Mazen, Kemarahan, dan Ego Penulis

“KETIKA seorang tukang ledeng datang untuk memperbaiki wastafel di rumah saya, saya memperkenalkan diri sebagai penulis. Tukang ledeng itu kemudian memberi saya buku yang ia tulis.”.

Saya hampir tergelak membaca bagian itu. Namun urung karena saya merasa hal tersebut lebih pantas direnungi, alih-alih ditertawakan.

Dalam wawancaranya, sesaat setelah dinominasikan untuk The Man Booker International Prize 2019 untuk kumpulan cerpennya yang berjudul Jokes for the Gunmen, Mazen Maarouf menambahkan bahwa pengalamannya dengan tukang ledeng tersebut membuat dia mengerti bahwa di Islandia, tempat dia tinggal dan menetap sejak 2013 sampai sekarang, tidak ada orang yang luar biasa. Dan, semua orang luar biasa -serta kenyataan bahwa satu di antara sepuluh orang Islandia mungkin akan menerbitkan buku- membuat dia harus mengendalikan egonya.

Intinya, menjadi penulis adalah hal yang biasa saja. Mazen barangkali benar, bisa juga keliru. Namun, kesadaran bahwa menulis merupakan hal biasa dan mudah dikerjakan oleh banyak orang saya anggap sebagai awal yang penting baginya, bagi saya, atau bagi siapa pun yang sepakat. Ini untuk melihat persoalan-persoalan yang ingin ditulis dengan lebih dekat sehingga tidak lantas meledak-ledak menuliskannya. Tepatnya tidak dengan amarah. Sebab, yang sedang dilakukan itu biasa saja.



Keyakinan saya bahwa Mazen menulis dengan tidak marah dan tanpa ambisi menciptakan ledakan semakin kuat ketika membaca Jokes for the Gunmen. Mazen bisa murka dan mengutuk banyak hal -orang tuanya terpaksa lari dari Palestina.

Juga, tak ada yang melarangnya menyumpahserapahi perang dan negara. Dan, jika ingin mengaitkan dengan kehidupan pribadinya, wajar saja rasanya jika dia melihat perang sebagai persoalan hitam putih semata.

Namun, Mazen tak melakukannya. Dia menjadikan mata anak kecil untuk memandang dengan keluguan, lalu memasukkan lelucon-lelucon sehingga kegetiran ceritanya memberi efek yang lebih dalam dan lama -setidaknya bagi saya.

Pendekatan macam itu saya pikir lahir dari kesadaran Mazen bahwa tak boleh ada ego bagi penulis untuk disebut lebih dari orang lain. Penulis mendekati persoalan dan orang lain juga melakukannya. Cerita yang baik ialah cerita yang ditulis tidak dengan tendensi berlebihan. Ketika ditanya apakah dia akan menganggap dirinya sebagai penyair yang politis, Mazen menjawab, saat menulis puisi, sesungguhnya dirinya tidak merencanakan hal tersebut. Dan, dia tidak mempekerjakan puisi untuk tujuan yang politis.

Mazen bukannya tidak marah dan menolak berpihak, di luar cerpen-cerpennya, di berbagai wawancara, berkali-kali tampak sikapnya yang keras. Dia pernah mengatakan, mungkin bodoh untuk memercayai kemanusiaan. Sebab, dari waktu ke waktu manusia membuktikan bahwa mereka adalah ciptaan yang penuh kekerasan.

Pernyataan tersebut adalah kekecewaan dan amarah yang menyatu, secara terus-menerus tertumpuk. Mulai dari kedua orang tuanya yang terusir dari tanah air mereka, intimidasi pemerintah dan militer Lebanon, dukungannya ke Syria, hingga keputusannya menjadi warga negara Islandia, semua secara kolektif menciptakan cara bercerita dan penyampaian gagasan yang khas Mazen.

Meski berkali-kali dikaitkan dengan Julio Cortazar karena sama-sama dipengaruhi perang dan kekerasan serta humornya diidentikkan dengan Bertolt Brecht, Samuel Beckett, dan Franz Kafka, juga gaya berceritanya dianggap senada dengan Etgar Keret, Amy Hempel, dan Roald Dahl, Mazen, sekali lagi, telah mengajarkan satu hal penting tentang bagaimana menghadapi kemarahan. Bahwa kemarahan dalam realitas sosial berbeda dengan kemarahan dalam realitas sastra.

Saya percaya bahwa tidak ada hal lain yang boleh dilakukan dalam keadaan marah. Kalaupun ada, satu-satunya yang bisa dilakukan saat marah adalah marah itu sendiri.

Dari pengalaman saya membaca Mazen, untuk perkara menulis, saya kemudian melihat kemarahan sebagai upaya memberi jeda kepada diri: Bersikap dan berdiri untuk satu pihak adalah satu hal yang penting. Tapi, mencari sebanyak mungkin cara pandang dan memandang sejernih mungkin adalah hal lain yang lebih penting. (*)

*) Penulis, Pendiri Institut Sastra Makassar