Melampaui Kebencian

JawaPos.com – Terpatri di ingatan ketika kali pertama saya mengetahui bahwa telah terjadi pengeboman di Bali. Tindakan pertama saya adalah menghubungi keluarga saya. Saat itu saya tengah merantau ke Jakarta untuk studi S-1 di Prodi Filsafat UI.

Hati menjadi risau dan kekalutan menyergap saat sanak saudara kesulitan menghubungi ayah saya yang sempat mengatakan bahwa dia ada pekerjaan di daerah Legian. Cukup lama menunggu kabar, akhirnya ayah saya mengabari bahwa dirinya kesulitan berkomunikasi, tetapi dalam keadaan yang baik.

Pada satu sisi, saya merasa lega. Tetapi, laporan yang mengatakan bahwa 202 orang terbunuh dalam peristiwa itu menyebabkan duka yang begitu mendalam. Berkecamuk berbagai pertanyaan di dalam benak, mengapa Bali dan siapa yang tega melakukan hal seburuk dan sebengis itu? Dari tengah malam hingga subuh, saya tidak sanggup tidur. Air mata terus mengalir, penuh dengan ketidakpercayaan.

Tragedi bom Bali adalah kejadian yang menyakiti kemanusiaan. Tapi, sebagai orang Bali, saya merasa kepedihan itu menjadi suatu yang lebih personal. Dukacita tersebut mengikuti saya, bahkan hingga memengaruhi saya dalam menyelami dunia filsafat.



Pertanyaan-pertanyaan itu masih membayang-bayangi saya dan tiada hari terlewati tanpa perenungan tentang kejinya kejahatan manusia tersebut. Kejadian di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, menenggelamkan kembali optimisme saya terhadap umat manusia.

Betapa biadabnya tindakan teror itu, membunuh orang-orang yang tengah beribadah. Saya mencoba untuk memikirkan akar dari kejahatan tersebut dan tiba pada kesimpulan bahwa manusia cenderung berserah, bahkan memilih kebencian untuk menguasai dirinya.

Kebencian menjalar pesat, mudah untuk diproduksi, reproduksi, hingga bermanifestasi menjadi kekerasan. Hasutan kebencian disebarluaskan hingga merongrong kehidupan publik yang tenteram.

Kosakata kita pun lekat dengan kebencian. Kita terbiasa dengan kebencian sehingga merasa seolah-olah kebencian itu sesuatu yang alamiah. Tetapi, kebencian merebak luas bukan karena sifat dasar manusia adalah membenci. Ada ketidakpahaman kita terhadap bagaimana kebencian itu ditularkan, dari keengganan berpikir serta kebiasaan yang diterima begitu saja. Lantas, bagaimanakah memutus rantai kebencian itu?

Dalam pertemuan yang digagas Sejuk (Serikat Jurnalis untuk Keberagaman), saya berkesempatan untuk berdiskusi mengenai peliknya merawat perdamaian dan keberagaman di Indonesia. Dalam panel yang bertajuk Bali dan Diversitas, saya bersama dengan Hayati Eka Laksmi, Miftah Faridl, Zulia Mahendra, dan I Gede Ari Astina (Jrx), kami membahas mengenai tragedi bom Bali yang terjadi 17 tahun lalu.

Malam hari itu untuk kali pertama saya berjumpa dengan Hayati Eka Laksmi, istri Himawan Sardjono, korban bom Bali. Juga, Zulia Mahendra, putra Amrozi, terpidana mati pelaku pengeboman. Serta Miftah Faridl, jurnalis yang membuat reportase cerita-cerita para penyintas tragedi bom Bali.

Melalui perjumpaan itu, saya mengevaluasi diri sendiri, sudahkah saya lepas dari jerat kebencian yang mudah menyelubungi manusia? Miftah Faridl, jurnalis CNN Indonesia, menceritakan kendala yang dia lalui untuk memberitakan proses rekonsiliasi pascabom Bali.

Karyanya yang berjudul Belajar Ikhlas dari Para Penyintas menceritakan bagaimana Hayati Eka Laksmi bersama anak-anaknya dipertemukan dengan Zulia Mahendra. Sebelum pertemuan itu, digambarkan bagaimana kedua belah pihak hidup dalam penderitaan.

Hayati Eka Laksmi bersama kedua anaknya, Alif dan Aldi, masih menyimpan dendam. Begitu juga Zulia Mahendra yang hidup dengan stigma anak seorang teroris.

Alif Sardjono, putra sulung Hayati Eka Laksmi, dirundung depresi berkepanjangan. Bahkan, dulu dia bertekad bergabung dengan Densus 88 agar dapat membalaskan dendam kepada para teroris. Sementara itu, Zulia Mahendra hidup dalam diskriminasi karena statusnya sebagai putra Amrozi.

Dia hidup teralienasi, merasa dikucilkan oleh masyarakat. Semasa remaja, Zulia Mahendra bergelut dengan perasaannya, duka mengetahui bahwa ayahnya dihukum mati.

Dia mencintai ayahnya. Tetapi, pada sisi lainnya, dia mengetahui bagaimana tindakan yang dilakukan ayahnya mengakibatkan kematian dan hancurnya kehidupan orang banyak. Dia sempat terhanyut untuk meneruskan wasiat ayahnya. Tetapi, dia mencapai titik balik.

Titik balik itu adalah pertemuannya dengan Hayati Eka Laksmi beserta kedua anaknya. Kini mereka telah menjadi sedemikian dekat. Bahkan, Hayati Eka Laksmi telah menganggap Zulia Mahendra sebagai putranya. Di depan monumen bom Bali di Kuta, mereka saling merangkul dan menangis.

Hayati Eka Laksmi mengatakan bahwa dendam dan kemarahan tidak akan mengembalikan suaminya. Kini dia hidup mewartakan perdamaian, menghilangkan beban dendam dalam hatinya. Begitu pula Zulia Mahendra.

Melalui Yayasan Lingkar Perdamaian, dia bertekad menolong para napi teroris/eks kombatan agar selepas keluar dari lapas tidak lagi terseret ke dalam gerakan-gerakan kekerasan. Dia mengatakan kepada saya, itulah jihadnya sekarang, demi perdamaian. Kini dia memiliki seorang istri dan anak. Karena itu pula, dia ingin menciptakan dunia yang tidak lagi terkepung kebencian dan kekerasan.

Hari itu harapan tumbuh lagi di dalam diri. Saya teringat kata-kata Emmanuel Levinas bagaimana wajah bertemu dengan wajah yang lain, berupaya melampaui kecurigaan, kebencian, dan segala segregasi. Sejatinya, untuk melepaskan diri dari belenggu kebencian, dibutuhkan kerelaan dan belas kasih. (*)

Editor           : Ilham Safutra