Memilih Pemimpin yang Sehat

Para kandidat semakin gencar bergeriliya. Mereka dan tim suksesnya terus berusaha meyakinkan masyarakat. Setiap penjuru kota pun dibuat semarak dengan foto dan tagline para kandidat. Semuanya berjuang siang dan malam demi menjemput kemenangan.

Sah-sah saja memang, karena menang adalah esensi dari sebuah kompetisi. Apalagi dengan kondisi pesta demokrasi hari ini yang menuntut biaya sangat tinggi.

Maka memang kemenanganlah yang mampu menghilangkan dahaga dari setiap pengorbanan waktu, tenaga, dan materi para kandidat. Bahkan untuk mencapai kemenangan itu. Tidak sedikit dari para calon kepala daerah tersebut yang berani mengalalkan segala cara. Dilematis memang. Tapi inilah realita demokrasi kita hari ini.

Represntatif Pemilih



Perlu kita ingat. Output Pilkada adalah pemimpin, yang akan menjadi nahkoda pembangunan dan pelayanan masyarakat 5 tahun ke depan. Jadi inilah titik awal kemajuan atau kemunduran suatu daerah. Baik pemimpinnya, baik juga kotanya. Begitu juga sebaliknya, kalau salah pilih, maka jangan harap akan ada perubahan menanti kita.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pilkada masih menempatkan uang sebagai faktor dominan yang menentukan terpilih seorang kandidat.

Kekuatan uang seakan menjadi parameter utama dalam kontestasi pilkada. Kapasitas dan kapabilitas calon kepala daerah tidak menjadi penilaian utama. Bukan visi-misi yang dilihat. Tapi, Siapa yang banyak ngisi-ngasih amplop itu yang akan dipilih.

Begitu pun dengan para kandidat. Mereka akhirnya tidak lagi fokus menjelaskan vis-misinya dalam membangun daerah. Kandidat dan timsesnya sibuk mengikat simpul-simpul massa yang kemudian diiming-imingi materi agar kemudian mau memilih dirinya. Dialetika tentang pembangunan daerah semakin sulit ditemui. Transaksional dan pragtisme politik akhirnya tumbuh subur.

Kita tentu pernah mendengar, bahwa 10 hari terakhir pemilihan adalah titik krusial kemenangan seorang kandidat. Di rentang waktu inilah harus dilakukan penguncian, memastikan berapa besar suara bisa dia peroleh.

Celakanya, proses ini biasanya berujung pada money politic, atau yang lebih dikenal dengan “serangan fajar”. Fenomena yang telah dianggap wajar dalam dunia politik Indonesia. Sesuatu yang sering dihujat, tapi juga dirindukan.

Suka tidak suka. Faktor uang masih menjadi dasar utama mayarakat dalam menentukan pemimpinnya. Bahkan menurut survey KPK (2013), sebanyak 71,72% masyarakat menganggap politik uang hal yang lazim dalam pemilu.

Fakta inilah yang akhirnya melegetimasi kewajaran terhadap perilaku kepala daerah yang cenderung mementingkan diri sendiri dan ujung-ujungnya terjerat korupsi.

Ada kata bijak yang mengatakan, bahwa pemimpin itu representatif pemilihnya. Bila selama ini, rakyat menganggap bahwa para pemimpin daerahnya tidak berpihak pada mereka. Seharusnya mulai melihat permasalahan itu dari diri sendiri. Pemilih seperti apa kita, sehinggah dipimpin oleh pemimpin yang tidak amanah.

Pemilih yang sehat

Kalau tidak ingin siklus ini berulang, maka harus dipastikan pada tanggal 27 Juni 2018 nanti, rakyat harus “sehat” dalam memilih. Sehat dalam artian, memilih dengan akal sehat yang berdasarkan hati nurani.

Bukan Karena iming-iming uang. Tapi benar-benar menjadi pemilih yang rasional dan objektif dalam menilai jejak rekam setiap kandidat.

Berdasarkan data ICW, dari kurun waktu 2010-2017 sudah 215 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Sekali lagi ini adalah hasil dari produk Pilkada yang tidak sehat.

Ketika rakyatnya tidak menjadi pemilih sehat. Mengabaikan integritas, kapasitas, dan kapabiltas calon pemimpinnya. Maka yang terpilih sudah pasti juga tidak akan sehat.

Pilkada serentak 2018 ini harus jadi momentum untuk memilih pemimpin yang sehat. Bagaimana caranya? Caranya tentu dengan teliti dalam memilih pemimpin. Pilihlah yang memang tulus mengabdi demi kepentingan masyarakat. Pastikan itu dimulai dari kita. Karena mustahil rasanya, mengharapkan perubahan, tanpa mau memulai dari diri sendiri.

Kemudian suarakan semangat ini ke keluarga dan lingkungan kita. Biar dalam Pilkada nanti semakin banyak masyarakat yang menentukan pilihannya secara sehat.

Cukup sudah kita mengulangi kesalahan yang sama. Saatnya kita berikrar untuk jadi garda terdepan dalam membangun iklim demokrasi yang sehat. Anti terhadap money politic. Yakinkan diri kita untuk memilih pemimpin yang jujur, bersih, dan amanah. Mari Kita jadikan Pesta demokrasi yang menghabiskan anggaran sebesar 11,59 T ini, membawa manfaat besar bagi kemajuan daerah dan Indonesia.

Menuju Demokrasi yang sehat

Berkaca pada proses demokrasi saat ini. Bisa dikatakan, wajar bila produknya belum mampu mencetak pemimpin besar yang revolusioner. Kondisi demokrasi Indonesia memang masih belum sehat. Masih panjang proses demokratisasi yang harus dilalui agar masyarakat siap jadi pelaku demokrasi yang sehat dan tidak lagi terjebak dengan politik pencitraan belaka.

Pesta demokrasi harus menjadi ajang penyatuan visi kita sebagai bangsa. Momentum memilih nahkoda terbaik untuk kepentingan bersama. Dimana intergritas, kapasitas, dan kapabilitas yang menjadi dasar utama.

Kita bisa ambil contoh baik dari demokrasi Amerika Serikat, dimana Obama mampu menjadi presiden di negara adidaya tersebut. Padahal Obama, berkulit hitam dan minoritas. Hal ini, menunjukkan masyarakat Amerika Serikat sudah sangat rasional dalam memilih.

Mereka benar-benar menggunakan akal sehatnya, sehingga jumlah pemilih transaksional, dan pragmatis semakin sedikit. Masyarakat sudah tidak peduli lagi siapa dan dari mana dia, yang penting jejak rekam serta kualitas pribadi dan kemampuannya benar-benar teruji dan layak menjadi seorang pemimpin.

Masyarakat Amerika, memang dalam segi pendidikan dan kesejahteraan hidup rata-rata ada di atas kita. Tapi itu bukan halangan. Rakyat Indonesia bisa merintis itu. Kita bisa mulai dengan menjadi pemilih yang sehat.

Pemilih yang mendengarkan hati nurani dan akal sehatnya. Memilih pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas, dan kapabilitas. Hal ini tidak bisa kita tunda-tunda lagi. Mari kita buktikan dalam Pilkada serentak 27 Juni 2018 nanti. Tunjukkan bahwa rakyat Indonesia sudah siap membangun demokrasi yang sehat dan juga siap memilih pemimpin-pemimpin yang sehat.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indosmep
(Indonesia Sosial Media/www.indosmep.com)


(mam/JPC)