Menjaga Lingkungan di Tengah Momen Pilkada

Tentunya pada tahap persiapan, kontestan-kontestan politik di daerah tersebut melakukan persiapan-persiapan dan strategi serta taktik, untuk meraup suara guna memenangkan hati rakyat.

Kampanye-kampanye pun dilakukan oleh para kontestan politik yang berkompetisi. Berbagai macam alat peraga atau atribut pun diperlukan guna mendukung proses kampanye.

Atribut-atribut tersebut ada yang berupa kaos, merchendise, spanduk, poster, dan juga baliho-baliho yang terpampang di papan-papan iklan.

Ada pula yang berkampanye melalui program-program dan kegiatan yang dilakukan bersama dengan masyarakat pendukungnya.



Secara aturan, kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon telah diatur oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui Peraturan KPU (PKPU) Nomor 4 Tahun 2017, tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota.

Mulai dari alat peraga yang digunakan, jumlah di tiap kecamatan, ukurannya, hingga materi kampanye telah diberikan rambu-rambu yang cukup jelas oleh KPU.

Tentunya aturan-aturan tersebut ditetapkan guna menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk akibat memanasnya suasana politik di tingkat daerah.

Selain itu, aturan-aturan dalam penempatan alat peraga pun sebenarnya telah diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No 15 Tahun 2013.

Menariknya pada pasal 17 ayat 1 disebutkan jika alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah, rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan.

Artinya, KPU telah jelas memberikan rambu-rambu untuk tidak menggunakan beberapa lokasi untuk dijadikan tempat pemasangan alat peraga.

Faktanya, beberapa kali sering dijumpai alat peraga yang melanggar aturan-aturan tersebut, sebagaimana contoh sering dijumpai poster, baliho, atau spanduk yang dipasang di pepohonan di pinggir jalan, entah dengan cara di ikat maupun dipaku di batang pohon.

Memaku pohon sejatinya telah sama dengan melukai pohon. Hal ini tentunya memiliki akibat ke depannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Akibat jangka pendek yang dapat dirasakan pada sehari-hari selama proses kontestasi politik tersebut ialah kesemrawutan.

Sering terlihat di pepohonan yang berada di pinggir jalan-jalan utama maupun jalan kecil baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, telah berhiaskan gambar-gambar foto pasangan calon dengan berbagai ornamen lainnya.

Bila sedang ramai proses pemilu kada seperti belakangan ini, sudah tidak heran bila akan bermunculan poster atau spanduk-spanduk baru, dengan cara diikat ataupun dipaku pada batang pohon.

kesemrawutan ini tentunya akan mengurangi nilai estetika kota atau sekitar jalan protokol utama.

Sangat disayangkan bila pemilu serentak ini justru menjadi pemicu perilaku-perilaku free ride yang dilakukan oleh oknum-oknum masyarakat.

Kepala daerah yang seharusnya menjadi teladan bagi segenap masyarakatnya sudah menjadi keharusan memberikan teladan yang baik untuk masyarakat.

Bukan malah sebaliknya, yakni mengikuti alur perilaku free ride yang dirasa telah salah kaprah ketika diturunkan dari generasi sebelumnya.

Tim pemenangan pun seharusnya memperhatikan hal ini, karena citra baik dan buruknya kualitas pemimpin daerah akan ditentukan mulai dari tahap kampanye.

Dari kesemrawutan tersebut menciptakan penampakan citra kota atau daerah menjadi kotor dan tak terawat.

Kondisi seperti ini tentunya akan mengurangi kenyamanan penduduk yang meninggali kawasan tersebut.

Kemudian hal ini juga menjadi edukasi yang tidak baik untuk masyarakat, sehingga seolah dalam pemikiran masyarakat menganggap bahwa bertindak dan berlaku free ride itu sah-sah saja, seperti calon-calon pemimpinnya yang bertindak dan berlaku free ride saat kampanye.
Hal ini bisa berbahaya bila ada pembiaran, yang akan terstigma di dalam pikiran masyarakat dan generasi mendatang sehingga ketika suatu saat ada penertiban demi penataan kota dan daerah yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih tertata rapi maka akan dianggap sebuah hal yang kontraproduktif dengan masyarakat.

Sehingga penanganan kasus-kasus penertiban akan semakin sulit dan rumit lagi.

Selanjutnya akibat jangka panjang yang dapat diprediksi ialah kerusakan pada bagian-bagian pohon yang menjadi korban “pemakuan” dan “pengikatan”.

Kerusakan-kerusakan ini sudah barang tentu menjadikan kualitas pertumbuhan dan fungsinya akan menurun.

