Membangun Ekosistem Digital lewat Double Track

PEMERINTAHAN Joko Widodo (Jokowi) pada periode kedua akan menggelontorkan anggaran Rp 10 triliun –sebagaimana janji dalam kampanyenya– untuk memfasilitasi para pencari kerja (baca: penganggur) dengan berbagai pelatihan agar siap kerja. Januari 2020 diharapkan program ini sudah berjalan. Program ini dijalankan dengan basis digital (Jawa Pos, 13 November 2019).

Terkait dengan program pelatihan berbasis digital, Pemprov Jawa Timur (Jatim) melalui dinas pendidikan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya patut berbangga diri. Sebab, sesungguhnya sejak pertengahan 2018, dua institusi tersebut sudah merintis pelaksanaan hal itu lewat program SMA/MA double track (DT). Sasarannya memang bukan para penganggur, melainkan para siswa SMA/MA yang duduk di kelas XI yang kelak memasuki dunia kerja.

Pemilihan siswa SMA/MA dalam program DT sangat realistis. Sebab, data pada Februari 2019 di Jatim mencatat, jumlah angkatan kerja sebanyak 21,59 juta orang (naik 584 ribu orang dibandingkan Februari 2018) dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga meningkat 1,31 poin, di mana dalam setahun terakhir penganggur bertambah 16,82 ribu orang. Angka-angka tersebut diproyeksikan akan terus bergerak negatif mengikuti pertumbuhan ekonomi dunia, regional, dan nasional yang diperkirakan juga turun. Karena itulah salah satu kebijakan DT dipilih untuk sebuah program keberpihakan di dalam menekan jumlah angka pengangguran dan atau menciptakan lapangan kerja baru.

Sudah tentu program ini tidak terkait langsung dengan program kartu pekerja. Meski demikian, melalui program SMA/MA DT, Jatim selangkah lebih maju. Bukan pada upaya menyiapkan para pencari kerja, melainkan membekali para siswa yang kelak memasuki dunia kerja melalui berbagai keterampilan lewat pelatihan berbasis digital. Selangkah lebih maju, membekali para calon pencari kerja. Sebab, faktanya jumlah angka pengangguran terbuka didominasi oleh lulusan SMA dan SMK. Diharapkan, melalui program SMA/MA DT, Jatim dapat menurunkan jumlah angka pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan SMA.

Teknologi Digital

Pemilihan pelatihan berbasis digital memang bukan tanpa alasan. Sebab, sesungguhnya digitalisasi telah merasuk ke berbagai sektor dunia usaha, industri, serta terbukti menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru. Pekerjaan baru ini menuntut keterampilan dan adaptasi di dalam penggunaan teknologi, terutama teknologi informasi. Banyak pekerjaan yang digantikan dengan sistem robot, kecerdasan buatan, maupun analisis big data.

Untuk dapat memenuhi peluang kerja yang ada, para lulusan harus meningkatkan kapasitas. Langkah ini bisa dilakukan lewat pelatihan, kursus, dan sertifikasi. Para pelaku usaha ataupun industri harus dilibatkan dalam upaya ini supaya peningkatan kapasitas bisa sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Para lulusan diharapkan mempunyai kompetensi keterampilan dan penguasaan bidang teknologi, terutama teknologi digital. Kemampuan ini penting dan menjadi modal lulusan untuk meraih kesempatan kerja maupun wirausaha seiring dengan tumbuhnya marketplace online maupun lapangan pekerjaan baru di bidang online ataupun e-commerce.

Dunia pendidikan diharapkan mampu berperan aktif untuk mempersiapkan para siswa dalam menghadapi perubahan ini. Kurikulum yang ada dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan terkait dengan dunia usaha dan dunia industri.

Ekosistem digital adalah kunci terjadinya pemerataan ekonomi masa depan. Membangun ekosistem digital yang terhubung dengan dunia pendidikan atau sekolah merupakan tuntutan kebutuhan para lulusan. Supaya mereka yang tidak berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi tidak bingung dan menganggur.

Untuk itu, di dalam ekosistem DT dibangun ruangtraining.net yang mewajibkan peserta untuk terus meng-update keterampilan. Berbagai bidang keterampilan, mulai tata busana, elektronika, boga, multimedia, dan lainnya, tersedia dalam bentuk online berupa media artikel dan video. Dengan begitu, bekal pelatihan dasar yang diikuti selama sekolah bisa terus dikembangkan kompetensinya melalui sarana belajar online.

Selain itu, mereka yang sudah selesai dan ingin bekerja bisa mengikuti program di ruangkarir.net. Platform aplikasi ini memuat curriculum vitae, portofolio, dan contoh beberapa produk yang dihasilkan siswa. Perusahaan yang ingin membuka lowongan pekerjaan bisa memilih calon pekerja berdasar kriteria tertentu di dalam ruangkarir. Sedangkan bagi lulusan, mereka bisa memilih lowongan-lowongan pekerjaan yang ditawarkan dengan melengkapi berkas digital, tanpa harus disibukkan membuat lamaran, mencetak foto, dan memasukkan ke amplop untuk dikirim.

Membangun ekosistem digital yang kompetitif tidak hanya menjadi pekerjaan rumah pemerintah, tetapi juga secara bersama-sama melibatkan pihak sekolah ataupun mitra DUDI (dunia usaha dan dunia industri) sebagai bagian yang menggunakan lulusan yang sudah tersertifikasi.

Hal ini berkaitan dengan kompleksitas ekosistem digital yang memerlukan kerja cepat dan tangkas dalam komunitas daring. Ini penting diperhatikan mengingat ekosistem digital yang kompetitif merupakan cara strategis agar disrupsi digital dapat menjadi peluang bagi setiap lulusan yang tidak melanjutkan sekolah.

Belajar dari apa yang sudah dilakukan melalui program DT di Jatim, dengan diawali membangun ekositemnya terlebih dahulu, kiranya ke depan program kartu pekerja dengan pelatihan berbasis digital dapat terlaksana dengan baik. Semoga. (*)


*) Fajar Baskoro, Dosen Fakultas Teknologi Informasi ITS dan fasilitator program double track Dinas Pendidikan Pemprov Jatim-ITS