Metropolitan Unik

 

Oleh Kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

SAYA pernah merasakan hari H Lebaran di Jakarta, ketika bertugas di sana, antara 2004– 2005. Kala itu, kondisi Jakarta, terutama di jalan-jalan protokol, benar-benar lengang. Ini menunjukkan bahwa kota itu dihuni oleh hampir semuanya pendatang. Begitu hari H Lebaran, maka para pendatang itu pun mudik ke kampung halamannya masing-masing.

Saya juga pernah beberapa kali merasakan hari H Lebaran di Surabaya. Kala itu, kondisi Surabaya juga jauh lebih lengang ketimbang hari-hari biasa Ini juga menunjukkan bahwa Kota Surabaya kebanyakan dihuni oleh para pendatang. Ini berbeda dengan di Kota Malang. Kota Malang termasuk kota besar. Tapi tak sebesar Surabaya, apalagi Jakarta. Ketika Lebaran tiba, tepatnya pada hari H, kota ini malah ramai. Malah padat. Mobil-mobil berpelat luar kota, banyak bersliweran di jalan-jalan protokol. Bisa jadi, mereka adalah warga asal Malang yang merantau keluar Malang, lalu pas Lebaran, mereka mudik ke Malang. Atau, bisa jadi mereka adalah dari luar Malang yang ingin berekreasi ke Malang.



Kota Malang memang berbeda dengan kota-kota lain. Kota ini selain berbau metropolitan, juga menjadi kota antara, bagi para wisatawan. Terutama para wisatawan yang akan ke Kota Batu, atau yang dari Kota Batu. Bisa jadi ke Kota Malang dulu, baru ke Kota Batu untuk berwisata. Atau, dari Kota Batu, baru ke Kota Malang. Kondisi Lebaran mulai hari pertama, hingga hari ketujuh, di Kota Batu sangat hiruk-pikuk. Saya menyebutnya mirip “dawet”. Dari pengamatan saya beberapa kali Lebaran, tempat-tempat wisata di Kota Batu, begitu banyaknya dijubeli pengunjung.

Bagi saya yang sehari-harinya di Malang, rasanya tak bisa menikmati suasana berjubelan seperti itu. Tapi, rupanya, tidak bagi para wisatawan. Mereka bisa menikmati pemandangan yang berjubelan itu. Mereka juga bisa menikmati kemacetan lalu lintasnya. Entahlah, benar-benar bisa menikmati, ataukah terpaksa harus bisa menikmati.

Lebaran tahun ini, berbeda dengan Lebaran tahun lalu. Setidaknya pada tahun ini, jalan tol Pandaan-Malang sudah resmi dibuka. Underpass di perempatan Karanglo juga sudah bisa dilalui. Maka, lalu lintas macet menuju Malang yang biasanya sering terjadi di Pandaan, Lawang dan Singosari, rasanya tak ada lagi macet di sana. Maka, bisa jadi, akan lebih banyak lagi yang datang ke Malang. Malang, hingga saat ini masih menjadi magnet bagi para wisatawan.

Karena itu, sangatlah tepat, jika pemerintah mengebut proses pembangunan jalan tol Pandaan-Malang. Semoga, rencana pemerintah yang akan membangun jalan tol MalangKepanjen, untuk membuat jalan pintas dari Kota Malang ke Kabupaten Malang bisa segera direalisasikan. Malang Raya, yang terdiri dari tiga daerah (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) bisa menjadi metropolitan unik. Disebut unik, karena berbeda dengan kawasan metropolitan lainnya.Yang membuat unik, di antaranya, adalah Kota Batu.

Inilah kota, tapi bersuasana seperti di pedesaan. Kota, tapi pe mandangannya masih seperti di desa. Hijau dan hawanya relatif sejuk.Yang juga membuat unik adalah Kabupaten Malang. Inilah kota, yang bisa dikembangkan menjadi kota pantai. Karena memang banyak terdapat pantai di Kabupaten Malang yang eksotis. Kabupaten Malang bisa disebut sebagai Metropolitan kepantai-pantaian. Kayak di Bali. Untuk bisa menjadi Metropolitan Unik, butuh support dari pemerintah di atasnya. Provinsi, bahkan pusat. Dan untuk bisa di-support pemerintah di atasnya, maka sinergi antar kepala daerah di Malang Raya adalah sebuah keniscayaan. Sinergi itu harus didasarkan pada kesamaan visi. Kesamaan tujuan. Dan kesamaan dalam menentukan arah pembangunan bagi Malang Raya ke depan. Sempat ada usulan, agar tiga kepala daerah di Malang Raya bersepakat untuk membuat master plan bersama. Masih dalam suasana Idul Fitri, semoga momentum ini menjadi titik bagi semakin tumbuhnya semangat untuk bersinergi antara kepala daerah di Malang Raya. Semoga. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)