Menerima Kekalahan

JawaPos.com – Salah satu penutup novel yang banyak diingat orang dalam kesusastraan Indonesia, saya yakin, berasal dari novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Kalimat itu diucapkan Nyai Ontosoroh kepada Minke setelah mereka berjuang keras mempertahankan Annelis dari tangan kuasa kolonial Belanda. Dalam perjuangan itu, mereka harus menelan kenyataan pahit. Kalah. Meskipun begitu, Nyai Ontosoroh menghadapinya dengan tegar. Dan, yang terpenting, penuh harga diri.

Mengenai kekalahan, ada kisah menarik dari novel Jerman karya Stefan Zweig berjudul Schachnovelle (“Kisah Catur”). Diceritakan tentang Dr. B, seorang ahli keuangan yang ditahan isolasi oleh Nazi. Untuk mengisi waktu, ia belajar catur di dalam kepalanya. Ia memecah dirinya menjadi Si Putih dan Si Hitam.

Karena keseringan bermain catur di kepala, ia mulai menderita maniak dan itulah yang membuatnya kemudian dibebaskan dari isolasi. Hingga satu hari, ia naik kapal dan bertemu seorang juara dunia catur yang masih muda. Seorang genius dengan bakat alami bernama Czentovic. Diprovokasi oleh para petaruh, Dr. B akhirnya menantang juara dunia itu.



Dr. B sangat percaya diri, karena ia sudah tahu semua langkah para master di luar kepala. Otaknya sudah demikian terlatih sehingga ia bisa memikirkan beberapa langkah ke depan. Tak hanya untuk bidaknya sendiri, tapi juga untuk bidak lawannya. Benarlah, begitu bertanding, Czentovic dengan mudah dikalahkan. Ia semakin percaya diri.

Tapi, dua hal tidak disadarinya. Pertama, si juara dunia kenyang makan asam-garam beragam pertandingan yang tak melulu urusan teknis, tapi juga mental. Kedua, ia sedang digerogoti kepercayaan-dirinya sendiri. Maka ketika si juara dunia mengalahkannya dalam tanding ulang, ia tak bisa menerima. Bukan cuma itu, ia bahkan tak percaya.

Di kepalanya terbayang adegan-adegan bidak catur ketika ia menang, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ia mulai hidup di realitas semu, menghasilkan delusi.

Kegilaannya kumat. Sebab, ia tak bersiap untuk kalah. Ia hanya melatih dirinya terus-menerus untuk menang. Lupa bahwa kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah.

Kompetisi memang merupakan roh kehidupan, dan dalam kompetisi selalu diandaikan adanya pemenang. Bahkan, sejak manusia masih berbentuk spermatozoa, kita sudah berkompetisi dengan sesama untuk berebut membuahi sel telur.

Di sekolah, kita berkompetisi untuk menjadi yang lebih pintar atau cerdas dari yang lain. Di tempat kerja, kita berkompetisi untuk memperoleh jabatan dan upah terbaik.

Kompetisi semakin nyata terlihat di bidang-bidang yang memang sangat kompetitif. Olahraga, misalnya. Demikian juga di politik, sebab tak mungkin ada dua bupati di satu wilayah, sebagaimana tak mungkin ada lebih dari satu presiden di sebuah negara.

Kita dididik untuk bisa menghadapi kompetisi ini, secara sadar maupun secara insting. Yang kerap kali lupa, kita tidak belajar untuk menerima kekalahan. Kasus Dr. B di novel Stefan Zweig memberikan ilustrasi semacam itu. Ia bisa saja memang cerdas, tapi soalnya, ia hanya berlatih untuk menang.

Ia tidak berpijak pada realitas, tidak pernah melanglang-buana dalam kompetisi sesungguhnya. Ribuan pertandingan catur yang dimainkannya hanya ada di kepalanya dan melulu merupakan latihan atau pertandingan untuk menang.

Saya rasa, di sinilah soalnya. Banyak orang, jangan-jangan, terlalu dijejali tuntutan untuk menang dan hanya bisa menerima realitas kemenangan.

Lihat, di begitu banyak film, kita menyaksikan para kekasih berjuang untuk memperoleh pujaan hati. Kita diajari film-film ini bahwa kita akan bahagia bersama sang kekasih. Ini menciptakan ilusi, bahkan di kalangan anak baru gede, begitu gagal dalam bercinta, kesedihannya berlarut-larut dan dunia seolah menjadi tamat.

Tak ketinggalan di banyak novel, kita juga diajari untuk menang. Istilah from zero to hero menjadi mantra yang ampuh.

Kita melihat kisah-kisah semacam ini: orang miskin, di lingkungan yang hanya menyediakan sekolah sederhana, tapi dengan perjuangan keras bisa menjadi sukses, misalnya. Kita belum menyebut para pahlawan lain di berbagai film maupun novel yang mengglorifikasi kemenangan.

Padahal, yang harus disadari, kekalahan merupakan hal yang jauh lebih umum. Dalam liga sepak bola, hanya ada satu pemenang dan ada sembilan belas klub yang “kalah”.

Apakah sembilan belas klub itu tamat riwayatnya? Tidak. Justru kompetisi di olahraga banyak mengajari kita bagaimana pemenang tidak menjadi penindas dan yang kalah tak harus kehilangan hak hidup.

Kita harus membuka mata lebih lebar untuk melihat bahwa dunia dipenuhi oleh orang kalah. Novel-novel John Steinbeck banyak mengisahkan orang-orang kalah.

Novel The Trial Franz Kafka memperlihatkan kepada kita tentang sosok yang dikalahkan oleh sistem. Tak hanya kesusastraan, buka surat kabar, kita akan menyaksikan kisah-kisah mereka di sana.

Belajar menerima kekalahan tak hanya mengajari kita secara mental untuk tetap berdiri di waktu jatuh. Kita juga belajar untuk bergandengan tangan dengan yang lain.

Lebih penting lagi adalah mengasah empati untuk melihat berbagai rupa kekalahan di saat kita berhasil. Untuk tidak menciptakan watak penindas karena arogansi kemenangan.

Sebab, seperti kata Chairil Anwar, bukankah “Hidup hanya menunda kekalahan?” (*)