Menikmati Ruska Bersama Orang Paling Ramah di Muka Bumi | JawaPos.com

MAJALAH Reader’s Digest pernah membuat eksperimen pada 2013 untuk mengetahui kota mana yang paling jujur dan paling tidak jujur. Enam belas kota dipilih –di Eropa, Asia, dan Amerika. Di kota-kota itu para reporter majalah tersebut sengaja menjatuhkan dompet di jalanan: dua belas dompet di tiap kota, dan di tiap-tiap dompet ada nama dan nomor ponsel pemiliknya, foto keluarga, kartu nama, kupon-kupon, dan uang 50 dolar AS.

Di Helsinki, sebelas dompet mereka kembali; Reader’s Digest menyebut ibu kota Finlandia ini sebagai kota paling jujur di dunia. ”Orang-orang Finlandia seperti itu,” kata Lasse Luomakoski, 27, salah satu yang mengembalikan dompet.

’’Kami adalah masyarakat kecil yang tenteram dan dekat satu sama lain. Korupsi sangat kecil di sini, dan rasa-rasanya kami bahkan tidak memerlukan lampu lalu lintas.”

Mumbai, India, menempati urutan kedua dengan sembilan dompet kembali. Vaishali Mhaskar, ibu dua anak, mengembalikan dompet yang tertinggal di kantor pos. Katanya, ”Saya mendidik anak-anak saya untuk jujur sebagaimana orang tua saya mendidik saya begitu.”



Berkebalikan dengan Helsinki dan Mumbai, Madrid menempati urutan kelima belas dengan hanya dua dompet yang kembali. Dan yang terburuk dalam percobaan itu adalah Lisbon.

Di ibu kota Portugal tersebut hanya satu dompet yang kembali; ia ditemukan dua turis 60-an tahun dari Belanda dan mereka segera menghubungi nomor telepon yang ada di dompet.

Artikel tentang kota paling jujur itu saya temukan dari mesin pencari internet pada akhir Agustus lalu, beberapa hari sebelum berangkat ke Finlandia atas sponsor Komite Buku Nasional, dengan kata kunci ’’kind people, honest people, Finns”. Itu karena ingatan tentang satu kalimat di dalam kata pengantar buku Kalevala yang menyebutkan bahwa orang-orang Finlandia adalah salah satu yang paling ramah dan paling jujur di dunia.

Saya tidak tahu banyak tentang Finlandia kecuali dua pembalap Formula 1 Mika Hakkinen dan Kimi Raikkonen; pembalap MotoGP Mika Kallio; dan pemain sepak bola Jari Litmanen. Buku sastra yang saya baca dari negara itu hanya puisi epik Kalevala, pemberian teman beberapa tahun lalu. Ia tahu saya menyukai dongeng dan ia pikir saya pasti menyukai Kalevala. Dan saya memang menyukainya.

Dari laman resmi penghargaan Nobel, saya tahu nama Frans Eemil Sillanpaa, peraih Nobel Sastra 1939 dan orang pertama dari lima orang Finlandia yang meraih hadiah Nobel lima kategori: sastra, kedokteran, ekonomi, kimia, dan perdamaian. Yang paling belakangan menerimanya adalah Martti Ahtisaari, presiden ke-10 negara tersebut (1994–2000); ia dianugerahi Nobel Perdamaian pada 2008.

Mengenai Nobel Sastra untuk Sillanpaa, panitia Nobel menyebutkan alasan sebagai berikut: ’’Untuk pemahamannya yang mendalam tentang para petani di negerinya dan kecakapannya untuk menggambarkan secara indah kehidupan mereka dan hubungan mereka dengan alam.” Saya tidak pernah menemukan novel-novelnya sampai sekarang.

Sedikit hal lain lagi yang saya ketahui adalah ponsel Nokia dan operating system Linux yang berbasis open source dan bisa didapatkan gratis. Satu lagi: Angry Birds. Itu game komputer yang pernah membuat saya keranjingan dan sering begadang sampai pagi saat memainkannya.

Hanya itu yang saya pahami. Saya pikir saya akan melengkapi pengetahuan saya dengan mengalami beberapa waktu tinggal bersama orang-orang yang ramah dan jujur dari negeri utara ini.

”Selamat berjuang,” seorang teman mengirim pesan singkat, seolah-olah saya berangkat membawa sepucuk bambu runcing dan siap melakukan penaklukan di negeri orang. Saya menjawab pesannya itu dengan ucapan terima kasih dan itu bukan jawaban jujur. Sebenarnya saya ingin menjawab: Saya mau bersenang-senang saja, Bung, bambu runcingnya saya tinggalkan di rumah.

Musim sedang sangat bagus ketika saya tiba. Saya masih bisa menikmati pengujung musim panas selama September. Matahari masih terbit pada pukul 5 pagi di timur, bergeser pada posisi seperti pukul 9 pagi di lingkar selatan, dan terbenam di barat pada pukul 22.00.

Ia akan terbit beberapa menit lebih lambat setiap hari dan terbenam beberapa menit lebih cepat. Setelah itu masuk musim gugur, musim yang memberikan kegembiraan pada mata.

Sejumlah catatan dari orang-orang yang pernah berkunjung ke negara ini menyebutkan bahwa musim gugur Finlandia adalah salah satu pemandangan alam terbaik yang pernah mereka saksikan.

Luas negara ini kira-kira setara dengan Pulau Sumatera, dengan penduduk 5,5 juta orang dan lebih dari 70 persen adalah hutan borealis dengan tanaman-tanaman khas negeri utara: pinus dan cemara dan keluarga pepohonan berdaun jarum yang akan tetap hijau sepanjang tahun, dan pohon birch. Di bagian selatan ada pohon-pohon maple, ek, dan elm.

