Memperingati Hari Pahlawan, Kisah di Surabaya

SETIAP memperingati Hari Pahlawan pada 10 November, kita senantiasa teringat Pertempuran Surabaya yang heroik itu. Kita hafal berbagai peristiwa yang berkaitan dengannya: insiden bendera, terbunuhnya Brigjen Mallaby, ultimatum Inggris, seruan Bung Tomo, resolusi jihad, dan kontak senjata di Surabaya sepanjang November 1945. Namun, ada salah satu aspek dari pertempuran itu yang nyaris dilupakan orang, bahkan mungkin oleh orang Surabaya sendiri. Yakni bagaimana Pertempuran Surabaya digambarkan ke dunia luar oleh propagandis republiken.

Di dalam negeri kala itu, pertempuran tersebut dianggap sebagai upaya Inggris untuk menghalangi kemerdekaan Indonesia dan memberi jalan pada kembalinya Belanda. Ide semacam itu terbukti mampu menggerakkan arek-arek Suroboyo untuk melawan.

Namun, bagi audiens luar negeri, yang menganggap sekutu –sebagai pemenang Perang Dunia II– berhak mengambil langkah militer apa pun untuk mengendalikan situasi pascaperang di Surabaya, ide tersebut belum cukup untuk menggerakkan simpati mereka pada penderitaan warga Surabaya. Diperlukan cara lain untuk meyakinkan mereka.

Caranya adalah komparasi antara peristiwa yang terjadi di Surabaya dan peristiwa terkenal di belahan dunia lain. Ada dua peristiwa yang beberapa kali dibanding-bandingkan dengan Pertempuran Surabaya: Pembantaian Amritsar dan Pertempuran Stalingrad.



Sebuah surat kabar prorepublik yang terbit di Jakarta, Berita Indonesia, pada 12 November 1945 menurunkan berita utama berjudul Soerabaja djadi Amritsar ke II. Peristiwa yang disebut itu, Pembantaian Amritsar, mengacu pada sebuah insiden di Amritsar, India, pada 13 April 1919. Kala itu setidaknya 10.000 orang India berdemonstrasi untuk menuntut otonomi politik dari Inggris.

Muhammad Yuanda Zara
(Jawa Pos Photo)

Tanpa peringatan, pasukan yang berada di bawah Inggris menembaki kerumunan tersebut. Alhasil, 379 orang tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa itu kemudian menjadi titik penting nasionalisme dan kemerdekaan India.

Kemarahan kepada Inggris meluas. Pemenang Nobel Rabindranath Tagore memutuskan untuk mengembalikan gelar kesatria yang diterimanya dari Inggris. Pemimpin nasionalis India Mahatma Gandhi kian kuat berupaya memerdekakan India.

Komparasi yang dilakukan pers republiken itu terutama sekali ditujukan kepada orang Indonesia yang berpengetahuan serta koresponden asing di Jawa. Perbandingan tersebut menyampaikan pesan bahwa Inggris sekali lagi melakukan pembantaian berdarah terhadap kaum pribumi yang hanya ingin merdeka dari penjajahan asing.

Di Amritsar pada 1919, ratusan orang India tewas oleh pasukan yang dikendalikan Inggris. Di Surabaya pada 1945, ribuan orang Indonesia meninggal dan ribuan lainnya harus mengungsi lantaran bombardir Inggris. Kesan yang juga muncul, setelah dua dekade, Inggris masih juga bersikap imperialistis.

Dan sama seperti di Amritsar, Pertempuran Surabaya adalah tonggak sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kian banyak orang yang percaya bahwa Republik memiliki basis dukungan publik yang luas serta pasukan yang relatif terorganisasi, bersenjata, dan berani.

Perbandingan kedua adalah antara Pertempuran Surabaya dan Pertempuran Stalingrad. Para mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Mesir pada akhir 1945 turut mempropagandakan eksistensi Republik Indonesia kepada penduduk Mesir.

Mesir sendiri kala itu berada di bawah Inggris. Untuk menunjukkan besarnya skala serbuan Inggris ke Surabaya dan kuatnya perlawanan masyarakat Surabaya, para mahasiswa tersebut mempropagandakan kepada warga Mesir bahwa pertempuran yang terjadi di Surabaya mirip dengan Pertempuran Stalingrad di Rusia.

Pertempuran Stalingrad terjadi pada 17 Juli 1942–2 Februari 1943. Itu merupakan salah satu pertempuran terbesar pada masa Perang Dunia II, melibatkan lebih dari 2 juta serdadu. Nazi menyerang Stalingrad dari darat, udara, dan sungai.

Namun, pasukan Rusia berhasil mempertahankan kota industri penting tersebut. Efeknya luar biasa. Rusia menang dan ekspansi Nazi di front timur pun terhenti.

Bila perbandingan antara Surabaya dan Amritsar berfokus pada kekejaman Inggris serta penderitaan masyarakat setempat yang mendambakan kemerdekaan, perbandingan antara Surabaya dan Stalingrad berfokus pada kegigihan serta keberhasilan warga kota tersebut dalam menahan serbuan pasukan asing (Nazi Jerman di Stalingrad dan Inggris di Surabaya).

Jumlah pasukan dan persenjataan pasukan Rusia jelas melebihi pejuang republiken. Namun, ide pokoknya, serbuan dari pihak luar terhadap suatu kota tidak akan berhasil selama ada perlawanan masif dan kuat dari warga kota itu.

Ada kemiripan bagaimana kedua kota tersebut dikenang. Keduanya sama-sama dianggap sebagai kota pahlawan di negara masing-masing. Memori tentang kedua pertempuran tersebut juga diabadikan dalam berbagai bentuk, mulai monumen, nama jalan, hingga budaya populer seperti film (film Stalingrad dan Battle of Surabaya).

Pemimpin negara masing-masing mengenangnya saat upacara peringatan pertempuran tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin, umpamanya, pada 2013 mengunjungi tugu peringatan Pertempuran Stalingrad dan menaruh karangan bunga di sana.

Di Indonesia, Presiden Soekarno memberikan penghormatan besar kepada Surabaya sebagai Kota Pahlawan pada peringatan Hari Pahlawan tahun 1959. Puncak peringatannya diadakan di Alun-Alun Utara Jogjakarta dan dihadiri ribuan orang.

Soekarno menyebut, bagi bangsa Indonesia, 10 November adalah ”salah satu hari besar yang menjadi mercusuar, yang menjadi monumen batin, monumen jiwa, monumen roh, dan monumen semangat” (Kedaulatan Rakjat, 11 November 1959). Pendeknya, Hari Pahlawan, kata Soekarno, tak ubahnya geestelijk monument (monumen mental).

Soekarno menerangkan bahwa Candi Prambanan dan Borobudur adalah monumen bersejarah, sedangkan 10 November adalah monumen mental yang ”harus menjiwai semangat kita dalam meneruskan perjuangan menyelesaikan revolusi”.

Maka, bagi Soekarno, peringatan 10 November semestinya membantu Indonesia untuk mencapai tujuan akhir perjuangan ini, yakni terselenggaranya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. (*)


(* Sejarawan, PhD di Universiteit van Amsterdam)