Mindset – Radar Malang Online

Ini kisah tentang seorang suami yang punya kebiasaan, selalu meletakkan handuk basah di kasur.  Istrinya pun ngomel. Dan juga jengkel. Bagaimana tidak. Handuk masih basah, yang baru saja dipakai sehabis mandi, selalu diletakkan suaminya di kasur. Maka, ikut basahlah kasur itu.

Si istri tak hanya ngomel. Tapi juga menyindir kebiasaan buruk suaminya itu. ”Kapan ya… handuk itu bisa berjalan sendiri ke jemuran,” seperti ini si istri menyindir.  Apakah kebiasaan suaminya berubah? Tidak. Bahkan, handuk yang diletakkan di kasur semakin basah. Si istri semakin jengkel. Dia benar-benar sebal dengan perilaku suaminya.

Sampai pada suatu ketika, si istri merenungkan perbuatan suaminya dan merenungkan sikap yang dia tunjukkan kepada suaminya. Hingga terbesit kesadaran dalam diri si istri. ”Mengapa aku harus ngomel kepada suamiku? Mengapa aku harus jengkel kepada suamiku? Bukankah ketika aku melayani dia, dan ketika aku berbuat baik kepada dia, aku akan mendapatkan pahala? Bukankah ketika aku membawa handuknya yang basah itu ke tempat jemuran, adalah sebuah kebaikan?”

Apa yang terjadi berikutnya? Si istri tak lagi ngomel dengan perilaku suaminya yang belum berubah: meletakkan handuk basah di kasur. Dengan sabar dan ikhlas, si istri mengambil handuk basah suaminya, lalu dia bawa ke jemuran.

Si istri tak lagi jengkel setiap kali membawa handuk basah suaminya ke jemuran. Sebaliknya, dia selalu tersenyum dan bahagia, seraya berharap, amalan dia membawa handuk basah ke jemuran itu menjadi pahala baginya.

Hari berlalu, hingga terjadilah perubahan. Si suami tak lagi meletakkan handuk basah di kasur.  Setiap kali habis mandi, dia bawa sendiri handuk basahnya ke jemuran. Rupanya, perubahan sikap istrinya yang tak lagi ngomel dan sikap ikhlas istrinya yang membawa handuk basah ke jemuran, membuat si suami tersentuh. Dan akhirnya mau mengubah kebiasaannya.

Pembaca, pada kisah di atas, yang dilakukan si istri dalam menyikapi hal yang tidak menyenangkannya adalah mengubah mindset (pola pikir). Dia ubah mindset-nya. Dari bersikap jengkel, dengan kebiasaan buruk suaminya. Dia ubah mindset, menjadi bersikap ikhlas, dan menganggap suaminya sedang memberikan ladang kebaikan untuk dia.  Sehingga, ketika si istri harus setiap hari memindah handuk basah suaminya dari kasur ke jemuran, dia jalani sama halnya dengan sebuah ibadah.

Mindset memang sangat menentukan sikap dan perilaku manusia. Ketika mindset-nya selalu baik dan selalu positive thinking, maka sikap dan perilakunya akan baik. Dan ini akan berlaku sebaliknya.

Jika Anda seorang pemimpin perusahaan, mungkin pernah mengalami punya karyawan yang menjengkelkan. Sebabnya, si karyawan berkali-kali berbuat salah. Dan kesalahannya itu terjadi berulang-ulang.  Maka, di saat seperti itu, si pemimpin bisa mengubah mindset-nya. Agar tidak jengkel.

Misalnya, mengubah mindset menjadi pemimpin yang berjiwa guru. Anggaplah si karyawan yang menjengkelkan itu sebagai murid. Maka, dekatilah staf itu sebagai murid. Sentuhlah dia sebagai murid. Kalau salah, ingatkan dia. Kalau masih salah lagi, tegurlah dia dengan lebih keras. Jika pun harus memberi sanksi, berilah sanksi yang mendidik, seraya menjelaskan kepada dia, mengapa dia harus diberi sanksi. Untuk bisa melakukan semua ini, kuncinya hanya satu: sabar. Guru yang baik, tidak akan pernah membenci muridnya, senakal apa pun muridnya. Jika seorang pemimpin terhadap karyawannya menggunakan pendekatan seperti halnya seorang guru kepada muridnya, maka ketika si pemimpin itu mendapati karyawannya yang menjengkelkan, maka si pemimpin tak akan membencinya. Sebab, dia menganggap karyawannya itu adalah muridnya.

Dari sisi karyawan, juga harus berubah mindset-nya. Jika masih menggunakan mindset ”bos-anak buah”, mungkin dia akan jengkel ketika dimarahi bosnya. Tapi, jika mindset-nya diubah, dengan menganggap bosnya sebagai gurunya. Dan dia menganggap ketika bekerja dengan bosnya itu adalah bagian dari dia berproses atau belajar, maka dia akan bisa bersikap positif ketika dimarahi bosnya. Sebab, dia merasa tidak dimarahi bosnya, tapi dimarahi gurunya. Dan semarah-marahnya guru kepada murid, tujuannya adalah mendidik. Agar muridnya menjadi lebih baik.

Nah, sekarang, mari kita jaga mindset kita untuk selalu positif.  Mindset yang positif akan melahirkan sikap sabar dan ikhlas. Mindset positif juga bisa mengubah perilaku orang lain. Mindset yang positif akan menimbulkan aura positif. Dan aura positif akan bisa melahirkan semangat. Bagaimana menurut Anda?

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)