Melampaui Simbolisme Haji

Melampaui Simbolisme Haji

MUSIM haji kembali tiba. Pihak otoritas Kerajaan Arab Saudi telah menetapkan hari wukuf di Arafah pada Sabtu, 10 Agustus 2019. Pada hari itu pelaku ibadah haji dari seluruh dunia berkumpul jadi satu di Padang Arafah. Sebuah pemandangan masif-kolosal yang menakjubkan!

Dalam konteks ini, para pelaku haji perlu memahami dan memaknai seluruh rangkaian manasik haji agar makna dan nilai simbolisnya bukan sekadar ritual belaka. Tetapi berfungsi sebagai energi positif yang dapat ditransformasikan dalam laku kehidupan nyata.

Seorang cendekiawan muslim Iran, Ali Shari’ati, telah menarasikan dengan baik makna filosofis seluruh rangkaian ibadah haji melalui sebuah karya kecil berjudul Hajj: Al-Fard al-Khamisah (1992). Menurut dia, ibadah haji bukan sekadar ritual dengan memakai ihram, tawaf (mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran), sai (berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwa), wukuf (berdiam diri) di Arafah, melempar jumrah (di tiang jamarat) di Mina, dan tahalul (mencukur rambut).

Lebih dari sekadar ritual, serangkaian ibadah tersebut mengajarkan nilai-nilai filosofis yang sarat makna dan relevan bagi perbaikan kualitas hidup si pelaku. Melalui ibadah haji, segala bentuk kebobrokan dan dekadensi moral manusia semestinya dapat direstorasi.



Makna Simbolik Haji

Memakai kain ihram yang serbaputih, misalnya, mengajarkan kesamaan derajat dan egalitarianisme di kalangan manusia. Di Tanah Suci setiap pelaku haji diperlakukan sama, terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, politik, dan kebangsaan si pelaku haji.

Sementara itu, tawaf mengajarkan gerak dinamis yang dilakukan setiap manusia dalam ritme kolektivitas yang terorkestrasi secara sosial. Perubahan tidak akan terjadi jika dalam sebuah masyarakat tidak terjadi gerak progresif ke arah lebih baik. Konsekuensinya, siapa pun yang berjalan menentang gerak progresif tawaf akan terlindas oleh kerumunan masa para mutawif.

Di sisi lain, sai melambangkan nilai-nilai optimisme dan perjuangan tanpa putus asa dalam mencari solusi bagi berbagai persoalan hidup manusia. Semangat perjuangan semacam inilah yang pernah diajarkan Ibunda Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, ketika harus menemukan solusi bagi anaknya, Ismail AS, yang menangis tanpa henti karena kehausan. Akhirnya Allah memberikan keajaiban kepada Hajar berupa keluarnya air zamzam dari injakan kakinya.

Demikian juga wukuf di Arafah yang bermakna berdiam diri untuk senantiasa berzikir dan bermuhasabah. Wukuf mengajarkan kepada kita bahwa manusia harus menjadi makhluk yang reflektif, penuh pertimbangan, dan bijak dalam bertindak atau menyikapi setiap persoalan yang dihadapi. Manusia tidak boleh gegabah dalam melakukan sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya dan sesama manusia.

Selanjutnya adalah melempar jumrah yang melambangkan upaya simultan mengusir keburukan dari hati manusia yang dipenuhi kecongkakan, angkara murka, dendam, dengki, iri hati, dan semacamnya. Sifat-sifat semacam inilah yang dapat menyebabkan manusia terjerumus dalam perilaku saling menghancurkan dan menghinakan diri sendiri.

Yang terakhir adalah tahalul, mengajarkan pentingnya pembebasan jiwa, kesadaran nurani, dan akal budi menuju kesempurnaan hidup. Dari sinilah peradaban adiluhung yang diwarnai sikap saling respek dan toleransi bermula.

Di atas itu semua, syarat-rukun haji menyimbolkan pentingnya prinsip taat asas (good governance) dalam kehidupan bersama, berbangsa, dan bernegara.

Belenggu Simbolisme

Sayangnya, banyak pelaku haji yang hanya bertungkus lumus dengan aspek simbolisme haji (fikih) sehingga mereka abai terhadap relevansi dan signifikansi transformatifnya dalam kehidupan manusia.

Haji mabrur hanya dimaknai sebagai meningkatnya frekuensi ibadah mahdlah sepulang dari Tanah Suci. Kemabruran haji diceraikan dari kesalehan sosial-publik. Akibatnya, ibadah haji yang dilakukan tidak mampu menyuntikkan energi positif dalam proses transformasi sosial ke arah lebih baik.

Kuantitas pendaftar haji memang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di daerah tertentu, daftar tunggu naik haji bisa sampai 25–32 tahun! Sebuah bilangan yang cukup mencengangkan. Tapi, bagaimana efek transformasi ibadah haji bagi perbaikan kualitas hidup masih menjadi pertanyaan besar yang wajib direnungkan bersama.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai persoalan bangsa tetap bergeming di negeri ini: rasio gini, pengangguran, kematian ibu melahirkan, penderita gizi buruk, kriminalitas, dan angka kemiskinan masih relatif tinggi. Di sisi lain, indeks pembangunan manusia (IPM), indeks harapan hidup, indeks daya saing bangsa, dan indeks demokrasi masih rendah.

Keluar dari Simbolisme

Melihat betapa kompleksnya persoalan yang membelit bangsa ini, tidak ada jalan lain kecuali keluar dari cangkang simbolisme ritual (haji) menuju pemaknaan yang lebih relevan dan kontekstual. Pertama, manusia harus dijadikan sebagai sentrum dari seluruh rangkaian ibadah haji. Manusia sebagai pelaku haji berfungsi sebagai subjek sekaligus objek ibadah haji. Manusia menjalankan ibadah haji bukan sekadar untuk memenuhi rukun Islam yang kelima, tetapi karena ada tuntutan untuk menyempurnakan kebaikan dan kemaslahatan bagi sesama manusia.

Kedua, mendekatkan jarak ritual haji dengan kehidupan manusia. Kebaikan, relevansi, dan vitalitas haji adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan malah abai terhadap berbagai persoalan hidup mereka. Para pelaku haji harus memiliki kesadaran bersama bahwa nilai guna dan manfaat haji adalah untuk memperbaiki kehidupan terdekatnya ’’di sini’’, bukan kehidupan terjauhnya ’’di sana’’ (akhirat).

Ketiga, mengaksentuasi nilai transformatif haji untuk mengatasi berbagai problematika kehidupan kontemporer. Nilai-nilai transformatif haji seperti egalitarianisme, gerak dinamis-progresif, optimisme dan perjuangan hidup, pembebasan jiwa dan akal budi, dan prinsip taat asas (good governance) merupakan nilai-nilai inti yang harus melandasi kehidupan bersama menuju masyarakat adil, makmur, dan bahagia (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur). (*)

*) Guru besar dan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, sedang menjadi calon jamaah haji di Tanah Suci