Mbuh Nduk, Sing Penting Sehat lan Slamet

JawaPos.com – Banyak desa di berbagai kecamatan di Madiun yang terendam air. Di antaranya 12 desa di Kecamatan Balerejo. Salah satunya adalah Desa Garon.

Saya kenal betul desa-desa di sana. Maklum, kecil hingga besar, saya tinggal di desa itu. Wilayah yang sejak dulu langganan banjir.

Saya masih mengingat masa-masa kecil itu. Betapa senangnya ketika banjir datang. Sekolah diliburkan. Kami bisa bluron alias berenang sepuasnya. Warna air yang keruh tak membuat kami jijik. Berenang bersama bermacam hewan pun, kami tetap tenang.

Akibat curah hujan yang tinggi menguyur wilayah Kabupaten Madiun hampir 10 jam lebih menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan rumah di beberapa wilayah. (RENDRA BAGUS RAHADI/JAWA POS RADA)

Saking asyiknya berenang, kami lupa waktu. Mau pulang jika dipaksa. Saat simbah atau orang tua kami datang. Mereka membawa pecut dari batang beluntas. Bentuknya kecil. Tapi, jika dipukulkan ke badan, waduuuh… sakit betul rasanya.



Banjir yang melanda desa kami di Balerejo tidak selalu besar. Kadang beberapa dusun saja yang tergenang. Volume genangan itu pun tak selalu sama. Sering kali hanya merendam sawah. Ada pula yang sampai di jalan saja. Tidak masuk ke dalam rumah.

Namun, banjir kali ini berbeda. Meluap ke mana-mana. Tak hanya menggenangi sawah dan menutup jalan, banjir juga ”bertamu” ke dalam rumah. ”Bermalam pula”. Dua hari rumah keluarga saya penuh air.

Dimulai pada Rabu (6/3) sore. Tanda banjir tampak sejak Selasa. Kala itu sungai di belakang rumah kami penuh. Jarak sungai dengan rumah sekitar 50 meter. Selasa sore, hujan turun dengan lebat. Rabu dini hari, sawah di belakang rumah terendam. Ibu yang melihat langsung banyaknya air mak tratap. Sambil membatin, ”Jangan-jangan banjir datang lagi.”

Rupanya, perlahan air bah itu terus bergerak. Hari beranjak siang, debit air terus bertambah. Tak hanya di jalan, air juga masuk ke halaman rumah. Kerepotan mengamankan barang pun dimulai. Gabah kering di karung harus diselamatkan. Di angkat ke atas kursi. Beberapa warga meletakkan karung gabah di atas tempat tidur. Kulkas naik ke meja. TV naik ke bufet.

Sorenya, air benar-benar masuk ke rumah. Listrik padam. Air bertahan sampai kemarin malam. Meski air telah surut, bukannya masalah banjir sirna. Justru setelah itu, pekerjaan datang bergiliran. Bersih-bersih rumah. Banjir yang datang tak hanya membawa air. Tapi juga lumpur. Serta beragam sampah daun.

Karena musibah itu, keluarga saya di Balerejo turut mengungsi. Hewan ternak seperti sapi pun diungsikan. Mulai Kamis dini hari (7/3) banyak yang bermalam di kantor kecamatan. Tim penanggulangan bencana membawa mereka dengan perahu karet. Dibawa ke pos pengungsian Kecamatan Balerejo. Sebagian warga yang tidak mengungsi bertahan di tempat aman. Di rumah tetangga yang lebih tinggi.

Salah satu yang bertahan di rumah adalah adik saya. Namun, dia harus menyerah. Kamis sore dia dibawa ke tempat pengungsian. Badannya demam. Dievakuasi dengan menggunakan getek yang terbuat dari susunan batang pisang. Bagian atas diberi dipan. Didorong seorang kerabat.

Bisa dirasakan, betapa lelahnya fisik dan psikis warga di sana. Dulu, saya sendiri, pernah merasakan mengungsi. Saat itu, banjir yang melanda desa kami juga besar. Saya pun ikut mengungsi di tempat penampungan. Selama dua hari bersama puluhan orang. Tapi ya itu, namanya anak-anak, tetap saja senang.

Dari tempat penampungan, saya dan simbah dipindah lagi. Dititipkan di tempat saudara. Rumahnya di kota. Sekitar tiga hari kami di sana. Saat itu sebenarnya banjir sudah tidak ada. Namun, pekerjaan rumah pascabanjir melimpah. Paling utama membersihkan rumah.

Banjir besar di Balerejo pernah terjadi pada 1998 dan 2007. Namun tidak separah banjir saat ini. Meski air masuk rumah, tidak banyak orang yang mengungsi.

Saat banjir seperti ini, banyak tetangga dan kerabat saya yang merugi. Betapa tidak. Panen padi tinggal menghitung hari. Tiba-tiba, padi terendam air. Ka­laupun gabah bisa dijual, tentu harganya tak bisa tinggi karena kualitasnya yang jelek. Mungkin juga ada petani yang kehilangan padi. Sudah dipetik, eh malah hanyut bersama aliran banjir. Nasib.

Padahal, hasil panen selalu digadang-gadang. Karena banjir, semua kini hanya bisa pasrah. Bagi warga di sana, yang paling penting adalah keselamatan dan kesehatan.

Itu pula jawaban ibu saat ditanya bagaimana nasib padi di sawahnya. ”Mbuh Nduk… Sing penting selamet lan sehat (tidak tau Nak… Yang penting selamat dan sehat),” katanya. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (*/c5/git)