Muktamar Para Lebah

HARI ini (20/8) dan besok (21/8) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar muktamar di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali. Dari sisi kontestasi internal partai, mungkin sudah tidak menarik lagi. Sudah pasti muktamar ke-5 ini akan memilih kembali A. Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum periode mendatang. Pemilihan waktu muktamar setelah pemilu dan sebelum pengumuman kabinet memang membuat konstelasi politik di muktamar tetap berpusat pada keponakan Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Dan di PKB saat ini memang tidak ada sosok yang bisa menandingi Cak Imin –sapaan Muhaimin Iskandar. Konflik internal yang pernah melanda PKB pada 2005 hingga 2009 memang telah menyaring tokoh-tokoh politik yang dulu banyak dimiliki PKB. Selain itu, Cak Imin telah berhasil membuktikan selama kepemimpinannya, perolehan suara PKB dalam pemilu terus mengalami kenaikan. Hubungan PKB dengan Nahdlatul Ulama (NU) juga semakin mesra. Cak Imin terus mendorong kadernya untuk berkhidmat kepada salah satu ormas Islam terbesar di tanah air tersebut. Sebab, PKB memang satu-satunya anak kandung NU.

Hasil Pemilu 2019 juga menjadi bukti keberhasilan Cak Imin mengelola partai yang didirikan para ulama tersebut. PKB menempati posisi keempat dalam penghitungan suara pemilu legislatif (pileg) secara nasional, yakni 9,72 persen. Perolehan 58 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan yang terbanyak selama lima kali PKB mengikuti pemilu. Sebelumnya, PKB meraih 51 kursi (Pemilu 1999), 52 kursi (2004), 27 kursi (2009), dan 47 kursi (2014). Setidaknya berdasar hasil tersebut, Cak Imin sudah lebih baik daripada dua ketua umum terdahulu, Matori Abdul Djalil dan Alwi Shihab. Di Jawa Timur, yang menjadi basis utama, PKB juga berhasil meraih suara terbanyak meski tidak meraih kursi terbanyak di dewan. Sehingga PKB di Jawa Timur dijuluki juara tanpa mahkota. Bukan karena PKB di Jatim turun. Tapi memang suara PDIP naik begitu signifikan pada pemilu lalu.

Mengembalikan performa partai politik (parpol) setelah konflik bukan hal yang mudah. Harus bersabar. Butuh waktu tiga pemilu bagi Cak Imin untuk mengembalikan performa PKB seperti semula. Perlu ketelatenan dan kesabaran. Apalagi, PKB bukan partai yang punya sumber dana melimpah seperti partai-partai lainnya.



Langkah Cak Imin salah satunya melakukan kaderisasi dan regenerasi secara terus-menerus di partai yang dipimpinnya tersebut. Memang di struktur kepengurusan dewan pimpinan pusat (DPP) tidak cukup terlihat. Tokohnya bisa dibilang masih itu-itu saja. Tapi, di tingkat dewan pimpinan wilayah (DPW) maupun dewan pimpinan cabang (DPC), kita bisa melihat pengurus PKB begitu muda-muda. Semangatnya tinggi. Mimpinya besar. Cak Imin juga memoles penampilan dan caranya bermedsos seperti anak muda. Pada Harlah Ke-21 PKB, 23 Juli lalu, juga berhasil memikat hati Sobat Ambyar, fans penyanyi yang dijuluki Lord of Broken Heart Didi Kempot, dengan menggelar konser di kantor DPP PKB. Partai ini selalu berhasil tampil beda daripada partai lain.

Dalam muktamar di Bali ini, PKB juga unik. Tiba-tiba ada gambar lebah sebagai logo muktamar. Apa hubungannya lebah dengan PKB? Inspirasinya tentu saja dari surah An-Nahl ayat 68-69. Dalam dua ayat itu digambarkan betapa besar manfaat lebah bagi manusia. Lebah hanya mengambil zat-zat yang baik dari buah-buahan, kemudian dari perutnya mengeluarkan madu yang punya banyak khasiat.

Kira-kira maknanya, seorang kader PKB diibaratkan sebagai seekor lebah. Dan PKB merupakan sarang dari lebah-lebah itu. Sebagai lebah, kader PKB harus bisa memberi manfaat kepada masyarakat sekitar. Tapi harus hati-hati juga. Jangan sekali-kali mengganggu sarang lebah. Kalau sudah marah, lebah bisa menyengat. Dan sengatannya bisa mematikan.

Setidaknya muktamar ini tidak sekadar membicarakan kabinet seperti yang mengemuka pada kongres sebuah partai yang diadakan juga di Bali belum lama ini. Apalagi sampai mendesak presiden di forum terbuka. Tidak elok pemandangan seperti itu dilihat oleh rakyat Indonesia. Soal jabatan menteri biar diurus oleh presiden terpilih. Itu karena memang hak prerogatif presiden. Kalau presidennya tahu diri pasti tidak akan melupakan jasa PKB saat ikut berjuang dalam pemilu presiden (pilpres) lalu. Bertemunya lebah-lebah pilihan dari seluruh Indonesia di Bali harus bisa menghasilkan madu berkhasiat super yang diharapkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang sedang diderita bangsa ini.

Banyak tantangan yang dihadapi PKB di masa mendatang yang harus dirumuskan pada muktamar para lebah kali ini. Terutama terkait dengan persoalan tolerasi antarumat beragama, radikalisme, dan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Selamat bermuktamar, tetaplah menjadi lebah, jangan berubah menjadi lebay. (*)

*) Wartawan Jawa Pos, pengurus PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur