Menunggu Sentuhan Nadiem

KEPASTIAN Nadiem Makarim bakal ditunjuk oleh Jokowi sebagai menteri yang mengurusi pendidikan nasional, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, saya dapat dari seorang kolega di Jakarta beberapa hari sebelum pelantikan. ’’Hampir pasti, Mas,’’ kata kolega saya.

Pada 23 Oktober 2019, Nadiem betul-betul dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menggantikan dua pendahulunya sekaligus: Muhadjir Effendy dan Mohammad Nasir. Karena terdapat nomenklatur baru, Nadiem menjadi menteri yang mengurus pendidikan dasar, menengah, dan juga pendidikan tinggi.

Nadiem alih-alih representasi, bahkan bisa dibilang ikon generasi langgas yang darinya segala bentuk disrupsi muncul dan mengancam para petahana dari generasi lama. Generasi langgas lahir saat ekosistem digital menguat sehingga mereka layak disebut sebagai warga pribumi digital atau digital native, yang membedakan dengan generasi sebelumnya yang lazim disebut dengan kaum migran digital (digital immigrant). Thomas L. Friedman, dalam salah satu bukunya, The World Is Flat, antara lain membahas perkembangan globalisasi yang pada tahapan sekarang disebut globalisasi 3.0.

Aktor globalisasi gelombang ketiga, kata Friedman, mulai memberikan tempat kepada individu yang pada globalisasi 2.0 didominasi peran korporasi, sedangkan pada globalisasi 1.0 lebih banyak diaktori negara lewat praktik kolonialisme. Indonesia, misalnya, telah menjadi sasaran globalisasi 1.0 karena sejak abad ke-16 telah menjadi area jajahan bangsa Eropa. Melompat ke globalisasi 3.0, individu yang menguasai teknologi informasi, bisa memasuki ceruk pasar tertentu (individuals find niches in global market).



Nadiem, di samping lahir pada tahun-tahun yang sering dijadikan patokan periodisasi munculnya generasi langgas yang langsung tune in dengan beraneka ragam teknologi informasi (TI), yang tidak kalah pentingnya lagi, memiliki riwayat pendidikan bisnis dari kampus yang memiliki brand ternama. School Business Harvard.

Gabungan dari semua itu, Nadiem tampil seperti dalam legenda Yunani The Touch of Midas. Dengan sentuhannya ala Midas, Nadiem mengubah secara radikal cara orang pada mulanya dalam bertransportasi, tetapi kemudian merambah kepada pernik-pernik kehidupan lainnya hanya dengan satu aplikasi bernama Gojek. Dapatkah Nadiem mengubah wajah pendidikan dalam tempo sesingkat-singkatnya seperti pesulap yang bisa mengubah wujud suatu benda? ’’Simsalabim Nadiem” seperti headlineJawa Pos (24/10).

Rupanya, Nadiem sudah menemukan salah satu akar permasalahan dan instrumen pemecahannya. Dikutip oleh berbagai media, Nadiem menyebut dengan begitu optimistis, teknologi menjadi instrumen yang diandalkan untuk memecahkan permasalahan pendidikan. Kita belum tahu cerak biru pendekatan teknologis yang bakal digunakan Nadiem terhadap pendidikan. Tetapi, respons kritis terhadap pendekatan teknologisnya yang bakal dipilih mulai bermunculan. Misalnya, apakah Nadiem akan mempercepat digitalisasi pendidikan yang bakal menjadi satu paket dengan pengembangan pembelajaran secara daring.

Pengembangan tersebut dengan sendirinya mengubah tradisi yang sudah lama mengakar dalam dunia pendidikan kita. Guru pasti terdisrupsi, dari yang semula menjadi sumber ilmu pengetahuan, tergantikan oleh internet. Perubahan itu pelan-pelan akan menggerus cara berinteraksi siswa dengan guru.

