Menunggu Rekonsiliasi Elite Politik

JawaPos.com – Seruan tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menolak provokasi dan perlunya memilih jalan rekonsiliasi nasional harus menjadi perhatian publik.

Pasalnya, setelah perhelatan akbar pemilihan umum presiden-wakil presiden (pilpres) dan legislatif (pileg) pada 17 April lalu, seluruh elemen bangsa ini masih memiliki pekerjaan untuk mewujudkan iklim damai.

Kegelisahan begitu menyeruak dalam kehidupan kita. Lihat saja berbagai respons, ujaran, dan komentar di banyak platform media sosial. Mulai Facebook, Instagram, hingga grup WhatsApp. Tidak sedikit adanya ujaran kebencian dan berbagai ungkapan provokatif yang bisa kontraproduktif dalam merawat harmoni kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks ini, inisiatif tokoh agama sekaligus tokoh bangsa sangat diperlukan dan perlu terus diapresiasi. Itu semua bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik sosial politik. Langkah positif untuk menjaga kohesi sosial yang cepat diambil dan akan terus dilakukan berbagai ormas perlu didukung seluruh elemen masyarakat.



Beberapa ormas yang telah menawarkan jalan rekonsiliasi tersebut dimotori Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Juga didukung kiai, ulama, dan berbagai pihak yang kini ikut ambil bagian. Rekonsiliasi memang harus terus digalang.

Dengan banyaknya suara tokoh bangsa, suara kebaikan akan terdengar. Semua itu dilakukan demi menjaga kebersamaan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Suara elite politik juga dinantikan semua pihak. Tentu suara yang mengarah pada terciptanya suasana damai, rukun, dan tenang dalam kondisi detik-detik penentuan terpilihnya pemimpin nomor satu di negeri ini.

Sejalan dengan itu, Haedar Nashir selaku ketua umum PP Muhammadiyah menyampaikan seruan kepada elite politik dan seluruh pihak terkait pilpres dan pileg untuk menjaga suasana damai. Bahkan, Haedar meminta elite politik tidak memobilisasi massa untuk menentang hasil Pemilu 2019. Demikian pula Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siroj, yang mengajak seluruh tokoh lintas agama bersatu mewujudkan pemilu damai dan sukses di negeri ini.

Habib Zen bin Smith sebagai ketua umum organisasi Islam yang jadi wadah resmi habib se-Indonesia, Rabithah Alawiyah, juga mengeluarkan fatwa pemilu damai. Dia meminta umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia tetap menjaga persatuan dan kesatuan, apa pun nanti hasil penetapan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Terkait pro dan kontra hasil hitung cepat (quick count), Habib Zen meminta seluruh pihak me­nahan diri sampai hasil penghitungan akhir dari KPU keluar. Tentu saja semua pihak juga berharap KPU bekerja secara profesional, jujur, adil, dan amanah. Tujuannya, kepercayaan masyarakat terhadap KPU terus terjaga dengan baik.

Menariknya lagi, di Jawa Timur (Jatim), langkah rekonsiliasi juga telah dilakukan. Dimulai dari ulama dan kiai NU yang mendukung kedua pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden. Baik paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebagaimana diberitakan, semua kiai se-Jatim tersebut sepakat untuk menjaga kondusivitas seusai pemilu serentak 2019.

Puluhan kiai sepuh itu berkumpul untuk menyeru umat Islam di Jatim dan di Indonesia pada umumnya agar tidak terprovokasi dengan kondisi politik setelah Pilpres 2019. Para kiai dan pimpinan pesantren tersebut juga sepakat menjaga suasana masyarakat yang aman dan kondusif.

Ada pelajaran menarik dari forum berkumpulnya para kiai di kediaman mantan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) itu. Intinya, perbedaan bukanlah suatu masalah meski sebelumnya ada beberapa kiai yang berbeda dukungan. Tentu hal tersebut bisa dipahami bahwa di kalangan kiai saja, meski ada perbedaan, mereka bisa kembali bersatu, rukun, dan damai. Hal itu diharapkan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di level bawah.

Masyarakat santri dan rakyat Indonesia pada umumnya diharapkan bisa mengikuti langkah dan teladan yang baik tersebut. Kini sudah saatnya dipahami, proses dukung-mendukung telah selesai. Maka, tiba saatnya semua menatap ke depan demi keutuhan dan kemajuan bangsa.

*) Dosen dan Kepala Kelompok Riset Sosial Agama di ITS Surabaya