Daun-daun pepohonan berubah warna menjadi kuning, krem, cokelat, merah. Dan setiap hari warna-warna semakin intens: warna kuning akan menjadi semakin cemerlang, merah semakin kuat, warna cokelat dan krem melembutkan pandangan. Daun-daun yang jatuh di pelataran rumah seberang jalan tampak dari jendela kamar seperti hamparan karpet.

Orang-orang Finlandia memiliki sebutan sendiri untuk warna-warna di sekitar mereka pada permulaan musim gugur: Ruska.

Awan-awan di langit juga memberikan pertunjukan lain di tempat ini, selain warna-warna yang selalu berbeda setiap hari. Matahari masih tetap bersinar pada awal musim gugur; ia terbit sekarang ini pada pukul setengah sembilan pagi dan terbenam nanti pukul setengah delapan petang. Saya senang menyaksikan gumpal-gumpal awan yang cepat berubah wujud, seperti ada pesulap yang sedang memainkan atraksi di langit yang warnanya biru cerah, seperti menyaksikan pameran lukisan abstrak dengan langit sebagai kanvas. Dan burung-burung gagak sesekali memperdengarkan suara ’’kakkk! kakkk!”

”Apakah kalian di tempat ini meyakini hantu-hantu, Patrik?” tanya saya. Patrik Sjodahl, 46, adalah tetangga sebelah. Ia senang memasak dan sering mengantar makanan ke kamar saya. Ia meminjami saya apa-apa yang saya tidak punya, termasuk alat penggiling rokok ketika melihat saya melinting tembakau.

Hari itu ia mengantar saya dengan mobilnya ke menara, ke pantai, dan minum kopi di kedai dekat jembatan yang menghubungkan daratan utama Finlandia dengan Kepulauan Kvarken tempat tinggalnya, tempat saya menginap selama Oktober.
”Maksudmu hantu-hantu apa?” tanyanya.

”Semacam drakula atau vampir atau arwah orang mati yang masih tetap gentayangan di satu tempat. Seperti makhluk-makhluk menyeramkan di film-film horor itu.”

’’Tapi kau percaya makhluk-makhluk semacam itu ada?”

Kami tiba di rumah pada sore hari. Malamnya, ketika sedang merokok sendirian di teras karena tidak mungkin merokok di dalam kamar, saya menjadi takut oleh pikiran saya sendiri. Di luar gelap sekali, 10 meter di depan sana saya sudah tidak bisa melihat apa-apa selain warna hitam yang begitu pekat.

Pandangan saya hanya bisa menjangkau bayangan hitam tiga batang pohon yang tumbuh berjajar beberapa meter di depan teras. Angin bertiup kencang, suaranya seperti deru mobil yang melintas cepat di jalan tol, seperti suara kereta api di kejauhan, seperti deru hujan deras.

Untuk kali pertama saya membayangkan tiba-tiba ada hantu muncul dari balik pohon-pohon itu, atau tiba-tiba saja ia ada di samping saya, menjawil tengkuk atau pundak saya. Brengsek sekali. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa hantu ada karena kita memikirkannya, tetapi itu tidak menolong menyingkirkan rasa takut.

Saya menyesali pertanyaan iseng yang siang tadi saya sampaikan kepada Patrik. Seharusnya saya tidak menanyakan hal-hal yang semacam itu. Saya tahu bahwa rasa takut saya adalah hal yang sangat mengada-ada. Tidak mungkin hantu pocong akan muncul di tempat ini.

Tidak mungkin juga hantu-hantu Jawa lainnya, yang jenisnya entah berapa macam, akan mengikuti saya menyeberang dan bergentayangan hingga ke wilayah dekat kutub utara ini. Tetapi, saya tetap tidak bisa mengusir rasa takut yang menguasai pikiran saya malam itu.

Besoknya Patrik datang ke kamar mengantarkan kue yang ia bikin sendiri. Ia koki jagoan dan saya penikmat yang baik untuk setiap makanan yang ia bikin. Jadi, kami menjadi pasangan yang saling melengkapi selama saya tinggal di Kvarken.
’’Kau tidak berpikir membuka rumah makan atau berjualan makanan, Patrik?” tanya saya.

”Ada beberapa teman di tempat kerja yang suka sekali dengan masakan saya dan mereka ingin berlangganan, tapi saya tidak mau,” katanya.

Saya tanyakan kenapa. Ia mengatakan, ”Jika membeli makanan dari saya, mereka tidak membayar pajak kepada pemerintah, saya juga tidak membayar pajak. Jadi, lebih baik saya bagi saja makanan kepada mereka jika saya memasak.”

”Orang memiliki kemungkinan untuk berbuat jahat,” katanya. ”Memukul orang lain, misalnya, atau menipu. Saya bisa memahami kejahatan-kejahatan semacam itu. Tetapi, saya tidak bisa terima jika ada orang mencuri uang dari pemerintah –1 euro pun saya tidak terima.”

Baginya, tidak membayar pajak adalah kejahatan yang sulit dimaafkan. Saya bisa memahaminya. Sejak kami berkenalan, ia sudah menceritakan banyak hal yang membuat saya jengkel sekali: semuanya ditangani dengan baik di tempat ini dan orang-orang percaya kepada pemerintah. Saya katakan kepadanya: ”Kenapa hidup kalian enak sekali? Itu tidak benar. Bukankah hidup di dunia fana ini seharusnya sulit?”

Ia tertawa. Saat meninggalkan kamar, ia mengatakan, ada temannya, seorang wartawan, yang ingin bertemu dan bercakap-cakap dengan saya. (*)

Cerpenis dan kolomnis, kini mengikuti program residensi kepenulisan di Finlandia