Menurunnya Penalaran Moral Anak

 Menurunnya Penalaran Moral Anak

JawaPos.com  – Aksi pengeroyokan yang terbilang sadis terjadi di Pontianak. Menyesakkan dada. Apalagi ketika melihat pelakunya adalah 12 siswi SMA. Korbannya seorang siswi SMP.

Pertanyaannya, mengapa mereka sampai hati melakukan penganiayaan itu? Di mana nalar mereka?

Dalam bidang psikologi, sebuah perilaku pasti ada penjelasannya. Mengapa perilaku sadis dapat terjadi. Dalam perkembangan moral yang dikemukakan Kohlberg, sebuah perilaku dapat dijelaskan alasannya. Alasan moral (moral reasoning)-lah yang dapat menjelaskan dasar latar belakang perilaku itu dilakukan dan ini merupakan hal utama jika dibandingkan dengan perilaku yang ditunjukkan (overt behavior).

Mengapa ungkapan di medsos membuat mereka sakit hati sehingga melakukan perbuatan sadis? Hal itu disebabkan mulai menipisnya fungsi penalaran anak.



Pada zaman medsos yang merajalela sekarang ini, perlu ada perubahan sikap penggunanya. Reaksi cepat terhadap posting-an akan menipiskan kepekaan terhadap apa yang disampaikan.

Bandingkan dengan ketika seseorang berkomunikasi langsung, mata seseorang akan terstimulasi elemen-elemen nonverbal dari orang yang diajak berbicara. Di sana akan terlihat ekspresi wajah, baju, gerakan tangan, dan bahkan situasi di sekelilingnya. Itulah yang membuat respons menjadi tidak serta-merta karena ada perpecahan dalam konsentrasi dalam bereaksi.

Ketika orang tersakiti secara langsung saat sedang berhadapan dengan yang menyakiti, situasi hadirnya orang lain atau reaksi wajah yang menyakiti akan menjadi pertimbangan seseorang untuk merespons.

Berbeda dengan medsos, pengguna jarang membayangkan wajah orang yang membaca atau jarang membayangkan reaksi kelompok pembaca. Di sinilah akhirnya anak tidak terbiasa untuk menalar, tetapi langsung bereaksi secara cepat terhadap tulisan.

Berangkat dari kasus AU, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Pada korban, dengan trauma yang dialami secara psikis, perlu ada pendampingan oleh psikolog dan keluarga dekat. Reaksi emosional dari orang dekatnya justru tidak berdampak baik bagi korban karena akan membuka luka. Pengalihan dengan memberikan aktivitas lain seperti menulis, menggambar, berkatarsis, atau mengungkapkan apa yang dirasakan kepada ibu atau keluarga dekat akan memberikan rasa nyaman dan menjadikan emosinya bisa release.

Pada pelaku, jangan sampai mereka dibebaskan karena tidak ada alasan manusiawi untuk perbuatan yang telah dilakukan. Perlu diberikan efek jera yang mendidik, khususnya yang bisa merangsang berkembangnya nalar mereka. Hukuman kerja sosial seperti mengasuh para lansia, bekerja di liponsos, atau bekerja di rumah yatim piatu bisa diberikan agar ada efek jera sekaligus memberikan pelajaran untuk berkembangnya nalar mereka.

Pada orang tua pelaku, jadikan itu sebuah refleksi bahwa penalaran moral anak mereka mengalami masalah. Sebaiknya komunikasi semakin intens dilakukan agar anak mengenal dan berlatih tentang dialog atau komunikasi dua arah. Kesalahan anak adalah cerminan interaksi yang terjadi selama ini.

Peluk anak. Namun, jangan membela dan menghalangi anak ketika harus menjalani efek jera yang diakukan penegak hukum. Biarkan anak tahu bahwa perbuatannya tidak dapat ditoleransi. Bahwa perbuatannya kelewat batas.

Bukankah anak akan berhati-hati menggunakan pisau ketika mereka pernah merasakan kena pisau? Jadi, biarkan anak menjalani akibat kelakuan mereka. Pelajaran itu akan sangat berharga bagi perkembangan diri mereka.

Bagi masyarakat umum, biarkan hukum yang menindaklanjuti. Boleh dikawal, tetapi jangan emosional. Reaksi emosional yang berkepanjangan akan membuka luka korban terlalu lama. Hal itu akan lebih menyakitkan serta tidak memudahkan korban untuk bangkit lagi.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua zaman sekarang untuk meningkatkan penalaran moral anak? (1) Biasakan mengasah penalaran moral anak dengan menanyakan “mengapa perilaku itu dilakukan” ketika anak melakukan sesuatu. Kebiasaan tersebut akan membuat anak lebih memahami mengapa sebuah perilaku dilakukan dan mengapa sebuah perilaku tidak boleh dilakukan.

(2) Wajib melakukan komunikasi dua arah dengan memulai mengaktifkan kata tanya dalam dialog. Mengajak dialog membuat nalar anak bekerja. (3) Melatih anak melakukan kegiatan yang menggugah empati. Misalnya, membagikan makanan di jalan kepada orang yang tidak mampu atau pergi ke panti asuhan saat ulang tahun.

Diharapkan, ketika orang tua memberikan stimulasi bagi berkembangnya penalaran moral anak, anak akan bisa lebih memahami orang lain. Dengan gerakan yang demikian, diharapkan anak mampu berpikir dua kali ketika akan melakukan perilaku yang membuat orang lain tersakiti. (*)