Produktivitas pertumbuhannya juga akan berkurang karena pohon akan fokus pada penyembuhan bagian-bagian yang terluka akibat adanya pemakuan tersebut.

Bila beruntung, pohon akan bisa tumbuh terus hingga besar dan rimbun kembali dengan catatan bagian bekas luka akan tetap membekas, yang akan menurunkan kualitas kayu ketika diadakan peremajaan batang pohon di pinggir jalan.

Bila pohon tidak beruntung (misalkan paku yang digunakan mengandung bakteri atau virus yang bisa mematikan pohon) maka pohon-pohon yang menjadi korban atribut kampanye tersebut akan merapuh dan lama-kelamaan akan mati dengan sendirinya.

Ketika pohon mati karena tak ada perawatan, hal itu akan sangat berbahaya bagi masyarakat dan juga merugikan kas daerah.

Berbahayanya ialah dapat menjadi ancaman yang serius bila tiba-tiba pohon roboh hanya karena tiupan angin yang ringan saja.

Pohon yang roboh ini bisa menimpa bangunan, kendaraan, bahkan manusia yang secara kebetulan sedang berada di sekitar pohon ini.

Terkadang pohon yang keropos di pangkal batang atau di daerah perakarannya tidak dapat diprediksi secara fisik kapan akan roboh, bisa tiba-tiba saja tanpa adanya peringatan terlebih dahulu.

Kemudian pohon yang mati akibat perilaku sembarangan saat kampanye pilkada tersebut juga bisa merugikan kas daerah.

Uang yang digunakan untuk perawatan dan penyembuhan atau pemulihan atau bahkan untuk peremajaan kembali pohon-pohon, yang seharusnya belum masuk di usia tebang itu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Tetapi, karena kecerobohan saat kampanye hal ini bisa menjadi bencana yang cukup menguras biaya.

Bisa saja suatu ketika pepohonan yang seharusnya belum masuk usia tebang tersebut mati secara massal dan roboh dan menimpa berbagai fasilitas dan properti pemerintah, maka bisa dibayangkan biaya kerugian yang dapat dialami oleh pemerintah daerah tersebut.

Sudah lazimnya penataan kota dan kota kabupaten dipercantik dengan adanya berbagai jenis pohon untuk menjaga kesehatan lingkungan, kesejukan, menjaga kualitas udara dari polusi (asap kendaraan dan pabrik dan debu).

Selain itu, adanya pepohonan juga bermanfaat dalam menjaga iklim mikro agar di dalam kota atau daerah, tidak terjadi efek pulau bahang (heat island) yakni area panas yang terkonsentrasi di suatu titik di dalam kota akibat tidak adanya pengontrol iklim mikro.
Sebagaimana contoh di kawasan industri dan perkantoran sudah menjadi keharusan untuk ditanami pohon-pohon yang berfungsi untuk menyerap dan menjerap racun serta polusi udara.
Begitu pula di sepanjang jalan-jalan utama, perlu ditanami jenis-jenis pohon yang cepat tumbuhnya dan memiliki fungsi menjerap debu dan polusi asap kendaraan.

Area-area pemukiman juga sangat perlu ditanami pohon-pohon yang memiliki arsitektur pohon yang unik dan menarik, serta memiliki fungsi untuk memperkaya dan membersihkan udara, serta pohon-pohon yang berusia lama dengan daun yang rimbun dan dapat melindungi area pemukiman tersebut dari terik matahari dan juga memperkaya oksigen.

Keanekaragaman jenis pohon pun perlu diperhatikan pada saat proses penanaman atau pengayaan pohon.

Pohon yang cocok ditanam di sekitar jalan bukanlah pohon dengan buah yang keras dan besar, agar pengguna jalan tidak beresiko tertimpa buah dari pohon yang ditanam.

Pohon yang ditanam di area pemukiman baiknya pohon yang menghasilkan buah, atau bunga yang indah dan memiliki bau yang sedap. Penanaman pohon jenis-jenis tersebut dimaksudkan untuk memperkaya bahan pangan penduduk dan memberikan efek rekreasi pada penduduk.

Kembali lagi pada topik utama yang ingin penulis sampaikan ialah menjaga pohon tetap sehat ialah salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Hal ini dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk juga kontestan politik pilkada melalui kepatuhan terhadap aturan tidak memasang atribut kampanye pada pepohonan.

Hal kecil dan sederhana ini memiliki dampak yang besar dan bermanfaat bila benar-benar dipraktekkan.

*) Penulis merupakan mahasiswa program studi S2 Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, Peneliti Muda di Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB, Alumni Fakultas Kehutanan IPB.


(mam/JPC)