MTA: Pemurnian atau Pendangkalan?

Gerakan pemurnian MTA memang memiliki daya tarik bagi sebagian kalangan umat Islam, terutama di Solo dan sekitarnya. Mutohharun Jinan (2013) dalam disertasinya tentang MTA bahkan menyebut gerakan itu telah menembus wilayah-wilayah pedesaan dalam radius yang cukup jauh dari pusatnya di Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta (halaman 51). Gerakan yang didirikan Abdullah Thufail pada 1970-an itu telah memiliki cabang dan sejumlah pengikut hingga Jogjakarta, Semarang, Kudus, Cepu, Wonogiri, Gresik, Karawang, serta Bandung, bahkan daerah luar Jawa.

Padahal, jelas telah banyak gerakan pemurnian Islam lain di Surakarta yang berdiri sebelum gerakan itu ada. Namun, tidak ada satu pun yang mengalami perkembangan secepat itu. Cepatnya perkembangan, soliditas, dan ”militansi” pengikutnya cukup mencengangkan banyak kalangan. Eksklusivitas jamaah tersebut juga menjadi perhatian tersendiri di kalangan umat Islam di sekitar Surakarta dan kota-kota lain. Hal itu bahkan tidak jarang disebut-sebut memantik kontroversi dan ketegangan dengan kelompok-kelompok lain di masyarakat yang diberitakan secara luas di media massa.

Oversimplifikasi?
Bendera yang dikibarkan MTA sesungguhnya adalah bendera lama, yaitu pemurnian Islam. Sebagaimana gerakan purifikasi lain, MTA memandang praktik keberagamaan umat Islam Indonesia, terutama di Solo dan sekitarnya, sudah diwarnai terlalu banyak penyimpangan dari rel Alquran dan sunah Nabi. Karena itu, resep jitu permasalahan umat sekarang adalah kembali kepada dua pegangan umat Islam itu dan mengamalkannya dalam kehidupan secara nyata. Slogan kembali kepada Alquran dan sunah jelas merupakan bendera yang sudah lama dikibarkan di hampir seluruh dunia Islam.

Karena itu, pengajian MTA, basis aktivitas gerakan tersebut, sangat menekankan pengkajian ayat demi ayat dalam Alquran sehingga sesuai dengan namanya, Majlis Tafsir Al-Qur’an. Kekuatan pengajian itu sesungguhnya terletak pada gaya dan komunikasi massa pemimpinnya, Pak Ahmad Sukino, bukan kedalaman dan kekuatan kajiannya. Penyampaian sang ”ustad” dirasa sangat lugas, jelas, dan mudah dicerna kalangan awam. Mereka dalam kegiatan pengkajian tersebut biasanya menggunakan terjemahan Alquran versi Kementerian Agama.



Hanya, menafsirkan Alquran (tafsirul Qur’an), sesuai dengan namanya, Majelis Tafsir Al-Qur’an, seharusnya memerlukan perangkat ilmu yang tidak sederhana. Anggapan bahwa setiap muslim berhak untuk berupaya membaca, menyelami, dan memahami Alquran adalah benar. Namun, menafsirkan kitab suci dengan bahasa yang bukan bahasa kita, bahkan bahasa itu adalah bahasa yang digunakan pada masa lampau, ada konteksnya yang sering kali sangat khusus, ada sejarahnya dan sebab-sebab turunnya, serta turun di tengah-tengah masyarakat Arab pada masa yang jauh dari masa kita, baik geografis, waktu, maupun budayanya, tentu memerlukan perangkat-perangkat yang tidak sederhana. Apalagi untuk pemahaman dan penerapannya di masa sekarang, yang sangat berbeda dengan zaman turunnya Alquran.

Tokoh tafsir mana pun atau ahli di bidang ulumul Qur’an mana pun pasti menyebutkan, tidak sedikit syarat bagi seseorang untuk melakukan penafsiran secara memadai terhadap Alquran. Syarat itu, antara lain, pengetahuan tentang gramatika Arab klasik-standar (fusha) dan beberapa ilmu kebahasaan Arab lain, ulumul Qur’an, pengetahuan asbab al nuzul, serta wawasan tentang masyarakat Arab masa awal Islam. Sulit bagi saya sebagai orang yang pernah sedikit belajar dan mengajar bahasa Arab untuk membayangkan penafsir Alquran tanpa kemampuan bahasa Arab yang memadai. Ingat, terjemahan Alquran bukanlah Alquran. Alquran adalah kitab suci yang ditulis dalam bahasa Arab. Terjemahan Alquran bukanlah Alquran.

Celakanya, kelompok MTA sepertinya juga kurang apresiatif terhadap khazanah keislaman yang sesungguhnya sangat kaya, termasuk di bidang tafsir. Bukan hanya kitab-kitab tafsir besar masa klasik seperti Al Thabari, Ibnu Katsir, Al Qurtubiy, dan Al Alusi, tapi juga kitab-kitab tafsir masa kini mulai Al Manar-nya Rasyid Ridha hingga Al Maraghi. Beberapa informasi menyebut mereka juga memanfaatkan beberapa kitab tafsir itu. Namun, itu tidak tampak dalam pengajian-pengajian yang dilakukannya. Bagaimana kita akan memberikan argumen kepada saudara-saudara di MTA jika mereka tidak memandang penting khazanah-khazanah tersebut.

Bagaimanapun, pengajian MTA praktis dan cocok untuk kalangan tertentu terbukti dengan adanya pengikut dan cabang-cabang baru yang dibuka, tapi sepertinya akan menimbulkan beberapa pertanyaan bagi pengkaji Alquran yang sungguh-sungguh. Karena itu, tidak berlebihan jika ada pertanyaan: Itu gerakan pemurnian ataukah pendangkalan Islam? (*)


(*Pemerhati Timur Tengah dan dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga)