Mimpi Unisma Menjadi Kampus Kelas Dunia

Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr Masykuri Bakri MSi

Oleh: Prof Dr Masykuri Bakri MSi

Ibarat seorang pelari, saat ini Universitas Islam Malang (Unisma) sedang berlari begitu kencangnya. Selain infrastruktur yang terus dikebut pengerjaannya, kami sedang giat menjalin kerja sama dengan sejumlah kampus di luar negeri. Tahun ini saja, sudah ada empat negara yang kami kunjungi untuk menjalin kerja sama. Negara-negara itu adalah Australia, Uzbekistan, Azerbaijan, dan Brunei Darussalam.

Perihal hasil dari kunjungan tersebut, akan saya singgung di tulisan saya selanjutnya. Ini karena kunjungan tersebut hanyalah sebagian dari upaya Unisma menjadi kampus kelas dunia, atau yang populer dengan sebutan World Class University (WCU).

Dalam tulisan ini, saya akan lebih banyak menyinggung tentang upaya Unisma meraih WCU, yang menjadi mimpi-mimpi besar kami. Ada lima milestone atau pijakan yang dipegang Unisma untuk menjadi kampus kelas dunia. Jika diibaratkan seorang pelari lagi, Unisma tidak ingin bersemangat di awal, lalu terengah-engah di tengah, dan tidak sampai pada garis finis.

Dengan lima pijakan yang kami rumuskan ini, saya berharap Unisma konsisten untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dengan bangunan keikhlasan, kejujuran, kebersamaan, dan kedisiplinan, dengan prinsip menyenangkan semua elemen dengan dasar Islam dan kemanusiaan. Apalagi, mimpi-mimpi tersebut merupakan mimpi-mimpi semua civitas academica, bukan hanya mimpi saya sebagai rektor.



Tahapan pertama untuk menuju kampus kelas dunia adalah Good University Governance (GUG). Tahapan ini sudah kami lakukan sejak 2011 silam. Banyak hal yang kita lakukan dalam mencapai good governance, dalam keuangan misalnya, transparansi adalah pegangan kami. Yang kita lakukan di antaranya audit internal dan audit eksternal.

Akuntan publik yang kami gandeng, selama tiga tahun berturut-turut memberi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dalam hal laporan keuangan, penilaian ini merupakan penilaian yang tertinggi. Selain dalam hal keuangan, good governance juga diberlakukan untuk meningkatkan disiplin dosen. Di antaranya, dosen harus absen melalui finger print saat mau dan setelah perkuliahan. Begitu juga tender berbagai bangunan dan pengadaan lahan disaksikan jajaran yayasan, rektorat dan dekanat, serta lembaga-lembaga yang ada di Unisma.

Tahapan kedua adalah Unisma menjadi Teaching University. Posisi kita saat ini berada di teaching university. Untuk melaksanakan ini, kami bangun ruang-ruang kuliah yang representatif dan laboratorium yang memadai. Kunjungan kami ke sejumlah negara juga dalam rangka mendukung teaching university ini. Karena, dengan melongok kualitas pendidikan di luar negeri, kita menjadi tahu apa kekurangan dan apa yang perlu diperbaiki.

Tak hanya itu, dosen-dosen juga kami tingkatkan kualitasnya. Kami minta dosen untuk menulis buku, nantinya buku-buku dosen inilah yang bisa dijadikan referensi mahasiswa mereka. Untuk program ini, kami menyediakan anggaran yang tak sedikit. Yakni sekitar Rp 3 miliar.

Tahap selanjutnya adalah Riset University. Target kami tahun 2019 mendatang, Unisma sudah menjadi Riset University. Infrastruktur untuk mencapai kampus berbasis riset ini, kami sudah mempunyai Halal Center. Dosen-dosen juga kami genjot melakukan penelitian yang hasilnya diterbitkan di jurnal internasional dan regional. Di Unisma saat ini sudah ada sekitar 23 penemuan yang mempunyai hak paten, dan ratusan penemuan yang sudah mengantongi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Saya membayangkan di kampus berbasis riset ini, suasana perkuliahan akan sangat menyenangkan. Ini karena perkuliahan tidak lagi berada di menara gading. Mahasiswa akan dekat dengan realitas dan permasalahan sosial, karena perkuliahan selalu mengedepankan riset.

Setelah mahasiswa mendapatkan teori di kelas, maka mereka akan melakukan riset yang menjadikan teori sebagai landasan bahkan menemukan teori-teori baru. Menurut saya, hal seperti inilah yang kurang dilakukan di pendidikan kita sehingga siswa dan mahasiswa jauh dari realitas.

Setelah menjadi kampus berbasis riset, kami ingin memulai menjadi Entrepreneur University di tahun 2023 atau lima tahun lagi. Tentu, agar berkelanjutan entrepreneur yang dilakukan mahasiswa berbasis riset. Contohnya, di Jerman saat ini sedang dikembangkan sepeda motor yang bisa terbang. Ini untuk mengatasi persoalan yang hampir terjadi di semua negara yakni kemacetan. Kira-kira seperti itulah kampus entrepreneur yang akan kami ciptakan, yakni link and mach. Jadi, entrepreneur-nya berbasis riset dan kebutuhan costumer atau masyarakat. Tentu saja, masih banyak terobosan lain yang akan kami buat untuk menciptakan kampus entrepreneur ini, yang tidak mungkin saya sebut semua dalam tulisan singkat ini.

Jika sudah menjadi kampus entreprenur, kami akan meningkat menjadi kampus kelas dunia atau world class university di tahun 2027. Jika bulan ini Unisma akan berusia 37 tahun, maka di umurnya 46 tahun, Unisma sudah masuk dalam persaingan kampus-kampus kelas dunia.

Di umur Unisma yang hampir setengah abad itu, kami tidak hanya berkutat pada persaingan tingkat nasional. Tapi, sudah persaingan tingkat dunia. Jika saat ini ada mahasiswa dari sembilan negara di kampus kami, di tahun itu kami yakin semakin banyak mahasiswa dari lintas negara dan bangsa-bangsa yang mengenyam pendidikan di kampus kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU) ini.

Demikianlah mimpi-mimpi Unisma. Mimpi-mimpi besar tersebut, menjadi pemompa semangat para civitas academica. Pikiran kita sudah tidak lagi, apa yang akan kami dapat dari Unisma, tapi apa yang bisa kami berikan kepada Unisma, dan mindset civitas academica Unisma sudah rata-rata demikian.  Demikian. Salam.

*Penulis adalah Rektor Universitas Islam Malang (Unisma).