Manfaat Pacaran | JawaPos.com – Selalu Ada yang Baru – Azrul Ananda

Tulisan ini mungkin cocok untuk yang masih single, dan yang belum pernah menikah (karena duda dan janda single juga, bukan?). Bagi yang lain, silakan membaca sebagai hiburan.

***

Ini tanda-tanda bahwa saya memang mulai tua: Makin lama saya makin sering diundang untuk jadi pembicara dalam seminar atau kuliah umum, menceritakan kisah ”sukses” atau perjalanan karir/hidup.

Karena memang bukan dosen, dan pada dasarnya lebih suka ”do show” daripada ”talk show”, saya sangat membatasi persetujuan untuk memenuhi permintaan-permintaan tersebut.



Kalaupun menerima, yang paling saya suka kalau bicara di depan anak-anak SMA atau pelajar perguruan tinggi (saya tetap keberatan memakai istilah mahasiswa, baca Happy Wednesday 8).

Mungkin supaya saya merasa fresh lagi dekat anak-anak muda. Walau mungkin sebenarnya saya bisa merasa semakin tua ketika dekat dengan mereka!

Ketika bicara, saya biasanya mengingatkan bahwa saya ini belum sukses. Karena menurut saya, orang itu baru bisa dinilai sukses kalau hidupnya sudah selesai (the end), dan dia meninggalkan impact yang dikenang dan bermanfaat untuk banyak orang.

Selama belum the end, walau dianggap banyak orang berhasil, tetap saja kita bisa ”terpeleset” dan meninggalkan kesan buruk sebelum benar-benar the end.

Bill Cosby saja selama puluhan tahun dianggap menginspirasi banyak orang, eh di usia hampir 80 malah harus bersiap menghadapi persidangan karena selama puluhan tahun pula dianggap memperdaya banyak perempuan!

Jadi, hidup kita belum benar-benar sukses sampai benar-benar the end.

Dan ketika bicara dengan anak-anak muda itu, saya sering menutupnya dengan dua pertanyaan ini: Siapa yang di sini bekerja sambil sekolah atau kuliah? Siapa yang di sini pernah atau sedang pacaran?

Biasanya yang mendengar tertawa, khususnya setelah pertanyaan yang kedua. Padahal, menurut saya, dua pertanyaan itu sangat, sangat, sangat penting. Lebih penting daripada: Berapa nilai Anda di sekolah?

Ini serius.

Saya agak sedih, karena untuk pertanyaan yang pertama (soal bekerja saat sekolah/kuliah), biasanya yang mengacungkan tangan tidak sampai separo.

Sebagai orang yang pernah bekerja mencuci piring, mengepel lantai, menjadi pelayan, dan menjadi barista saat kuliah, saya benar-benar merasakan manfaat bekerja.

Klise: Bukan karena duitnya, tapi karena pengalamannya. Segala teori di sekolah/universitas tidak ada gunanya kalau tidak pernah dipraktikkan dan dirasakan.

Belajar bagaimana menghadapi konsumen tidak ada gunanya kalau tidak pernah benar-benar menghadapi konsumen.

Dan ada banyak sekali pelajaran yang tidak ada di sekolah. Misalnya bagaimana menyiasati bos. Atau mendapatkan kencan atau bahkan pacar saat bekerja itu (kan konsumen manusia juga, dan banyak yang menarik, he he he…).

Ini nyambung ke pertanyaan kedua.

Saya agak merasa kasihan bagi mereka yang belum pernah pacaran saat sekolah atau kuliah. Karena ada banyak pelajaran dari prosesnya yang bisa sangat bermanfaat untuk kehidupan kita ke depan.

Proses bagaimana mendapatkan pacar, sangat penting untuk mencari pekerjaan nanti. Atau sangat penting untuk mencari konsumen saat bekerja nanti.

Bagaimana menentukan target market (pacar yang diincar), strategi marketingnya, dan kemudian eksekusi-eksekusinya.

Kalau gagal? Ya sudah. Jangan frustrasi, ambil tali, dan bunuh diri. Salesman yang baik tidak pantang menyerah. Cari target yang lain. Yang mungkin punya kesukaan berbeda, sehingga membutuhkan strategi dan eksekusi berbeda.

Ketika dapat, ada banyak skill komunikasi yang hanya bisa kita dapatkan saat menjalaninya.

Saat kencan misalnya. Bagaimana menatap matanya, bicara ke dia, gerak-gerik tubuh kita, semua butuh latihan untuk menjadi lebih luwes. 

Komedian Jerry Seinfeld pernah bilang: ”Kita butuh lebih banyak social skill untuk bicara one-on-one daripada di hadapan banyak orang.”

Alasannya: Karena kita harus benar-benar membuat diri kita pas dengan orang di depan kita, yang bisa sangat beda-beda dan bisa memberikan reaksi langsung.

Dan kalau kencan, tolong duduklah berhadap-hadapan. Jangan duduk bersebelahan, apalagi di tempat yang gelap-gelapan.

Saya sering heran melihat pasangan makan duduknya bersebelahan. Kayak lagi berantem aja, tidak mau melihat satu sama lain.

Bagaimana mau berkomunikasi dengan baik kalau tidak saling menatap? Tidak bisa melihat reaksi raut wajah, gerakan mata, dan ekspresi-ekspresi kecil lainnya.

Emang kalau sedang job interview duduknya di sebelah yang meng-interview? Tidak, bukan? Harus hadap-hadapan, bukan? 

Emang kalau kita bekerja dan bertemu dengan klien duduknya bersebelahan? Kalau bicara bisnis dan negosiasi harus berhadap-hadapan, bukan?

Nah, kalau pasangan kamu minta duduk di sebelah, tendang saja! Suruh duduk di depan kamu! Kalau ditanya kenapa, jawab saja untuk belajar skill hidup!

Tentu saja, pertanyaan pacaran saya ini tidak selalu disambut dengan tawa. Khususnya oleh pengawas/guru/dosen/orang tua yang ikut dalam acara seminar atau kuliah umum tersebut.

Tapi biarkan sajalah. Salahnya mengundang saya… (*)