Kota Kreatif

 

Oleh kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Istilah kota kreatif pertama kali diperkenalkan oleh Charles Landry, melalui bukunya: The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators. Menurut Landry, kota kreatif setidaknya harus punya tiga aspek penting. Pertama, ekonomi kreatif. Kedua, komunitas kreatif (creative class) dan ketiga, lingkungan kreatif.

Tahun 2000-an, pemikiran dan ide Landry tentang kota kreatif direspons para wali kota dunia. Maka, saat itu, muncullah gerakan kota kreatif (creative city). Tujuannya, memikirkan kembali perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan kota.
Bagi Landry, sebuah kota disebut kreatif bisa dilihat dari kesan pertama ketika kota itu disinggahi. Misalnya, keramahtamahannya. Keramahtamahan transportasinya. Kesan itu, masih menurut Landry, ketika datang ke kota kreatif, maka kota itu seperti mengundang untuk masuk lebih dalam, melalui bandaranya, pelabuhannya, serta stasiun kereta apinya.

Lantas, bagaimana ciri-ciri warga dari kota kreatif? Landry mengatakan, kota kreatif berisi orang-orang yang punya kombinasi pengetahuan begitu mendalam tentang kotanya, tentang industrinya, tentang seni budayanya, dan tentang bisnisnya. Warga dari kota kreatif juga terbuka terhadap toleransi. Jadi, menyoal tentang kota kreatif, sesungguhnya juga menyoal tentang personality quality. Di mana banyak orang dengan kualitas berbeda, diizinkan atau diberikan tempat untuk mengembangkan diri.



Dalam bukunya itu, Landry menyebutkan, bahwa kota-kota yang berhasil menjadi kota kreatif biasanya masyarakatnya mempunyai kesamaan dalam visi individu, organisasi kreatif, dan budaya politik dengan tujuan jelas. Di sinilah, dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menyatukan semua pihak, baik publik, swasta, juga sukarelawan.

Apa yang didefinisikan, dikonsepkan, serta digambarkan oleh Landry tentang kota kreatif, terkesan agak utopis. Karena kelihatan begitu idealnya. Tapi, pemikiran Landry ini terus menggelinding. Gerakan kota kreatif ini lantas direspons oleh UNESCO. Organisasi yang bernaung di bawah PBB ini kemudian membentuk The Creative Cities Network (jaringan kota-kota kreatif) pada 2004.

Hingga kini, sedikitnya sudah ada 19 negara yang bergabung di jaringan kota kreatif UNESCO itu. Dan, jika dilihat satu per satu dari para anggota di jaringan itu, semuanya punya julukan untuk kota-kotanya. Misalnya, Kota Kanazawa di Jepang dijuluki sebagai ”City of Crafts and Folk Art”. Kota Bradford di Inggris dijuluki sebagai ”City of Film”. Lalu ada lagi Ghent, kota kecil di Belgia yang dijuluki ”City of Music”, Iowa di Amerika dijuluki sebagai ”Kota Sastra” dan Shenzhen sebagai ”Kota Desain”. Masih ada deretan kota-kota kreatif lainnya. Intinya, mereka punya keunikan sendiri-sendiri yang terbagi dalam bidang-bidang sastra, film, musik, seni kerajinan dan kesenian rakyat, desain, seni media (media arts), dan tradisional kulinari.

Nah, setelah melihat definisi, gambaran, pemikiran, serta contoh dari kota-kota kreatif di dunia, mari kita melihat Kota Malang, yang baru-baru ini dipilih oleh Bekraf sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia.

Apa kira-kira kelebihan dari Kota Malang, sehingga terpilih menjadi salah satu kota kreatif di Indonesia? Kalau harus membuat julukan untuk Kota Malang, julukan apa kira-kira yang pas untuk Kota Malang? Yang jelas bukan ”Beautiful Malang”. Sebab, julukan ini (setidaknya menurut saya) terkesan kurang orisinal dan terkesan generik. Selain itu, juga kurang linier dengan karakter kreatif. Maka, harus dicarikan julukan lain yang lebih pas untuk Kota Malang. Bagaimana jika julukan ”City of Start-Up”? Ini didasarkan pada banyaknya start-up yang lahir dan digagas di Kota Malang, dan di antaranya sudah go international. Atau ”City of Mask”? Ini didasarkan pada banyaknya perajin topeng. Anda punya usulan lain? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)