Narkotisme Bukan Fiksi

JawaPos.com – Dibutuhkan diskusi panjang atas izin istri untuk menulis artikel ini. Sebelumnya, penulis menolak permintaan wawancara apa pun terkait dengan narkotika. Viralnya kasus yang menimpa penulis pada 2017 membuat argumen apa pun bakal menerpa angin.

Ketika kasus serupa tapi tak sama tahun ini menimpa seorang sahabat intelektual, Andi Arief, penulis lebih banyak memantau. Untuk kali pertama, penulis bersedia menulis tema yang sangat luas ini.

Kala menulis novel Pinangan dari Selatan dengan latar persaingan kuasa turun-temurun di dunia malam, penulis menemukan sejumlah kekeliruan. Novel yang terbit pada 2016 itu sama sekali dianggap amatiran dalam pengetahuan tentang narkotika. Modal bacaan dan investigasi di kalangan pemakai sama sekali tak begitu berguna. Sebagian besar tak sesuai fakta, terutama dampak narkotika bagi pemakai.

Indra J Piliang (Twitter)

Padahal, Indonesia sudah dianggap mengalami apa yang disebut sebagai darurat narkotika. Penetrasinya sudah menyintas batas. Salah satunya adalah fakta di bawah permukaan tentang penggunaan narkotika oleh kalangan teroris. Istilahnya, narcoterrorism. Penyidikan internasional menemukan narkotika di sarang-sarang yang ditinggalkan oleh pengikut Negara Islam Iraq dan Asy-Syam (NISS). Perang di Afghanistan, Filipina, dan Myanmar juga terkait dengan likuiditas yang didapatkan dari perdagangan opium, jauh di atas harga tebusan penyanderaan.



Pada 1980-an, jejak pengaruh narkotika menjalar di sejumlah negara di Amerika Selatan. Sampai dekade pertama abad ke-21, semakin menusuk ke sejumlah negara di dunia. Saking luasnya, terdapat istilah narco-state yang terhubung dengan perdagangan dan ancaman kartel narkotika. Terdapat lima kategori negara dalam istilah narco-state. Yakni, incipient, developing, serious, critical, dan advanced yang tersebar di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

Lalu, Indonesia berada dalam sisi darurat yang mana? Sejauh ini, mulai ada indikasi betapa sejumlah teroris yang melakukan aksi-aksi bunuh diri adalah pelaku dan “korban” doktrinasi yang dilakukan dengan narkotika. Tentu sulit mengangkat persoalan itu ke permukaan. Jenis yang digunakan juga sama sekali di luar pengetahuan masyarakat umum. Kecepatan para teroris dalam pembiayaan aksi mereka juga berkelindan dengan jumlah uang yang dicuci. Biarlah aparat terkait menangani persoalan itu.

Yang juga semakin dekat adalah narcoterrorism dengan narcotheology. Doktrin-doktrin keagamaan dimasukkan sebagai bagian dari “perjuangan” para pelakunya. Sejumlah negara yang rentan dalam hubungan sosial keagamaan bisa dengan mudah dibakar paham-paham radikal dan fundamental sehingga berujung konflik berdarah. Data internasional menunjukkan betapa peredaran narkotika terbesar, sekitar 80 persen, berada di negara-negara konflik yang dibingkai bahasa agama itu.

Dari sisi sumber daya alam, negara-negara tersebut juga bukan yang serba kekurangan. Teori konspirasi dan teori ketergantungan (dependency theory) bisa saja mengarah kepada keterlibatan pihak lain untuk meruntuhkan negara yang bersangkutan sebagai proses penguasaan sumber daya alam mereka.

Terus terang, subjektivitas penulis tentu sulit untuk mengukur kasus yang pernah menimpa penulis dan kawan-kawan lain. Biarlah itu menjadi kewenangan para penyidik dan aparat hukum. Interaksi penulis dengan penyidik, riset independen, dan bahan bacaan yang ada menunjukkan betapa semakin beragam jenis narkotika yang berkecambah di Indonesia. Bahkan, sebagian besar belum masuk ke dalam sistem hukum dan perundangan di Indonesia. Dibutuhkan lebih banyak laboratorium dan ilmuwan untuk membangun benteng pertahanan yang kukuh sekaligus ketekunan legislator untuk menyusun regulasi yang sesuai.

Kesulitan mendapatkan info dan data kredibel yang menyangkut lingkaran api narkotisme di Indonesia itulah yang membuat penulis lebih nyaman memberikan uraian lewat fiksi. Tentu bukan fiksi biasa, melainkan berdasar riset bertahun dengan biaya yang tak sedikit. Apalagi, sejak 1991 penulis tinggal di kawasan Jakarta Kota yang identik dengan mestizo Hongkong van Indonesia.

Tujuan akhir novel tentu berakhir di mata pembaca. Sesulit apa pun cara menulisnya, dengan risiko yang bisa saja memicu kesalahpahaman, sudah menjadi nubuat yang membelenggu para penulis. Apalagi, wilayah yang dijamah sama sekali bukan bagian dari kehidupan seorang Dilan.

Pelajaran mahal yang penulis petik adalah waktu yang tak bisa dibeli. Dan tak mungkin kembali. Publik punya ingatan dan media punya catatan. Setakakurat apa pun yang berada di pikiran publik atau dihamparkan oleh media sudah menjadi bagian dari nalar yang ada dalam ruang publik (public sphere). Ruang publik yang menjadi area pertarungan apa pun: kiri-kanan, hitam-putih, siang-malam, atau satu-dua. Penulis lebih memilih tak melakukan klarifikasi apa pun. Sebab, saat malam menjadi gelap, hanya cahaya bintang dan bulan yang bisa diharapkan. Cahaya yang muncul dari keluarga dan sahabat-sahabat terdekat.

Pembelaan diri hanya mengundang caci maki. Padahal, ranah narkotika adalah area yang berbau neraka. Bukan untuk menjadi ajang saling menghina, apalagi menepuk dada. Jumlah pengguna narkotika di Indonesia jauh lebih berlipat di kalangan akar umbi, dalam lingkungan keseharian, dan wajah yang biasa. Seperti piramida terbalik, siapa pun bisa terkena dan bisa saja sudah profesional tanpa diketahui orang terdekat. Mereka ada di lorong-lorong dan gorong-gorong dengan pola gotong royong. Dalam jumlah terbatas, mereka ada di gedung-gedung tinggi lewat penjagaan berlapis dan kartu akses. Waspada dan tak jemawa adalah kunci untuk terhindar dan menghindar dari badai narkotisme ini… 

*) Ketua Umum Perhimpunan Sangga Nusantara

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (*/c11/oni)