Kuncinya pada Server dan Bandwidth

JawaPos.com – BICARA soal sistem pendaftaran UTBK SBMPTN yang sulit diakses itu ada beberapa kendala. Yakni, komputer server tidak mampu menangani akses yang masuk dan bandwidth yang tidak mencukupi. Itu yang paling mendasar.

Lantas, mengapa server tidak mampu?.

Mungkin programming-nya salah secara algoritma. Akibatnya, kerja server tidak efisien dalam menerima setiap request atau perintah yang masuk. Sibuk menjalani akses kecil yang dilakukan oleh satu orang. Praktis, ketika menerima akses banyak, sistem akan down. Selain itu, membuat server pendukung yang memuat database menjadi kewalahan.

Selain algoritma, bisa juga server yang dimiliki kurang mumpuni. Beli yang murahan. Kami bilang under specification. Membeli perangkat yang spesifikasi produknya di bawah yang seharusnya.

Kalau soal bandwidth, ibarat akses jalan tolnya seperti apa. Bandwidth adalah suatu nilai konsumsi transfer data yang dihitung dalam bit/detik atau yang biasanya disebut dengan bit per second (bps), antara server dan klien dalam waktu tertentu. Semakin lebar bandwidth, otomatis semakin banyak orang yang bisa mengakses data situs tersebut.

Jika membuka akses kepada masyarakat, seharusnya kapasitas bandwidth besar. Logikanya, staf IT panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) mengetahui kebutuhan dasar situs tersebut. Dia juga harus belajar dari pengalaman pendaftaran pada tahun-tahun sebelumnya.

Misalnya, tahun lalu yang mengakses ada 2 juta orang. Rata-rata per hari 150 ribu. Lebih detail, jumlah yang mengakses per jam berapa. Itu harus dikroscek. Kira-kira server dan bandwidth saat ini memenuhi atau tidak. Minimal itu dulu. Jika sudah ketemu, kapasitas dua perangkat tersebut harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Itu ada hitungannya.

Kalau tidak mampu menyediakan kualitas perangkat yang mumpuni karena masalah dana, panitia LTMPT bisa numpang di cloud server. Yang namanya cloud server itu layanannya sudah bisa diakses orang banyak. Tinggal seberapa sadar si pemilik layanan mengantisipasi gangguan tersebut.

Situs ini ramai hanya saat masa pendaftaran. Selebihnya tidak digunakan selama setahun. Baru disiapkan ketika mendekati pendaftaran. Itu yang aneh. Padahal, pendaftaran pasti terkait uang masuk. Sistem harus terintegrasi. Nah, kalau mau dapat duit, ya harus berani keluar duit. Tapi, kalau mau investasi aja nggak berani, mainan cloud server yang paling murah gitu aja nggak berani. Ya, seperti yang kita lihat sekarang ini. 

*) Pakar teknologi informasi

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Disarikan oleh reporter Jawa Pos Agas Putra Hartanto/c10/oni)