Menutup Tahun, Mengintrospeksi Bangsa

Padahal, ada satu tradisi yang lebih baik yang sebenarnya sudah puluhan tahun dilakukan di Indonesia, yang sayangnya terlupakan lantaran tertutupi oleh keriuhan pesta pergantian tahun. Yakni: tradisi introspeksi diri sebagai bangsa.

Tradisi itu diperkenalkan dan dilestarikan para pemimpin Indonesia. Artinya, bagi mereka, menilai ulang diri merupakan cara tepat menutup tahun lama dan menyongsong tahun baru. Semangat evaluasi dari para pemimpin itu ditularkan kepada bawahannya serta masyarakat umum melalui berbagai media. Alhasil, ada kesadaran luas untuk mengevaluasi pencapaian dan kekurangan dalam setahun terakhir.

Adalah Presiden Soekarno yang membangun tradisi introspeksi diri di pergantian tahun sejak masa perang kemerdekaan. Bagi dia, akhir tahun adalah saat untuk meninjau ulang seberapa jauh perjalanan negara-bangsa baru bernama Indonesia di tengah serbuan Belanda.

Saat pergantian tahun 1947 menuju 1948, Soekarno berpidato secara khusus di radio. Isinya adalah evaluasi terhadap perjuangan kemerdekaan RI setahun terakhir. Tahun 1947 adalah tahun berat, kata dia, karena Belanda menjalankan perang kolonial (”agresi militer” menurut Indonesia dan ”aksi polisional” menurut Belanda). Akibatnya sungguh menyengsarakan rakyat: korban jiwa jatuh, perempuan menjadi janda, anak menjadi yatim atau piatu, sementara ketenteraman pun hilang.



Setelah mengulas betapa sukarnya kehidupan rakyat sepanjang tahun 1947 itu, Soekarno dalam pidato pergantian tahunnya tersebut menyampaikan ”salam kehormatan” kepada para korban perang itu. Dia juga menganjurkan agar seluruh bangsa Indonesia berusaha lebih gigih dan tidak putus asa. Di tengah kesulitan di tahun-tahun pertama pasca kemerdekaan, Soekarno melihat masa depan Indonesia akan cerah.

Tradisi introspeksi itu dilanjutkan Soeharto saat menjabat presiden. Bila pidato pergantian tahun Soekarno fokus pada kemerdekaan dan pengorbanan, pidato pergantian tahun Soeharto menekankan pada ajakan untuk membangun. Contohnya saat pergantian tahun dari 1970 ke 1971. Kala itu, dalam pidato televisinya, Soeharto mengevaluasi tahun 1970. Menurut dia, ada satu keberhasilan yang diraih pada tahun itu, yakni lahirnya harapan baru yang membesarkan hati. Dia merujuk pada beberapa pencapaian penting pemerintahnya, antara lain, hasil produksi yang kian tinggi, stabilnya harga, dan rendahnya laju inflasi. Tapi, ada satu hal yang kurang memuaskannya, yakni ”demam pemilu” lantaran munculnya ”getaran-getaran” yang berujung pada perselisihan politik. Walau begitu, Soeharto berharap agar di tahun-tahun mendatang kestabilan ekonomi dan politik, keharmonisan sosial, dan keberhasilan pembangunan bisa diraih.

Soeharto masih melakukan introspeksi akhir tahun pada era selanjutnya. Dia, misalnya, menutup tahun 1977 dan membuka tahun 1978 dengan sebuah pidato di TVRI. Katanya, Indonesia berhasil melewati tahun 1977 yang penuh kesulitan dan keprihatinan. Tapi, dia juga melihat bahwa ada banyak keberhasilan yang diraih di tahun itu, dengan yang paling penting adalah diadakannya Pemilu 1977, pemilu kedua di satu dekade pertama pemerintahannya. Pada tahun baru 1978, dia menyerukan agar bangsa Indonesia memasukinya dengan tekad dan semangat baru sehingga kemajuan, kesejahteraan, dan keadilan bisa dirasakan masyarakat.

Mengingat lamanya masa pemerintahannya, Soeharto merupakan presiden Indonesia yang paling banyak melakukan introspeksi akhir tahun. Era 1980-an ditandai dengan dimulainya Repelita IV, resesi ekonomi serta, di luar negeri, merebaknya konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Dalam pidato akhir tahun 1983, Soeharto menyebut tahun itu ”bukan tahun yang disinari bulan purnama” lantaran ”penuh ujian berat dan tantangan besar”. Tapi, bangsa Indonesia, tegasnya, ”Berhasil keluar dengan selamat dari gemblengan.” Di tahun baru dia berharap agar bangsa Indonesia ”tetap tabah dan siap memikul beban pembangunan”.

Para pemimpin Indonesia selanjutnya juga mempunyai caranya tersendiri dalam menutup tahun lama dan menyongsong tahun baru, baik dengan berpidato ataupun lainnya. Secara umum, kesulitan di tahun yang sudah lewat, keberhasilan pemerintah mengatasi situasi, dan harapan akan tahun baru yang lebih baik senantiasa menjadi ciri khas pidato pergantian tahun para pemimpin Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Evaluasi itu memang tampak sepihak, tapi tetap bermanfaat untuk melihat ringkasan perjalanan sebuah negara dalam 365 hari terakhir serta refleksi terhadap perjalanan itu.

Pada hakikatnya, sejak dahulu, introspeksi diri sudah melekat pada manusia. Kita melakukannya setiap hari. Di pagi hari kita becermin, mengevaluasi penampilan kita sebelum bertemu orang lain. Di akhir hari sebelum terlelap, kita juga memutar ulang apa saja yang kita lakukan seharian. Bila sehari-hari saja kita melakukan introspeksi diri, introspeksi diri sebagai sebuah bangsa di akhir tahun adalah suatu tindakan yang mempunyai landasan yang jauh lebih kuat.

Indonesia akan selalu dipenuhi problem dalam setahun. Pergantian tahun ibarat cermin, tempat kita berdiri sejenak dan melihat dari dekat baik-buruknya rupa kita sebagai bangsa. Saat becermin, kalau ada yang kurang bisa segera dibenahi. Seusai becermin, seharusnya lahir harapan dan kepercayaan diri untuk menghadapi hari yang baru.

Ada pesan akhir tahun yang akan selalu cocok untuk Indonesia. Itu disampaikan Perdana Menteri (PM) Ali Sastroamijoyo saat pergantian tahun 1953 ke 1954. Kala itu, kepada Antara, dia mengutarakan bahwa di tahun yang baru tentu masih akan ada kesukaran dan rintangan. Tapi, baginya, introspeksi diri di akhir tahun adalah langkah penting, karena dengan demikian ia bisa mengidentifikasi segala problem itu sehingga sudah siap untuk menghadapi tahun berikutnya. Akhirnya, bagi PM Ali, ada dua kunci sukses menghadapi tahun yang baru: ”pandangan yang optimistis” dan ”bekerja keras”.


(*Sejarawan, PhD di Universiteit van Amsterdam)