Menang-Kalah

JawaPos.com – Menang adalah satu hal. Menghormati pihak yang kalah dan memenangkan hatinya ialah hal lain. Kalah adalah satu soal. Menerima kekalahan dan mengakui kemenangan pihak lain adalah soal lain.

Joko Widodo (Jokowi), setelah Mahkamah Konstitusi menolak semua gugatan yang diajukan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, telah menyatakan kepada kita bahwa kini tak ada lagi kubu 01 dan 02. Yang ada dan wajib selalu ada ialah persatuan Indonesia.

Kita, atau setidaknya saya, masih menunggu pernyataan politik dari Prabowo-Sandiaga atas kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Menghormati putusan Mahkamah Konstitusi adalah satu sikap. Menerima kemenangan Jokowi-Ma’ruf adalah sikap berikutnya. Ini menjadi penting sejak tidak kita temukan statement itu pada pidato Prabowo pasca putusan mahkamah.

Alih-alih mengumumkan sikap seutuhnya legawa, Prabowo masih akan berkonsultasi kepada tim hukum tentang masihkah ada langkah hukum dan langkah konstitusional berikutnya. Prabowo juga menyatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kebenaran dan keadilan yang hakiki kepada Allah SWT.



Apakah berserah total kepada Allah adalah sikap yang salah? Apakah bertawakal harus didahului sikap menerima kekalahan? Tentu banyak dalil dan dalih yang bisa dibahas di majelis-majelis keagamaan, forum-forum akademik, podium-podium politik, mimbar-mimbar pergerakan. Tapi, seluruhnya selalu kembali kepada lubuk hati yang terdalam.

Perasaan tidak pernah salah dan perasaan tidak pernah kalah bukanlah kemenangan itu sendiri. Sedangkan untuk menyerahkan sepenuhnya kebenaran dan keadilan yang hakiki, diperlukan keberanian dan mawas diri yang luar biasa. Mahkamah Allah melebihi mahkamah mana pun dan pembuktian oleh Dia Yang Maha-Adil tak meleset sedikit pun.

Allah lebih mengetahui daripada siapa pun tentang seluruh rahasia langit dan bumi, dan seluruh hal yang kita nyatakan maupun yang kita sembunyikan, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Baqarah (2): 33. Kebenaran dan keadilan mutlak milik Allah, sedangkan manusia semata berikhtiar menuju ke sana. Tetap saja manusia tempat salah dan dosa.

Allah Maha-Ada. Allah mengadakan yang tiada hingga menjadi ada. Pun meniadakan yang ada menjadi kembali tiada. Bagaimana dengan kita? Kita ini sesungguhnya tiada, tapi suka betul mengada-ada, mengadakan yang tidak ada. Kita ini susah betul bersikap apa adanya. Bagi kita, menerima kenyataan dan mensyukuri keadaan terasa amat berat.

Mahkamah dunia hanyalah membelejeti hal-hal yang didalilkan, didakwakan, digugatkan, atau apa pun itu namanya, dan tidak akan melebar melampaui kewenangannya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Maha Berwenang dan Maha-Adil. Pengadilan Allah niscaya superdetail dan menyeluruh. Andai Dia tidak menolong, celakalah kita.

Na’udzubillahi min dzalik.

Ya, jika Allah tidak menutup aib kita, bukan hanya perkara yang digugat di pengadilan yang akan menyeruak. Ini berlaku untuk para pihak yang beperkara hukum maupun yang tidak. Berserah diri pada Allah itu baik dan benar. Demikian pula menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Alangkah indah jika itu sikap dari hati, bukan hanya lisan.

Perseteruan politik Jokowi-Prabowo ini satu di antara banyak kisah tentang menang dan kalah. Masih banyak lainnya.

Semoga kita belajar betapa kemenangan bukan segalanya dan masih bisa berujung kekalahan jika tidak amanah. Kekalahan bukan akhir segalanya, tapi bisa menjadi awal keikhlasan berjuang demi rakyat. Bukan demi kekuasaan. (*)