Mengapa Pasangan Sae Tidak Menang Telak?

Hasil hitung cepat (quick count) Pilkada Kota Malang yang dilakukan Avemedia Research dan Jawa Pos Radar Malang (27/6) mengindikasikan keunggulan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (Sae) (43,37 persen). Sementara pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud (Asik) menempati posisi kedua (37,28 persen) dan pasangan Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi (Menawan) menempati posisi ketiga (19,35 persen). Adapun margin of error hitung cepat itu sebesar 2,29 persen.

Bagi sebagian warga, hasil tersebut menunjukkan keganjilan. Mengapa calon wali kota yang sedang menghadapi proses hukum (tindak pidana korupsi) masih mendapat suara cukup tinggi? Mengapa pasangan Sae tidak unggul telak? Atau hanya selisih 6,09 persen dari pasangan Asik. Padahal, hasil jajak pendapat yang dilakukan Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Jawa Pos Radar Malang pada April 2018 menemukan bahwa sebagian besar (84,7 persen) responden mengetahui status tersangka calon wali kota. Lebih konkret lagi, 64,6 persen responden menyatakan status tersangka itu berpengaruh terhadap pilihan pada Pilkada 2018.

Beberapa penjelasan akademik berupaya menjawab dua situasi paradoksal antara hasil pilkada dan penetapan tersangka. Pertama, tingginya perolehan suara pasangan Asik tidak terlepas dari kuatnya figur Moch. Anton (Abah Anton) di mata warga Kota Malang. Hasil riset opini yang sama menemukan bahwa figur Abah Anton paling kuat dalam hal popularitas dan tingkat kesukaan (likeabilitas). Di mata pemilih, Abah dikenal sebagai figur berwibawa, berpengalaman di pemerintahan, dan berjiwa sosial.

Sebaliknya, meskipun figur Sutiaji cukup kuat, tapi hasil survei menunjukkan angka popularitas dan likeabilitas yang lebih rendah dari Abah. Dengan kata lain, pada saat mencoblos di bilik suara atau beberapa hari menjelang pemungutan suara, pemilih masih mempertimbangkan kekuatan figur Abah Anton.

Penjelasan lainnya, responden masih menilai Pemerintah Kota Malang di bawah kepemimpinan Abah cukup berhasil. Sebanyak 64,2 persen responden merasa puas dan sangat puas terhadap kinerja pemkot. Kepuasan terutama terhadap kinerja pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau, terutama taman-taman kota. Keberhasilan ini seolah melekat pada figur Abah, bukan wakilnya.

Kedua, kuatnya keterikatan psikologis antara pemilih dengan figur Abah bahkan melampaui loyalitas pendukung parpol yang mengusung pasangan Asik. Perolehan suara sementara versi hitung cepat tersebut melebihi perolehan suara 3 parpol pengusung Asik (PKB, PKS, Gerindra) sekitar 28 persen. Dengan kata lain, kuatnya kedekatan psikologis (loyalitas dan kedekatan figur calon dan parpol pengusung) menjelaskan masih tingginya keterpilihan Asik, terutama karena figur Abah (menurut hasil survei, tingkat popularitas dan likeabilitas Syamsul Mahmud rendah).

Ketiga, hasil hitung cepat menunjukkan masih tingginya angka ketidakhadiran pemilih di TPS diperkirakan sebesar 25,97 persen. Angka tersebut terpaut sekitar 10 persen dari angka kecenderungan tidak memilih dan responden yang menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar 36,5 persen dalam survei Prodi Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya (April 2018). Besarnya angka absen pemilih itu cenderung merugikan pasangan Sae yang semestinya berpotensi mendapat suara lebih besar.

Di luar tiga aspek itu, masih ada beberapa faktor lain yang mendukung penjelasan. Misalnya, bekerjanya mesin politik parpol dan pasangan calon serta isu-isu lain yang bisa berdampak pada keterpilihan pasangan calon. Jawaban pasti, tentunya ada di benak pemilih.

Terakhir, ada baiknya semua pihak bersabar menunggu hasil penghitungan riil oleh KPU Kota Malang agar tidak muncul euforia kemenangan atau pesimisme kekalahan berlebihan dari pasangan calon, tim sukses, simpatisan, dan para pendukung. Bagi pasangan calon terpilih, peta politik elektoral hasil Pilkada Kota Malang 2018 bisa dijadikan input untuk menyiapkan strategi rekonsiliasi dan konsolidasi sebelum mengarungi era pemerintahan daerah baru dan membangun kota hingga 2023. 

Peyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati