JawaPos.com – Benar bahwa ini merupakan kali kedua saya menjadi moderator dalam debat paslon presiden dan wakil presiden. Debat sebelumnya berlangsung pada Pemilu 2004. Kalau ditanya apa perbedaannya antara dulu dan sekarang, tentu saya belum bisa menjawab.

Kita harus sama-sama menunggu saya menyelesaikan tugas ini.

Yang bisa sedikit saya jelaskan, peraturan Pemilu 2004 berbeda dengan sekarang. Jumlah penontonnya, juga intensitas situasi saat itu tentu berbeda. Saat saya menjadi moderator dalam debat Pilkada DKI tahun 2017, intensitasnya mulai naik. Kurang lebih intensitasnya sama dengan saat ini, tapi yang sekarang eskalasinya menjadi lebih tinggi karena levelnya juga berbeda. Saat ini kita bicara pemilu yang levelnya nasional, bukan lagi satu provinsi.

Selain itu, saya melihat semakin ke sini peserta debat itu semakin prima. Konsultannya semakin banyak. Informasi saat ini pun semakin luar biasa dan saya merasa ini juga ditangkap oleh paslon. Sehingga mereka lebih mendengarkan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Dari situ bisa terjadi diskusi yang lebih intens sehingga penampilan para paslon semakin prima.

Tidak boleh dilupakan juga, banyak sekali masukan yang diberikan oleh masing-masing paslon. Masukan-masukan itu bertujuan untuk menjadikan forum debat sebagai salah satu tools utama bagi publik untuk mengetahui visi, misi, gestur, dan ketulusan paslon.

Dengan demikian, dari apa yang disampaikan paslon saat debat, orang bisa melihat banyak hal. Mulai orisinalitas, kemampuan membuat narasi, kemampuan berargumentasi, hingga ketulusan. Jadi, saya melihat semakin ke sini debat paslon semakin luar biasa.

Untuk mempersiapkan debat paslon kali ini, saya dan Mas Imam (Priyono) sudah bertemu dengan para panelis debat tadi (10/1). Kami membahas pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada para paslon. Namun yang perlu diingat, pertanyaan yang diberikan itu hanya ada di dua sesi. Karena pada dua sesi yang lainnya, pertanyaan diajukan oleh paslon.

Tugas kami, saya dan Mas Imam, adalah mengemas sedemikian rupa. Bagaimana pertanyaan yang sudah diberikan ini nanti saat debat bisa dipahami pula oleh publik, namun bahasanya tetap nendang. Kami menyepakati penajaman, pemilihan frasa dan diksi, juga mengevaluasi pertanyaan yang ada. Apakah publik memang ingin tahu mengenai isu yang ditanyakan itu.

Harus kami akui, ruang untuk menggali jawaban dari para paslon sangat sempit. Tapi, kami bersama panelis berusaha merumuskan sebaik mungkin. Sehingga diharapkan para paslon bisa memberikan jawaban terbaik karena inilah yang ditunggu-tunggu oleh publik.

Kita semua tentu ingin debat berlangsung panas dalam arti positif. Yang perlu diperhatikan adalah suasana panas itu harus tetap terkontrol. Tidak sampai meledak-ledak. Saya dan Mas Imam akan memanfaatkan ruang gerak itu sedemikian rupa. Sehingga unsur pertunjukannya bisa didapatkan. Namun, paslon tetap bisa menjelaskan dengan klir apa yang menjadi visi, misi, dan programnya kepada publik.

Pada debat kali ini, sebenarnya netralitas saya sempat dipertanyakan. Bila ditanya apakah ada tekanan, tentu saja ada. Tapi, saya rasa itu minim sekali jika dibandingkan dengan yang lain-lain. Pro dan kontra akan selalu ada. Terhadap saya pun demikian, tetapi masih dalam taraf yang bisa diterima.

Selama ini tekanan itu juga tidak saya tanggapi. Karena saya tidak ingin memancing polemik yang lebih lanjut. Selain itu, saya melihat situasi. Kalau secara amplifikasi terus-menerus membesar, saya harus melakukan sesuatu. Tapi kalau monitoringnya menurun atau biasa saja, berarti kita tidak usah masuk karena bisa memancing polemik yang lebih besar.

Yang bisa saya sampaikan, dalam debat kali ini saya dan Mas Imam akan bersikap netral. Netralitas kami pulalah yang melatarbelakangi sehingga kami bisa dipercaya menjadi moderator untuk debat pertama. Bahwa masing-masing kami memiliki preferensi, memang benar. Namun, preferensi itu hanya kami dan Tuhan yang tahu.

Secara pribadi, saya tetap mempersiapkan diri untuk debat ini. Saya memang punya kebiasaan rutin berolahraga. Di luar itu, saya akan mengonsumsi vitamin dan menjaga makan. Juga memastikan tidur yang cukup. Hanya, memang tidur cukup itu bagi saya adalah sebuah tantangan. Bagaimanapun, saya masih memiliki pekerjaan di luar.

Yang belum saya persiapkan justru baju apa yang akan saya pakai nanti. Yang pasti, saya tidak boleh mengenakan pakaian dengan warna yang senada dengan warna partai politik. Itu menjadi kesulitan sendiri karena sepertinya semua warna sudah digunakan oleh partai. Yang netral umumnya hitam dan putih, tapi putih pun sepertinya sudah digunakan oleh partai. 

*) Moderator Debat Pertama Capres-Cawapres

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Bayu Putra/c6/oni)