Membangkitkan Lagi Kebangsaan Kita

PARA perintis kemerdekaan negara Republik Indonesia telah berhasil mengajak masyarakat untuk move on. Dari gerakan dan perjuangan yang bersifat kedaerahan menjadi gerakan nasional. Hal itu ditandai berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Hari ini tepat seratus tujuh belas tahun, tantangannya pun bukan lagi penjajahan atau kolonialisme. Pada era global ini, tantangan dan lawan justru sangat berat. Tantangannya adalah melawan negara-negara mitra yang sesungguhnya adalah kompetitor di kawasan regional maupun internasional.

Sejak 2015, perdagangan bebas kawasan ASEAN dibuka. Bagaimanakah bangsa ini mempersiapkan diri untuk memenangi persaingan ketat di kawasan ASEAN? Tampaknya, bangsa ini belum menunjukkan kesiapan untuk memenanginya. Masyarakat di negeri ini masih bangga apabila mampu mempunyai dan menggunakan produk-produk bermerek asing. Juga jasa yang berasal dari asing.

Karena itu, tantangan nasionalisme dan kebangsaan pada era sekarang ini adalah membangkitkan kembali kebangkitan bangsa untuk memenangi persaingan global yang sudah di depan mata itu.



Harus diingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang pernah dijajah selama 350 tahun atau tiga setengah abad. Namun, derita leluhur yang sekian lama dikuasai bangsa lain itu seakan telah tersembuhkan setelah merdeka. Padahal, kemerdekaan hanyalah membebaskan generasi berikutnya, bukan ’’membalaskan dendam’’ derita dan kekalahan para leluhur.

Dua negara di kawasan Asia yang paling cepat kemajuannya setelah terpuruk pasca-Perang Dunia II adalah Jepang dan Korea Selatan. Jepang kalah perang setelah bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima pada 6 dan 9 Agustus 1945 oleh tentara sekutu. Kekalahan Jepang menjadi pintu percepatan kemerdekaan negara yang dijajah Jepang, yakni Korea dan Indonesia.

Pantas menjadi pelajaran bagi kita semua, Jepang yang hancur pada 1945 begitu cepat melejit menjadi negara industri yang menguasai dunia. Bahkan, boleh dikatakan Jepang ’’menjajah’’ Indonesia lagi melalui teknologinya, baik itu elektronik, mesin industri, maupun otomotif.

Jepang menjadi negara yang rakyatnya bersatu, nasionalismenya tinggi, dan menjaga nilai-nilai luhur bangsanya dengan sangat baiknya. Ada satu catatan yang pantas kita renungi untuk mengetahui mengapa kemajuan Jepang begitu dahsyat. Satu hal adalah pola pendidikan di Jepang. Pendidikan awal di Jepang tidak mengajarkan ilmu-ilmu dan pengetahuan seperti pada umumnya dunia pendidikan.

Pada awal pendidikan, yang ditanamkan kepada peserta didik adalah nilai-nilai kebangsaan, integritas, kesetiakawanan, kejujuran, saling menolong, saling menghormati, dan yang paling penting penanaman semangat untuk: mengalahkan Amerika Serikat. Dan, tidak membutuhkan waktu lama, Jepang telah melampaui Amerika Serikat, negara yang dengan sekutunya berhasil mengalahkan Jepang.

Demikian pula Korea Selatan. Negara yang semula dijajah Jepang tersebut, begitu merdeka, tidak bisa secara langsung mengisi kemerdekaannya, tetapi masih ada satu ganjalan berat, yakni perang saudara. Perang saudara Korea Selatan dengan Korea Utara yang sampai saat ini sesungguhnya ’’belum selesai’’ itu menghancurkan Korea Selatan menjadi desa-desa berdebu dan compang-camping.

Bagai sebuah mukjizat, Korea Selatan yang sumber daya alamnya sangat terbatas kini menjadi negara industri yang begitu diperhitungkan dunia. Bahkan, produk industri dan teknologi Korea Selatan turut ’’menjajah’’ Indonesia, bahkan sampai pada budayanya. Korea Selatan membangun negaranya dengan pola pendidikan yang mengutamakan integritas, kejujuran, nasionalisme, toleransi, dan yang paling penting spirit untuk mengalahkan Jepang.

Indonesia yang merdeka pada 1945 mempunyai sejarah yang mirip dengan Korea Selatan. Merdeka setelah kekalahan Jepang dari sekutu. Dan, dengan heroiknya pada 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Soekarno-Hatta menjadi presiden dan wakil presiden kali pertama

Sayang, pengisian kemerdekaan RI tidak sedahsyat Jepang dan Korea Selatan. Indonesia masih berstatus mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa ASEAN lainnya, bahkan dari negara tetangga. Mengapa begitu?

Bisa jadi pola pendidikan di negara ini perlu direvolusi. Pendidikan kita lebih menguatamakan pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan sehingga sejak dini anak-anak sudah dibebani berbagai tugas pelajaran yang sangat berat. Penanaman spirit untuk kemajuan bangsa ini belum memadai. Pendidikan kita mengajarkan ’’gantunglah cita-citamu setinggi langit’’ tanpa uapaya memberikan semangat untuk mencapai cita-cita yang setinggi langit itu.

Akibatnya, orientasi peserta didik untuk masa depannya adalah untuk menjadi dokter, tentara, polisi, pilot, insinyur, hakim, jaksa, pramugari, dan sebagainya. Orientasi pendidikan yang sangat sederhana. Kesuksesan pun diukur apabila mereka telah menjadi seperti apa yang dicita-citakan sekaligus telah mengumpulkan properti apa saja.

Penyelenggaraan pendidikan di negara ini belum memberikan kontribusi dalam menanamkan nilai-nalai nasionalisme,. Alih-alih ke hal yang bernilai kebangsaan, penyelenggara pendidikan di negara ini masih asyik di area seleksi siswa baru dan pelaksanaan ujian akhir.

Semua itu mendapat jawaban dari situasi kenegaraan yang masih berebut kekuasaan ketimbang bagaimana memajukan bangsa ini dari ketertinggalan. Sudah saatnya dilakukan revolusi nilai-nilai kebangsaan yang termuat dalam dasar negara kita Pancasila sehingga menjadi bangsa yang berpancasila secara utuh. Bangsa yang mempunyai kebanggaan dengan kebangsaannya. Sudah saatnya pula sejak awal ditanamkan kepada masyarakat untuk selalu jujur, bekerja sama, saling menolong, berintegritas, dan yang paling penting bersemangat untuk memenangi persaingan di kawasan ASEAN atau bahkan internasional.

Inilah tonggak untuk membangkitkan kebangkitan bangsa yang telah ditanamkan lebih dari seabad yang lalu. Agar bangsa ini tidak menjadi bangsa penikmat hasil teknologi bangsa lain sehingga bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain dengan kepala tegak. Bangkitkan kebangkitan bangsa kita. Rasanya belum terlalu terlambat untuk memulainya. (*)

*) Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang