Macet, Parkir, dan Hari yang Terbuang

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Gara-gara terjebak macet dan sulitnya mencari tempat parkir, warga di Asia kehilangan 13 hari dalam setahun, dan warga Jakarta membuang 22 hari dalam setahun.

Ini adalah di antara hasil penelitian yang dilakukan Uber terhadap 9.000 responden di sembilan kota terbesar di Asia, dengan menggandeng The Boston Consulting Group.

Lebih lanjut tentang penelitian yang dirilis pada November lalu itu menyebutkan, bahwa dampak dari kemacetan dan terbatasnya areal parkir di kota-kota besar di Asia, semakin bertambah buruk setiap tahunnya.

Di Jakarta, misalnya. Dalam sehari, rata-rata pemilik mobil di Jakarta menghabiskan 68 menit di jalanan karena terjebak macet, dan 21 menit karena sulitnya mencari tempat parkir. Ini jika dijumlah dalam setahun, maka akan setara dengan 22 hari. Jadi, ada 22 hari terbuang sia-sia dalam setahun, gara-gara terjebak macet dan muter-muter karena sulit mencari tempat parkir.



Penelitian itu juga menjelaskan, akibat sulit mencari tempar parkir, 72 persen warga di Asia dan 74 persen warga di Jakarta pernah terlambat atau melewatkan datang di acara-acara penting. Misalnya pernikahan, kontrol kesehatan,  wawancara kerja, kedukaan, dan konser musik.

Dengan berbagai macam ”kesulitan” tersebut, maka dalam penelitian itu digambarkan, bahwa 29 persen dari pemilik mobil di Jakarta mulai mempertimbangkan ulang, apakah mereka sebenarnya perlu memiliki mobil atau tidak.

Sedangkan di Asia, empat dari 10 pemilik mobil telah mempertimbangkan untuk berhenti mengemudikan mobil mereka sepanjang tahun lalu. Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan anak muda. Sekitar 50 persen dari mereka ini menyatakan kurang tertarik membeli mobil.

Lebih khusus tentang begitu tidak efisiennya penggunaan mobil di Jakarta dijelaskan dalam penelitian itu. Bahwa pada jam-jam sibuk di hari efektif, mobil-mobil yang ada di jalanan Jakarta, jumlahnya 50 persen lebih banyak dari yang bisa ditampung oleh jalanan.

Dan yang menarik, 50 persen dari jumlah mobil yang bersliweran di jalanan Jakarta pada jam-jam sibuk itu hanya mengangkut satu orang.  Kondisi seperti ini yang memicu bertambah parahnya kemacetan di Jakarta.  Sehingga, durasi perjalanan ketika jam-jam sibuk memakan waktu 1,8 kali lebih lama dibanding pada jam-jam biasa.

Jika kondisi kemacetan dan semakin terbatasnya tempat parkir ini terus berlanjut dan tidak ada penanganan yang signifikan, maka ”hantu macet total” di kota-kota besar seperti Jakarta akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan.

Bagaimana dengan kondisi kemacetan dan areal parkir di Kota Malang?  Pengalaman saya sendiri, sering kali sulit mencari parkir di beberapa spot di Kota Malang.  Misalnya, setiap kali akan ke Pasar Besar, jika ke sana pada jam-jam sibuk di atas pukul 11.00, maka alamat bakal sulit mencari tempat parkir. Waktu pun harus terbuang untuk berputar-putar, hanya mencari celah tempat untuk parkir.

Sulitnya mencari tempat parkir juga sering saya alami ketika ke mal pada hari-hari weekend atau long weekend. Ke Malang Plaza, ke Malang Town Square (Matos), ke Mal Olympic Garden (MOG), ataupun ke Sarinah.

Mencari parkir di sepanjang Jalan Kawi terkadang juga sangat sulit ketika pada jam-jam sibuk.  Apalagi pada jam-jamnya makan.

Menurut saya, perlu ada survei seperti yang dilakukan Uber tadi, tapi khusus untuk melihat bagaimana dengan kondisi di Kota Malang. Berapa hari yang terbuang di Kota Malang dalam setahun  gara-gara terjebak macet dan berputar-putar mencari parkir? Bagaimana tingkat efisiensi warga dalam menggunakan mobil di jalanan? Bagaimana perbandingannya dengan Jakarta?

Sudah waktunya para pemimpin di Kota Malang mulai memikirkan masa depan kota ini dari sisi problem kemacetan dan ketersediaan areal parkir. Sebab, jumlah kendaraan setiap tahun, pasti akan semakin bertambah.

Pemerintah kota bisa mengajak para pakar dari berbagai perguruan tinggi di Kota Malang untuk semakin serius memikirkan hal ini. Sudah waktunya. Sudah saatnya. Dan sudah sepantasnya.

Bagaimana menurut Anda? Salam Hope 313!!! (Kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)