Menanti Peran Megawati di Semenanjung Korea

Perang Korea terjadi sejak akhir masa Perang Dunia Ke-2. Amerika Serikat dan sekutunya saat itu membagi Korea menjadi dua wilayah, Korut dan Korea Selatan (Korsel). Sejak itulah Korea terbelah. Sejauh ini belum pernah ada perjanjian damai. Statusnya hanyalah gencatan senjata yang ditandai dengan adanya demilitarized zone yang berada di antara Korut dan Korsel.

Karena statusnya belum damai, wajar kalau masing-masing terus menambah kekuatan militer. Terutama Korut yang giat membangun kekuatan nuklir. Bahkan, pembangunan infrastruktur di negara yang nama resminya Democratic People’s Republic of Korea (DPRK) itu memang disiapkan untuk menghadapi situasi perang. Stasiun kereta api bawah tanah dibuat sangat dalam. Eskalatornya begitu panjang, hingga 100 meter. Bila ada kerusakan atau listrik padam, penumpang kereta api harus mendaki untuk keluar dari stasiun. Suasana subway-nya sudah mirip dengan bungker.

Jalan protokol di Pyongyang, ibu kota Korut, dibuat sangat lebar agar bisa didarati pesawat. Dan masih banyak lagi persiapan yang telah dilakukan Korut. Tentu kita semua berharap semua infrastruktur perang itu tidak akan pernah digunakan. Semua berharap perdamaian terjadi di Semenanjung Korea. Bahkan, rakyat Korsel dan Korut juga tidak pernah menginginkan perang. Mereka bersaudara dan sudah rindu untuk berdampingan seperti dulu. Pemerintah Korut juga sebenarnya tak pernah membuat pernyataan yang menyerang Korsel. Amerika yang mereka musuhi.

Upaya perundingan yang dilakukan PBB sejauh ini tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Amerika Serikat terlalu dominan memaksakan agenda mereka. Apalagi, di bawah kepemimpinan Donald J. Trump, Amerika Serikat semakin terlihat bernafsu menghancurkan Korut.



Sebaliknya, Korut di bawah kepemimpinan Kim Jong-un juga semakin terlihat paranoid. Selama 2017 sudah lebih dari enam kali mereka melakukan uji coba senjata nuklir. Bahkan, getarannya terasa sampai ke Jepang.

Selama Amerika masih mendominasi perundingan, Kim Jong-un tidak akan mengubah sikap. Saat ini Pyongyang sudah sulit percaya kepada siapa pun untuk melakukan perundingan. Pyongyang cukup kecewa melihat sekutunya, Tiongkok, tidak menggunakan hak vetonya di PBB ketika sanksi PBB akan dijatuhkan. Beruntung, Rusia masih bisa melobi PBB untuk menghapus usulan Amerika Serikat yang ingin PBB melarang Kim Jong-un bepergian dan membekukan aset-asetnya.

Perlu ada tokoh yang bisa diterima Pyongyang. Korsel menyadari hal tersebut. Karena itulah, Presiden Korsel Moon Jae-in pada Mei 2017 secara khusus meminta mantan Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi juru damai. Saat itu Megawati menyatakan menerima permintaan dari Korsel.

Putri mendiang Bung Karno itu memang diterima secara baik oleh Pyongyang. Ada sejarah panjang antara Soekarno dan Kim Il-sung, founding father Korut. Pada 1965 Kim Il-sung bertemu Soekarno di Jakarta. Itulah pertemuan persahabatan antara dua presiden pertama di masing-masing negara. Saat itu Kim Il-sung mengajak putranya yang kemudian menjadi penerusnya, Kim Jong-il. Megawati yang saat itu berusia 18 tahun juga dilibatkan Soekarno.

Pada waktu jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, Kim Il-sung tertarik sebuah bunga anggrek berwarna ungu. Oleh Bung Karno, bunga tersebut kemudian dihadiahkan kepada Kim Il-sung dan diberi nama Kimilsungia. Begitu tiba di negaranya, Kim Il-sung menjadikan bunga itu sebagai bunga nasional dan membudidayakannya secara luas di Korut. Hingga kini, setiap Mei, diadakan Festival Bunga Kimilsungia di Pyongyang. Dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pyongyang selalu ambil bagian dalam festival tersebut.

Jangankan Megawati, warga Indonesia biasa yang datang ke Korut saja mendapat sambutan yang lebih hangat daripada warga lainnya. Mereka menganggap Indonesia sahabat. Makanya, tepat sekali Indonesia menyatakan abstain ketika PBB akan memberikan sanksi kepada Korut.

Megawati memiliki kualifikasi yang mumpuni untuk menjadi juru damai di Korea. Dia adalah anak Soekarno, mantan presiden, dan ketua umum partai politik yang sedang berkuasa. Tidak ada yang memiliki kualifikasi selengkap Megawati. Banyak mantan presiden di dunia yang mengambil peran-peran internasional. Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari pernah menjadi mediator perundingan damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sudah saatnya Megawati mengambil peran-peran yang lebih global.

Perdamaian di Semenanjung Korea harus mengedepankan kepentingan dua Korea. Ketika semangat reunifikasi yang dibawa, tentu kedua negara akan lebih bersemangat. Bagaimana dengan Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Rusia, dan negara-negara yang selama ini nimbrung di kemelut Korea? Kalau dua Korea sudah berdamai, mereka tidak bisa ikut campur lagi. Apalagi kalau kedua negara sepakat bersatu kembali seperti yang terjadi di Jerman.

Optimisme bahwa Korea bisa damai harus dibangun. Selama ini Korea Utara juga berusaha membuka diri dengan mengizinkan turis datang. Meski masih harus menggunakan travel resmi yang ditunjuk pemerintah. Setiap tahun Pyongyang Marathon juga selalu dibanjiri peserta dari berbagai negara, termasuk dari Amerika Serikat. Jadi, sebenarnya Korut sudah mulai belajar terbuka. Korsel tentu lebih siap karena sudah sangat maju. Dua Korea sedang menanti Megawati Soekarnoputri. Mari bergerak, Ibu… (*)


(*) Wartawan Jawa Pos, pernah meliput ke Korea Utara dan Korea Selatan)