Mencicipi Rasanya Menang Lotre

Hal itu jugalah yang saya kabarkan kepada staf Kedutaan Besar Finlandia di Jakarta; saya merasa perlu berkabar kepada mereka yang telah memberi saya kemudahan mengurus administrasi: ’’Saya senang sekali di sini dan sangat yakin bahwa saya akan menghasilkan novel bagus.’’

Saya kaget sendiri, jangan-jangan itu gejala kurang waras yang dirangsang kemunculannya oleh perasaan sentimentil akibat menghirup udara jernih. Menurut catatan WHO tahun lalu, udara Finlandia adalah yang ketiga terbersih sedunia, tetapi mungkin sudah merosot menjadi yang ke-15 saat ini karena saya mencemarinya terus-menerus dengan asap rokok. Dalam setengah bulan, asap rokok yang saya produksi kelihatannya setara dengan, atau bahkan melebihi, asap rokok yang diembuskan setahun oleh tetangga di gedung sebelah, yang hanya sesekali muncul di balkon rumahnya untuk merokok.

Jika kebetulan merokok pada waktu yang sama, kami saling melambai, seolah-olah kami adalah kawan seperjuangan.

Pohja luasnya hampir dua kali Tangerang Selatan, dengan penduduk yang tidak sampai lima ribu orang. Dalam soal jumlah penduduk ini, saya bisa merasa tenteram: Tangsel, kota tempat tinggal saya, unggul jauh dengan jumlah 1,4 juta orang. Di Pohja saya lebih sering luntang-lantung sendirian, seperti Nabi Adam sebelum Hawa diciptakan, bertemu dengan kelinci serta burung-burung dan kadang capung. Sesekali menikmati kopi di kafe desa.



Tujuh tahun lalu Newsweek menyatakan, Finlandia sebagai ’’negara terbaik’’ sedunia. Ia menggunakan lima variable –kesehatan, kehidupan ekonomi, pendidikan, suasana politik, dan kualitas hidup– untuk membuat pemeringkatan. Tidak semua orang Finlandia senang dengan apa yang disampaikan Newsweek. ’’Lalu, bagaimana depresi, alkoholisme, dan musim dingin yang gelap serta menggigilkan?’’ teriak mereka.

Tetapi, itu hanya suara samar-samar di Finlandia dan tidak mengurangi kekaguman bagaimana negara ini bangkit dan terbang tinggi. Orang Amerika kemudian membuat lelucon ironis: Jika kita ingin ewujudkan impian Amerika, mari pergi ke Finlandia. Beberapa tahun belakangan impian Amerika –gagasan tentang kesempatan yang sama untuk semua, peluang yang sama bagi setiap warga negara untuk mendapatkan kemajuan– mereka anggap telah hilang.

Sesungguhnya negara kita juga punya cita-cita yang serupa: mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, dan sebagainya. Saya pikir cita-cita itu juga bisa diwujudkan di Finlandia.

Dalam tulisan yang berkaitan dengan laporan Newsweek, Andrei Codrescu, penulis buku The Poetry Lesson (2010), membuat spekulasi tentang mengapa negara-negara ’’kecil” dan ’’dingin” di utara itu selalu menempati peringkat tinggi dalam studi-studi semacam itu. Di dalam laporan Newsweek pada 2010 itu, Finlandia nomor 1, Swedia nomor tiga, Norwegia nomor enam, dan Denmark nomor sepuluh.

’’Kualitas hidup meningkat ketika orang harus selalu dekat dengan orang yang dia cintai sebagai cara untuk mengatasi hawa dingin,’’ tulis Codrescu. Selain itu, jalanan terlampau dingin untuk dijadikan tempat tawuran.

Saya setuju kepada pendapat terakhir Codrescu: Jalanan terlalu dingin untuk tawuran. Ada hal-hal yang lebih menarik dilakukan dalam udara dingin. Di antaranya, menikmati sauna, bermusik, membaca buku, dan sebagainya. Ada sauna di mana-mana. Finlandia memiliki 3,3 juta sauna untuk jumlah penduduk sekitar 5,5 juta. Ia juga memiliki grup heavy metal dengan jumlah per kapita tertinggi di dunia. Yah, kelihatannya hampir setiap desa memiliki grup musik heavy metal.

Salah satu yang paling saya nikmati adalah Apocalyptica. Grup tersebut memainkan musik heavy metal tanpa raungan gitar; keempat anggotanya hanya menggesek atau memetik celo. Anda bisa melihat di Youtube bagaimana mereka memainkan musik-musik Metallica. Itu dilakukan sebelum mereka menciptakan komposisi sendiri. Sekarang formasi mereka adalah tiga pemain celo (mereka lulusan sekolah musik Sibelius, Helsinki) dan satu penggebuk drum.

Membaca buku? Lebih dari 20 juta eksemplar buku terjual di Finlandia setiap tahun. Itu berarti rata-rata setiap orang, termasuk bayi dan anak-anak, membeli empat buku. Jika dibandingkan dengan di negara-negara lain, perpustakaan di Finlandia tercatat sebagai perpustakaan yang buku-bukunya paling banyak dipinjam.

’’Hidup di Finlandia persis dengan kita memenangkan lotre. Jadi, mari kenakan sepatu dansa. Ini saatnya merayakan negeri terbaik sedunia.’’ Itu caption di bawah foto yang saya lihat di sebuah situs web. Orang-orang berkumpul di lapangan rumput pada musim panas, beberapa orang sedang menari.

Sekarang saya sedang mencicipi sebentar bagaimana rasanya memenangkan lotre, menikmati tempat yang saya pikir akan membuat saya khusyuk menulis. Dan, saya belum mulai menulis apa pun. Saya sudah berada di tempat yang tenteram dan udaranya segar, tetapi kelihatannya saya lupa mengubah kebiasaan. (*)


(A.S. Laksana, cerpenis dan kolomnis, kini mengikuti program residensi kepenulisan di Finlandia.)