang mengalami proses komodifikasi, maka yang terjadi biasanya adalah proses entropi budaya. Artinya, makna kultural yang terkandung dalam perayaan Imlek pelan-pelan akan memudar dan pernak-pernik kemeriahan perayaan Imlek seolah hanya menjadi dekor teater yang tidak bermakna apa pun –kecuali hanya demi kemeriahan itu sendiri.

Kedua, ketika perayaan Imlek makin meriah, risiko yang mungkin terjadi tak pelak adalah reifikasi. Reifikasi (reification) secara sederhana adalah sebuah proses membuat sesuatu menjadi seolah-olah benda.

Reifikasi adalah konsep yang digagas Karl Marx, tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Georg Lukacs. Dalam bukunya yang berjudul History and Class Consciousness (1923), Lukacs sepakat dengan Marx bahwa komoditas sebagai sebuah masalah struktural penting dalam masyarakat kapitalis, yang berbentuk barang dan berkembang menjadi objek yang mendasari hubungan antarorang. Reifikasi –sebagaimana dikatakan Marx– adalah tereduksinya hubungan antarmanusia karena menjadi relasi alat produksi.

Dalil dasar reifikasi adalah ’’penurunan” nilai relasi manusia yang seharusnya hangat menjadi sekadar hubungan antar ’’manusia” yang terjadi semata karena kepentingan ekonomi.

Reifikasi, dalam beberapa kasus, berpotensi melahirkan alienasi. Artinya, bukan tidak mungkin ketika masyarakat dengan meriah merayakan Imlek, tetapi pada saat yang sama mereka sebetulnya mulai terasing dari dunia kemeriahan Imlek itu sendiri karena merasa bahwa Imlek yang menjadi seolah-olah benda itu telah menyebabkan mereka kehilangan kontrol atas dirinya (Abecrombi, 2010).

Makna Kultural

Ketika masyarakat Tionghoa diberi kebebasan dan bahkan negara sepakat mengakui arti penting perayaan Imlek, hal tersebut tentu patut disyukuri. Itu adalah bentuk pengakuan dan perlakuan yang nondiskriminatif terhadap eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia.

Saat merayakan Imlek, ada baiknya tidak terjerumus dalam perayaan yang gegap gempita, tetapi kemudian lupa pada hakikat Imlek itu sendiri. Pergantian tahun dan kebebasan untuk menyambut kehadiran tahun yang baru di satu sisi memang harus disyukuri sebagai sebuah berkah bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Meski demikian, di sisi lain, ketika kebebasan itu dijamin negara dan masyarakat Tionghoa leluasa merayakan Imlek, yang penting adalah bagaimana memastikan momen Imlek tetap memiliki makna kultural.

Imlek 2020 yang disebut-sebut tahun Tikus Logam, makna kulturalnya konon adalah percampuran antara kebijaksanaan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Meski ada yang menafsirkan bahwa si tahun shio Tikus, nasib sektor pertanian akan menghadapi masalah, tetapi dengan kewaspadaan dan kesiapan, kemungkinan gangguan pada sektor pertanian akan dapat diantisipasi.

Imlek Tikus Logam adalah sebuah perlambang dan memiliki makna simbolis yang mendalam. Apa pun tafsir atas simbol tikus pada 2020 ini, yang terpenting Imlek perlu dipahami sebagai sebuah momen kultural yang dibangun di atas fondasi sikap toleransi dan empati. Di Indonesia, Imlek adalah sebuah perayaan yang khas dan kontekstual. Euforia yang berlebihan dan membiarkan kapitalisme memanfaatkan momen Imlek untuk mereguk keuntungan tentu bukan sikap bijak yang mendasari makna Imlek itu sendiri.

Gong Xi Fa Cai. (*)


*) Bagong Suyanto, Guru besar FISIP Universitas Airlangga