Masa Depan PKB dan Simbol Politik Gus Dur

SESUAI dengan prediksi, Muhaimin Iskandar terpilih kembali sebagai ketua umum (Ketum) PKB periode 2019-2024 secara aklamasi. Ini kali keempat Cak Imin, sapaan Muhaimin, memimpin partai itu. Bagaimana tantangan, peluang, dan masa depan PKB?

Dalam pandangan saya, ada empat catatan bagi PKB ke depan.

Pertama, harus melakukan konsolidasi internal. Cak Imin sebagai Ketum PKB harus merekatkan kembali hubungannya dengan sejumlah tokoh yang dinilai tidak sehaluan dengannya. Di antaranya, Lukman Eddy dan mantan Sekjen PKB Abdul Kadir Karding.

Sebagaimana diketahui, dua tokoh tersebut tidak hadir dalam muktamar di Bali. Tidak bisa dimungkiri bahwa ada riak konflik di internal partai.



Cak Imin harus merajut kembali kohesivitas internal jika ingin PKB menjadi partai yang solid dan kukuh. Potensi perpecahan sekecil apa pun harus ditutup rapat.

Kedua, apakah PKB punya masa depan menjadi parpol papan atas? Kesempatan itu ada. Asalkan, potensi dimaksimalkan. Yang paling potensial adalah menarik kembali simbol-simbol politik Gus Dur ke dalam PKB.

Bagaimanapun, suka atau tidak suka, PKB dilahirkan oleh Gus Dur. Sosok dan nama besar Gus Dur pun tidak pernah bisa dihilangkan dari PKB. Nah, upaya itu harus dilakukan agar PKB bisa menjadi partai politik besar pada masa mendatang.

Ada simbol-simbol politik Gus Dur yang masih eksis. Sebut saja Yenny Wahid. Sebagai putri kandung Gus Dur, Yenny masih dianggap patron kuat bagi Gusdurian. Ada pula sosok Mahfud MD. Dua tokoh itu merupakan magnet bagi Gusdurian. Juga dinilai menarik simpati publik. Mau tidak mau, Cak Imin harus menarik kembali mereka ke rumah politik bernama PKB.

Berikutnya adalah tantangan PKB. Tantangan itu menunggu pada momen Pemilu 2024. PKB harus muncul sebagai poros kekuatan politik Islam. PKB harus bisa menjadi episentrum kanal politik berbasis Islam.

Itu sangat mungkin. Sebab, PKB dikenal sebagai partai tengah dan inklusif sehingga sangat memungkinkan untuk menarik dukungan dari kalangan kanan maupun pemilih kiri. Di sisi lain, PKB punya basis dukungan akar rumput yang kuat dari kalangan nahdliyin yang notabene ormas Islam terbesar di Indonesia. Kalau bisa dimaksimalkan, tentu itu menjadi modal besar bagi PKB.

Tidak salah membangun wacana poros partai politik Islam. Memang, rasanya sulit. Sebab, hampir dalam setiap pemilu, parpol berbasis massa muslim sulit menyatu. Kecuali pada Pemilu 1999. Saat itu kekuatan politik Islam bersatu mendukung Gus Dur. Mulai PKB, PPP, PAN, dan PKS (saat itu bernama Partai Keadilan). Nah, momen tersebut tidak mustahil diwujudkan lagi. Kali ini PKB sebagai partai tengah yang moderat bisa memainkan peran.

Terakhir, untuk bisa soft landing, Cak Imin harus memikirkan regenerasi PKB ke depan. Pemimpin yang berhasil harus bisa melangsungkan regenerasi secara baik dan berkesinambungan.

Menurut saya, ada beberapa sosok yang menjanjikan untuk memimpin PKB pasca-Cak Imin. Di antaranya, Hanif Dhakiri, Maman Imanul Haq, Lukmanul Khakim, atau Ida Fauziyah dari kalangan perempuan.

Bahkan, tidak ada salahnya trah Gus Dur kembali memimpin PKB. Yenny Wahid bisa menjadi perekat untuk menyatukan massa nahdliyin dan Gusdurian sekaligus dalam barisan partai yang solid.

*) Dosen Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Umar Wirahadi