Menstimulus Pertumbuhan

BELUM lama ini Bank Indonesia mengambil kebijakan untuk menurunkan suku bunga acuannya. Kebijakan tersebut tentu harus diapresiasi. Namun, beberapa hal lain juga penting untuk dicermati.

Secara historis, transmisi penurunan suku bunga acuan akan terefleksi pada suku bunga dana pihak ketiga (DPK) atau funding dengan durasi sekitar satu sampai tiga bulan.

Lalu dilanjutkan ke suku bunga kredit sekitar tiga sampai enam bulan. Untuk kondisi saat ini, hal itu mungkin saja terjadi.

Penurunan suku bunga tersebut juga bisa menjadi stimulus untuk kondisi ekonomi. Sebab, setiap cost of borrowing yang rendah memang akan berpengaruh positif pada ekonomi. Tetapi, hal itu memang tidak bisa berdiri sendiri. Artinya, harus ada bauran kebijakan yang ditempuh. Misalnya kebijakan di sisi sektoral.



Bauran kebijakan diperlukan karena saat ini ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Bukan hanya dari sisi supply. Kalau dari sisi supply, saat ini sudah lumayan banyak. Kondisi suku bunga pun sudah ada di level yang rendah.

Yang perlu diingat adalah dari sisi demand. Sebab, demand perlu didorong. Yang paling utama adalah demand for loan. Dengan adanya bauran kebijakan, diharapkan bisa berdampak pada demand for loan dari masyarakat.

Jika itu terjadi, tentu bisa menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi juga. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dipengaruhi dan menitikberatkan pada suku bunga yang rendah.

Belum lama ini, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,9 persen. Terendah sejak krisis finansial 2008–2009.

Sebelumnya OECD meramalkan pertumbuhan ekonomi 2020 sebesar 3,6 persen. Kemudian dipangkas menjadi 3 persen dan dipangkas lagi menjadi 2,9 persen. Belum lagi ada risiko eksternal yang harus diantisipasi.

Untuk di Indonesia, secara umum pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi supply and demand. Terutama dari sisi permintaan. Saya rasa bauran kebijakan adalah syarat penting. Penurunan suku bunga memang penting, tapi belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bauran kebijakan seperti kebijakan-kebijakan fiskal yang ekspansif, kebijakan untuk subsektor maupun sektor, harus didorong. Itu jauh lebih penting untuk dioptimalkan. Sehingga bisa memengaruhi pertumbuhan.

Dilihat dari sektor, beberapa kredit yang bisa terdorong adalah kredit yang sifatnya domestic-based. Misalnya food and beverages, small medium enterprise (SME), dan ritel. Sektor-sektor yang terkait dengan kebijakan pemerintah juga bisa terdorong. Jika bauran kebijakan itu sudah ditempuh, tentu hal tersebut bisa berdampak pada seluruh aspek ekonomi.

*) Chief Economist of Bank Mandiri