Menunggu Program 99 Hari

JawaPos.com – Apa makna kemenangan pasangan Khofifah-Emil dalam pilgub Jatim bagi masyarakat Jatim, terutama kelompok santri? Tidak bisa dimungkiri bahwa pasangan Khofifah-Emil adalah representasi politik kelompok muslim tradisional di Jatim.

Selain dikenal sebagai politikus dan birokrat sukses di beberapa kementerian, Khofifah dikenal luas sebagai ketua Muslimat NU. Sementara itu, Emil Dardak, sekalipun lebih dikenal sebagai politikus muda dan teknokrat bereputasi internasional, terlahir dari keluarga NU dan pernah menjadi pengurus cabang internasional NU Jepang.

Melihat kompetensi yang dimiliki pasangan cagub-cawagub Jatim terpilih itu, masyarakat Jawa timur rasanya layak berharap. Sekalipun setiap harapan kepada penguasa harus tidak boleh menghilangkan nalar kritis. Namun, kompetensi hybrid (santri-teknokrat-birokrat-politikus) yang dimiliki pasangan itu patut dipertimbangkan.


Khofifah Indar Parawangsa bersama Emil Elistianto Dardak saat Pilkada Jawa Timur 2018 lalu. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Bagi komunitas santri, kemenangan Khofifah-Emil bisa menjadi perwujudan idealisme politik santri. Jika santri dimaknai sebagai kelompok sosial yang menjadikan ajaran Islam sebagai rujukan berpikir, bersikap, dan berperilaku, politik santri bisa berarti praktik politik yang menjadikan Islam sebagai rujukannya.

Definisi tersebut mudah diomongkan, tapi seringkali menjadi problem tersendiri dalam praktiknya. Kita harus memahami politik santri di sini dalam konteks relasi ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an sebagaimana yang telah dirumuskan NU.

Di kalangan komunitas santri, dikenal istilah maqasid tasyri’ atau tujuan tertinggi dari diambilnya sebuah kebijakan. Sekalipun beberapa ulama berbeda dalam perinciannya, hampir seluruhnya bersepakat bahwa seluruh policy dan regulasi pada akhirnya harus bermuara pada kebaikan umum alias maslahah ammah.

Gabungan dari pandangan politik dan prinsip dasar pengambilan kebijakan di atas akan menciptakan apa yang disebut dengan istilah “meritokrasi politik ala santri”. Meritokrasi politik bertumpu pada ide bahwa sistem politik harus dijalankan secara profesional sehingga keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan politik yang diambil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Meritokrasi politik ala santri berarti menciptakan sistem politik yang dihuni para profesional dengan dilandasi nilai-nilai kesantrian/keislaman yang kukuh. Meritokrasi politik santri mengandaikan bahwa seluruh kebijakan diambil tidak untuk menguntungkan kelompok tertentu, tapi untuk memastikan tercapainya kebaikan bersama.

Setidaknya, itulah yang bisa kita lihat pada Program 99 Hari yang dicanangkan Khofifah-Emil. Program 99 Hari itu bisa dilihat sebagai ikhtiar awal untuk merealisasikan janji-janji politik yang sudah dinyatakan pasangan tersebut sejak awal.

Janji politik itu diberi nama Nawa Bhakti Satya. Yaitu, sembilan bakti atau program kerja yang meliputi Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Cerdas dan Sehat, Jatim Akses, Jatim Berkah, Jatim Agro, Jatim Berdaya, Jatim Amanah, dan Jatim Harmoni.

Nawa Bhakti Satya tersebut diungkapkan Khofifah sebagai ikhtiar politik dari doa harian kalangan santri: Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah (Tuhan, beri kami kebahagiaan dunia dan akhirat).

Di dalam Program 99 Hari, kita menemukan berbagai program populis, misalnya, peningkatan kualitas layanan kesehatan pesantren dan masyarakat sekitar pesantren; pesantren pengasuhan untuk anak-anak keluarga miskin; SPP dan seragam gratis untuk siswa SMA/SMK; PKH plus yang menjangkau orang-orang lanjut usia dan difabel; program kesehatan yang memastikan kemudahan masyarakat miskin mendapatkan layanan medis secara gratis dan berkualitas; serta berbagai program lain yang memastikan bahwa tidak ada satu pun elemen masyarakat Jawa Timur yang boleh ditinggal dalam derap pembangunan.

Apa yang tertera dalam Program 99 Hari Khofifah-Emil bisa dikatakan sebagai eksperimen pembuktian meritokrasi politik ala santri. Bukan tanpa sengaja jika Khofifah-Emil menamai program di awal pemerintahannya dengan istilah

“Program 99 Hari”, bukan program 100 hari sebagaimana yang biasanya digunakan para pemimpin politik lain. Angka 99 secara cepat membawa asosiasi kita kepada 99 nama indah Tuhan (asmaul husna). Angka 99 juga adalah salah satu ikon spiritual komunitas santri. Asmaul husna merefleksikan kasih sayang dan keadilan Tuhan.

Jika Khofifah-Emil ingin mengukir dirinya sebagai pemimpin yang adil dan menyejahterakan rakyatnya, Program 99 Hari adalah pertaruhan awalnya. (*)

Editor           : Ilham Safutra