Musim Semi Industri Kreatif

JawaPos.com – Arus besar dukungan para pekerja kreatif alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) kepada Presiden Joko Widodo, Sabtu (9/2) lalu menarik untuk dicermati. Bukan untuk mengaitkannya secara pragmatis terhadap kontestasi Pilpres 2019, tapi mengukur sejauh mana sejatinya kinerja ekonomi kreatif dalam lima tahun terakhir.

Orang bilang, saya termasuk orang lama di dunia kreatif. Puluhan tahun saya berurusan dengan dunia komunikasi visual.

Tapi, aktivitas lima tahun belakangan ini membawa kiprah saya di dunia industri kreatif jauh lebih serius. Salah satunya ketika saya ditunjuk sebagai ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif pada Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN). Dari situ saya langsung secara intensif berurusan dengan dunia kreatif, baik dalam level strategis maupun teknis.

Strategis karena sebagai ketua pokja industri kreatif KEIN saya memonitor perkembangan industri kreatif dalam skala nasional, mencari masukan-masukan dari pelaku ekonomi kreatif di seluruh Indonesia, dan merumuskan rekomendasi-rekomendasi.



Teknis karena saya langsung terjun menggarap langkah-langkah pengembangan industri kreatif termasuk berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Memang para pekerja seni, pelaku ekonomi kreatif, secara obyektif bisa merasakan bagaimana ekonomi kreatif dalam beberapa tahun ini benar-benar digerakkan sebagai salah satu lokomotif ekonomi bangsa.

Dan selama tiga dekade berkecimpung, baru kali ini saya merasakan gairah industri kreatif begitu membuncah.

Saya merasakan sendiri, betapa denyut ekonomi kreatif berdetak kencang hingga ke daerah-daerah. Saya keliling dari Aceh sampai Papua. Anak-anak muda bersemangat berbisnis berbagai subsektor industri kreatif, dari kuliner, kriya, arsitektur, fesyen, musik, periklanan, film, sampai seni pertunjukan.

Kenapa gairah ini bisa muncul?

Kunci pertama ada pada membangun ekosistem dari hulu ke hilir. SDM, misalnya, disiapkan melalui berbagai jenis pelatihan oleh Bekraf, termasuk dengan melibatkan pendidikan vokasi. Pemasaran pun difasilitasi hingga ke luar negeri. Bahkan, setiap tahun para pelaku industri kreatif di Indonesia secara bergiliran diajak langsung melihat dunia kreatif global dengan mengunjungi Amerika Serikat, China, India.

Kemudian dukungan sistem diberikan melalui perizinan yang mudah dan pemangkasan pajak UMKM hingga 0,5 persen. Mayoritas pelaku ekonomi kreatif adalah UMKM. Perizinan yang makin simpel dan berbasis online serta penurunan pajak menjadi stimulus pengembangan ekonomi kreatif di daerah-daerah.

Tapi, sisi regulasi saja tak cukup. Sebab, industri kreatif ini memang soal memberi dampak psikologis. Makanya, tidak heran jika Pak Jokowi kerap memakai produk-produk lokal kreasi anak bangsa, mulai jaket, sepatu, kaos, hingga minum kopi. Nonton konser pun dia lakoni. Itu semua demi melipatgandakan semangat millenials untuk tidak takut kreatif berkarya.

Lantas apa impact dari itu semua?

Saat ini kinerja ekonomi kreatif terus meningkat. Kontribusinya ke produk domestik bruto (PDB) diproyeksi sudah tembus Rp1.100 triliun pada 2018. Tahun ini diprediksi tembus Rp 1.200 triliun. Luar biasa!

Lalu dari segi tenaga kerja, pada tahun 2015 tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif sebanyak 15,9 juta orang. Jumlah ini juga terus meningkat sampai tahun 2017 sebanyak 17,4 juta orang, dan di tahun 2018 mencapai 18 juta orang.

Kualitas hasil ekonomi kreatif kita juga semakin meningkat. Potensi nilai tambah dalam sebuah produk kreatif bisa dioptimalkan. Walhasil, produk kreatif Indonesia kian banyak diminati. Termasuk di luar negeri. Tidak mengherankan jika nilai ekspor ekonomi kreatif meningkat dari tahun ke tahun.

Saya kira para pekerja ekonomi kreatif barangkali tidak memedulikan angka-angka itu. Bagi mereka, ekosistem positif yang dibangun pemerintah sudah cukup untuk menginjeksi semangat berkarya kreatif.

Yang jelas, ke depan kita semua berharap ekonomi kreatif semakin menjadi backbone penting bagi perekonomian nasional, seperti yang selama ini diikhtiarkan Pak Jokowi. Muaranya, dan ini yang jauh lebih penting, ekonomi kreatif mampu mendonorkan kontribusi optimal untuk pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan pemerataan ekonomi di seluruh pelosok negeri.

Sekarang adalah musim semi industri kreatif. Akan rugi jika kita tidak berikhtiar menjaga kesinambungannya.

*) Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif-Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN)

Editor           : Ilham Safutra