Jika beragam informasi ilmu pengetahuan sudah tersedia di cloud computing dan semua ruang sudah terkoneksi dengan internet (internet of thing), ditambah lagi segala benda di sekitar kita dilengkapi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligent), pertanyaannya, ada di mana guru sekarang? Pertanyaan itu pada gilirannya akan menyoal filosofi pendidikan.

Dalam berbagai literatur filsafat dikemukakan, pendidikan adalah proses humanisasi, memanusiakan manusia. Hingga pada uraian ini, penting kita mengingat Erich Fromm yang dengan begitu lugas mengungkapkan kekhawatirannya terhadap apa yang disebut dengan masyarakat teknologis lewat bukunya, The Revolution of Hope.

Pada bab pertama buku tersebut, Fromm memulai dengan ungkapan provotif tentang momok baru yang membayangi kehidupan manusia, ’’Momok itu bukanlah bahaya laten komunisme, bukanlah fasisme, tetapi masyarakat yang sepenuhnya telah menjadi mesin (a completely mechanized society) yang mendewakan produksi maksimal dan konsumsi maksimal di bawah pumpinan komputer.’’

Dalam konteks masyarakat teknologis yang disebut Fromm, dan belakangan society 4.0 bahkan 5.0, tentu bukan zamannya lagi kalau proses pembelajaran lebih mengandalkan resitasi dan berpusat kepada guru atau dosen. Begitu cepatnya saat ini (maha)siswa mengakses berbagai macam informasi sehingga beberapa aktivitas konvensional guru atau dosen, terutama yang berkaitan dengan transfer ilmu pengetahuan, mulai terdisrupsi.

Teknologi menghadirkan suatu realitas mendasar: realitas kecerdasan manusia yang kemudian digambarkan oleh Yuval Noah Harari dengan konsep yang begitu ambisius, Homo deus, yang melampaui Tuhan (outgrowing of God) seperti judul buku Richard Dawkin. Tetapi, sebagaimana diingatkan Fromm dalam buku yang sama, betapapun kian canggihnya intelektualitas manusia, pada diri manusia ada dimensi afeksi yang harus diperhatikan dan tetap dirawat.

Masyarakat teknologis adalah realitas yang tidak terhindarkan. Meski demikian, humanisasi terhadap masyarakat teknologis, tegas Fromm, adalah niscaya agar manusia tetap dalam bingkai kemanusiaannya. Dalam konteks pendidikan, secanggih apa pun instrumen teknologisnya, pendidikan tidak boleh mengingkari filosofinya sebagai praksis humanisasi (pemanusiaan). Berdasarkan pada filosofi tersebut, pendidikan dikatakan oleh Haidar Baqir dalam Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia(2019), praksis pendidikan harus tetap terarah kepada dimensi manusia yang terdalam, yaitu jiwa dan hati.

Pengembangan pada kompetensi vokasional dan praktikal memang sebagai kebutuhan zaman. Namun, tidak boleh diabaikan pengembangan kemampuan personal eksistensial yang menyentuh dimensi spiritualitas manusia dan juga dimensi sosial. Filosofi itu pada akhirnya mengingatkan aktivitas mendasar dalam pendidikan, yaitu karakterisasi. Konsep tersebut bisa dipahami dengan menggunakan konsep kultivasi (cultivation) dari Naquib al Attas, filsuf muslim Melayu, yakni penanaman nilai-nilai keadaban untuk mewujudkan manusia yang baik (a good man). Baginya, kultivasi keadaban adalah kulminasi pendidikan, alih-alih aktivitas yang lebih mengarah kepada pengembangan fisik dan intelektual yang dalam nomenklatur khazanah keilmuan Islam disebut tarbiyah. Konsep yang tepat, lanjut al Attas, bukan tarbiyah, melainkan ta’dib (pengadaban).

Filosofi itu mudah-mudahan tetap dipahami oleh ’’Mas Menteri’’ Nadiem.


*) Syamsul Arifin, Sosiolog, wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)