Menguasai Mesin, Mengayomi Manusia

SOSOK seperti Pak Habibie langka. Paket komplet. Mumpuni di bidang teknis. Namun, saat diserahi tugas menopang sebuah negara sebagai pemimpin, beliau juga mampu. Keluarga tidak terbengkalai, penuh kasih mesra hingga ajal menjemput.

Bagi saya pribadi, beliau adalah teknokrat, konseptor industri, dan human capital developer yang andal. Bagaimana bisa seseorang yang menguasai mesin ternyata juga pandai mengayomi manusia.

Sepeninggal beliau, saya kembali mengingat masa-masa ketika Pak Habibie dan saya masih sering bertemu. Waktu itu beliau menjabat Dirut IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio, lalu berubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara pada 1985, dan sejak 24 Oktober 2000 menjadi Dirgantara Indonesia) tahun 1976. Juga, saat beliau menjadi menteri negara riset dan teknologi mulai 1983. Kami sering bertemu dalam forum technical meeting. Mendiskusikan secara detail isu-isu engineering N-250.

Saya betul-betul kagum pada cara pikir beliau yang visioner. Beliau menguasai almost A to Z alias hampir semua hal mengenai aircraft development. Pemikirannya jauh ke depan daripada kami yang relatif lebih muda.



Habibie adalah pionir dirgantara masif. Benar bahwa masih ada pendahulunya yang bisa dikatakan perintis. Ada nama Nurtanio Pringgoadisuryo yang membangun dan menerbangkan pesawat kali pertama di Indonesia. Tetapi, besarnya industri yang ada saat ini tidak lepas dari peran besar Habibie.

Hanya industri yang ada di Bandung itu pula yang memulai rekayasa engineering, rekayasa produksi, dan melaksanakan seluruh uji kelayakan penerbangan sampai dengan menerbangkannya ke destinasi lain.

Itu dari segi teknis. Industri yang dibangun Habibie juga secara tidak langsung membangun sumber daya manusia Indonesia. Anak-anak bangsa didorong untuk menguasai teknologi dirgantara dan yang berkaitan.

Karena Habibie adalah seorang genius, saya kini pun tidak heran jika beliau bisa menguasai bidang selain penerbangan. Politik maupun sosial, dia sanggup menyaingi orang-orang yang bahkan lebih dulu mendalami keilmuan tersebut.

Salah satu keberhasilan kepemimpinannya yang bisa kita nikmati sampai sekarang adalah kebebasan berpendapat dan kebebasan pers. Tanpa itu, koran tempat tulisan yang sedang Anda baca sekarang ini mungkin tidak ada. Mungkin Anda tidak bisa membunuh kebosanan dengan bermedsos ria dan berpendapat dengan merdeka.

Warisan yang perlu juga diteladani adalah harmoninya. Beliau mengintegrasikan sains atau ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan iman dan takwa (imtak). Keseimbangan itulah yang paling dibutuhkan dari manusia-manusia Indonesia sampai kapan pun. Bukan cuma oleh ilmuwan.

Saya sendiri secara pribadi berterima kasih atas suri teladan yang sudah diberikan Habibie. Kehidupan profesional saya mungkin tidak akan sampai pada titik ini, termasuk mendapatkan kesempatan meneruskan estafet kepemimpinan Pak Habibie di perusahaan yang dulu pernah beliau nakhodai.

Tak lupa juga beliau telah memberikan platform untuk saya menggali keilmuan saya secara utuh lewat beasiswa. Dengan begitu, saya sebagai anak Indonesia tidak hanya diakui di negara saya sendiri, tetapi juga diakui negara lain.

*) Mantan Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Debora Sitanggang