Menguatkan Daya Saing Buah Nasional

SALAH satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah globalisasi ekonomi dan informasi. Proses tersebut sebenarnya mampu memberikan peluang bagi perkembangan seluruh sektor nasional, termasuk pertanian dan terutama tanaman buah. Namun, globalisasi ekonomi dan informasi juga bisa memunculkan banyak dampak negatif bagi perkembangan komoditas buah nasional.

Data UN Comtrade menunjukkan tren impor komoditas buah selama 2 dekade terakhir terus naik. Contoh nyata adalah komoditas jeruk bahwa pada 1998 jumlah impornya 4.208 ton dan pada 2018 mencapai 11.391 ton atau meningkat 271 persen. Padahal, menurut data FAO, produksi jeruk di Indonesia meningkat 330 persen dari 696 ribu ton pada 1997 menjadi 2,3 juta ton pada 2017. Dampak membanjirmya impor buah sangat dirasakan petani sehingga buah lokal kurang diminati konsumen dan terkadang harganya turun drastis pada periode tertentu.

Dominasi buah impor di pasaran nasional sebenarnya bukan disebabkan rendahnya daya saing buah lokal Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Buah Kementerian Pertanian serta sejumlah perguruan tinggi ternyata telah menemukan berbagai varietas buah lokal unggulan yang kualitasnya tidak kalah oleh buah impor. Sebagai contoh adalah jeruk. Balai penelitian di Indonesia telah mampu menghasilkan berbagai inovasi tanaman yang ukuran dan rasanya tidak kalah oleh jeruk Mandarin.

Diseminasi dan Promosi



Kelemahan dari inovasi tersebut adalah kurangnya diseminasi dan promosi kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak tahu bahwa Indonesia memiliki buah lokal yang daya saingnya tidak kalah oleh buah impor. Petani sangat membutuhkan inovasi varietas dan teknologi budi daya untuk menghasilkan buah lokal yang berkualitas. Munculnya berbagai varietas buah lokal yang berpotensi menyubstitusi buah impor seharusnya bisa segera diintroduksi oleh petani. Hal itu dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dan sesuai dengan selera konsumen. Sedangkan teknologi budi daya dibutuhkan petani untuk mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman sehingga mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi.

Diseminasi varietas dan teknologi kepada petani sebenarnya bisa dilakukan badan litbang pertanian milik pemda, terutama di daerah sentra buah lokal. Untuk mempercepat diseminasi tersebut, diperlukan keterlibatan pemerintah daerah maupun perguruan tinggi. Pemerintah daerah (pemda) memiliki wewenang penuh untuk menggerakkan sumber daya manusia (SDM) dan dana di wilayahnya untuk mempercepat diseminasi tersebut. Sedangkan perguruan tinggi memiliki aktivitas pengabdian kepada masyarakat dan kuliah kerja nyata (KKN) yang menjembatani penyampaian inovasi teknologi kepada masyarakat. Hal yang sangat diperlukan adalah bagaimana institusi tersebut bekerja sama membangun komitmen untuk menyusun desain program yang terintegrasi dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta ekologis lingkungan.

Promosi produk juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran konsumen mengenai keunggulan buah lokal. Langkah berbagai pemda mengadakan pameran setiap tahun perlu diapresiasi karena menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan komoditas buah lokal. Promosi juga bisa dilakukan dengan penyediaan buah lokal dalam berbagai aktivitas rapat maupun jamuan. Walaupun langkah tersebut tergolong remeh, dampaknya sangat signifikan bagi promosi produk.

Implementasi langkah itu dicoba dibangun Pemkab Kulon Progo yang mewajibkan setiap rapat harus disediakan produk lokal, baik jenis pangan maupun buah. Contoh lain adalah Pemkab Sleman yang mengimbau pihak hotel di wilayahnya agar menyediakan salak pondoh dan olahannya sebagai salah satu hidangan makan bagi tamu hotel. Inisiatif tersebut bisa dijadikan gambaran oleh pemda lain untuk mempromosikan buah lokal daerahnya dengan berbagai paket kebijakan, baik yang mengikat maupun dalam bentuk imbauan.

Edukasi

Selain promosi, masyarakat memerlukan edukasi tentang kecintaan terhadap buah lokal. Selama ini kecintaan terhadap buah lokal hanya muncul sebagai jargon, namun sangat rendah implementasinya. Padahal, ada beberapa jenis buah yang diimpor sebenarnya sudah mampu dipenuhi produksi domestik. Sebagai contoh adalah jeruk. Data Susenas BPS 2016 menunjukkan bahwa total konsumsi jeruk nasional mencapai 928,41 ribu ton, sedangkan produksi nasional 2,14 juta ton.

Berdasarkan data tersebut, seharusnya pemerintah Indonesia tidak perlu mengimpor jeruk, tetapi malah menjadi eksporter. Munculnya kondisi tersebut disebabkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi buah lokal masih rendah.

Karena itu, pemerintah perlu memanfaatkan program posyandu dan PKK atau program keluarga lainnya untuk menjadi ujung tombak dalam mengedukasi pola konsumsi masyarakat. Keterlibatan program tersebut sangat diperlukan karena selama ini pola konsumsi atau jenis pangan dalam sebuah keluarga biasanya ditentukan oleh ibu rumah tangga. Maka, menjadi suatu kewajaran apabila edukasi mengenai kecintaan terhadap buah lokal bagi masyarakat diberikan melalui ibu rumah tangga yang selanjutnya diharapkan akan diimplementasikan dalam kehidupan tiap rumah tangga di Indonesia. (*)

*) Dosen di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta