Momok Preeklamsia – DI’s Way

Saya turut berbela sungkawa. Atas duka yang dirasakan pasangan selebriti Irish Bella (Ibel) dan Ammar Zoni. 

 

Pada Minggu (6/10), putri kembar mereka yang berusia 27 minggu dalam kandungan meninggal dunia. Saat Ibel menjalani perawatan intensif di RS Harapan Kita, Jakarta.

 



Kabar duka ini pun menjadi viral. Google Trend mencatat lebih dari 200 ribu yang menelusuri berita ini. Di Twitter pun sempat menjadi trending topic. 

 

Bahkan, video pemakaman putri kembar mereka menjadi trending nomor 1 di YouTube.  Video yang diunggah kanal SCTV itu, hingga hari ini (7/10), sudah ditonton lebih dari 3,5 juta kali dengan 5.551 komentar. 

 

Saat menulis naskah ini, saya seperti sedang flashback. Sebab, apa yang dialami Ibel, mirip dengan kondisi istri saya delapan tahun lalu: sama-sama mengalami preeklamsia di kehamilan pertama. 

 

Karenanya, saya tak asing dengan istilah preeklamsia pada ibu hamil. Seperti yang dikatakan dr. Gatot Abdurrazak, Sp.OG. Dokter yang menangani Ibel. Saat memberikan keterangan pers, pada Senin (7/10). 

 

Menurut Gatot, Ibel memang sebelumnya mengalami preeklamsia. Yakni, kondisi gangguan kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi. Juga kandungan protein tinggi dalam urine.

 

Saat datang ke RS pada Jumat (4/10), Gatot mengatakan Ibel sudah stage 4. Atau kondisi bahaya. Hingga akhirnya tindakan caesar dilakukan pada Minggu (6/10).

 

Saat menjalani operasi itu, tekanan darah Ibel 180/90. Dengan kondisi janin kembarnya sudah meninggal dunia dalam kandungan.

 

Menurutnya, tekanan darah yang tinggi, membuat plasenta dalam kandungan Ibel lepas. Sehingga kedua janinnya tidak mendapat aliran udara. Juga makanan yang sempurna.

 

Plasenta memang bisa lepas dengan cepat. Bagi kehamilan kembar. Sebab, plasenta hanya ada satu, tapi jika janinnya kembar, tali pusatnya menjadi dua. 

 

Hingga Senin (7/10) malam, ucapan bela sungkawa masih terus disampaikan netizen. Itu bisa dilihat di kolom komentar kanal SCTV di YouTube.

 

Di antaranya disampaikan Rheiinha. ”Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Dulu senang banget lihat mereka bisa menikah. Dan akhirnya Ibel hamil anak kembar. Sempat aku berfikir, kapan ya punya anak kembar kayak Ibel. Sudah lama aku menantikan kehadiran momongan. Kemarin lihat berita sempat nggak percaya, kalau bayi kembarnya meninggal. Ya Allah, kasihan Ibel dan Amar, aku ikutan menangis. Semoga jadi bidadari surga ya nak, buat kalian yang kuat ya. Yang sabar. Pasti Allah akan menggantikannya. Entah kapan itu,” tulisnya.

 

Senada disampaikan Aida Fitri Sania. ”Dengar berita Irish hamil kembar aku happy banget. Aku nunggu banget kelahiran mereka. Tapi Allah lebih sayang mereka. Insya Allah mereka jadi penolong kedua orang tuanya di akhirat kelak. Aamiin,” ucapnya.

 

Ucapan sama juga disampaikan Icha Permatasari. ”Tuhan yang memberi. Tuhan jugalah yang berhak mengambilnya. Turut berduka. Tetap sabar dan kuat. Semua sudah diatur dan Tuhan punya rencana di balik semua ini. Jadilah kedua malaikat kecil nan cantik bersama Tuhan. Amin,” tulisnya.

 

Lalu, bagaimana dengan kondisi istri dan bayi kami delapan tahun lalu?

 

Alhamdulillah. Tuhan menakdirkan keduanya selamat. Bahkan, bayi itu besok (9/10) berulang tahun yang ke-8.

 

Saya masih ingat sekali suasana delapan tahun itu. Tentang preeklamsia yang dialami istri saya itu. Di usia kehamilannya yang belum genap 9 bulan itu.

 

Kala itu, ia bertaruh nyawa demi melahirkan anak sulung kami itu. Alat-alat canggih sudah tertempel di perutnya. Ketika menjalani perawatan. 

 

Hingga akhirnya, setelah tiga hari dirawat, dr. Taufiqurrahman, Sp.OG, dokter yang menangani istri saya kala itu, meminta saya ke ruangannya. 

 

Dia menjelaskan, operasi caesar harus segera dilakukan. Sebab, detak jantung bayi dalam kandungan istri saya kian melemah. 

 

Tetapi, operasi caesar yang dijalani sarat risiko. Lantaran tekanan darah istri saya masih sangat tinggi. Bahkan, saat operasi dilaksanakan, tekanan darahnya mencapai 200/100. 

 

Alhamdulillah, operasi berlangsung sukses. Istri saya saat itu baru siuman keesokan harinya. Juga harus menjalani transfusi darah. 

 

Sementara, anak saya juga saat itu harus masuk inkubator. Di ruang khusus perawatan bayi.  

 

Tuhan memang memiliki takdir masing-masing bagi umatnya. Tentunya, keputusan terbaik pasti selalu diberikan-Nya. 

 

Termasuk bagi Ibel dan Amar Zoni. Semoga keduanya diberikan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan, atas keputusan-Nya itu.(Wirahadikusumah)