Ngopi….

Ada salah satu lirik dari lagu ”Bojoku Galak” yang dinyanyikan Via Vallen yang menarik (setidaknya menarik perhatian saya). Lirik itu adalah: ”…Kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngopi…”

Saya melihat potongan lirik itu mengandung filosofi yang cukup dalam. Lirik itu mengandung makna adanya sikap lapang dada untuk menerima kenyataan.

Lagu ”Bojoku Galak” menceritakan tentang curhatan seorang istri yang mempunyai suami galak, dan si suami lebih banyak menyakitkan ketimbang menyenangkan. Tapi dengan segala curhatannya itu, ditutup dengan lirik ”Kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngopi”. Lirik ini seperti menjadi closing yang apik. Menunjukkan sikap yang sangat bijak dari seorang istri.

Ini dicerminkan dari potongan lirik ini: ”…Yen ra kuat ditinggal ngopi”. Jadi, ini adalah alternatif tindakan yang bijak dan lapang dada, ketika seorang istri harus menjalani kehidupan bersama suaminya yang galak. Akan berbeda ceritanya, jika lirik itu dibuat seperti ini: ”… Yen ra kuat ditinggal rabi”. Ini adalah alternatif tindakan yang cenderung ”putus asa” dan kurang lapang dada dalam menghadapi masalah.



”Ngopi” dalam potongan lirik lagu Via Vallen itu, saya rasa bukan hanya bermakna minum kopi saja. Tapi, ”ngopi” di sini adalah bisa juga dimaknai dengan ”ngolah pikiran”.
”Ngolah pikiran” adalah bentuk lain dari refleksi. Pada konteks lagu ”Bojoku Galak”, makna dari lirik ”ditinggal ngopi” di sini adalah melakukan olah pikiran. Ini sesungguhnya adalah bermuhasabah ketika menghadapi suatu persoalan.

Ketika seseorang lebih memilih untuk mengolah pikirannya saat menghadapi masalah, ketimbang berputus asa, maka sesungguhnya dia telah berada pada jalur menerima kenyataan, sepahit apa pun yang dia alami.

Apa yang diolah dari pikiran? Salah satunya adalah mencoba berpikir untuk mencari hal-hal positif. Ketika punya bojo galak, sejelek-jeleknya dia, seburuk-buruk sifatnya dia, jika dicari, pastilah ada sisi-sisi baiknya. Mencari sisi-sisi baik ini adalah bagian dari ngopi: Ngolah pikiran.

Dalam hidup bersosialisasi dengan orang lain, sesungguhnya kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, hidup memilih untuk selalu mencari yang ideal (sempurna) dari orang lain. Kedua, hidup memilih untuk selalu lapang dada dalam menerima kekurangan orang lain. Dua pilihan ini, akan berbeda pada proses dan hasilnya.

Untuk pilihan pertama, prosesnya akan minim dalam mengolah pikiran. Juga minim dalam mengolah rasa. Karena yang dicari adalah sisi-sisi ideal atau sesuatu yang sempurna. Dan hasilnya, orang yang memilih cara ini, yang dia rasakan adalah kekecewaan demi kekecewaan. Kemarahan demi kemarahan. Dan sulit untuk berlapang dada. Sulit untuk bertenggang rasa, serta sulit untuk memaafkan orang lain.

Jika yang dipilih adalah yang kedua, maka otomatis dia akan mengolah pikirannya. Pikirannya akan diolah, untuk merasionalisasi mengapa dia harus menerima kelemahan orang lain. Pikirannya akan diolah, untuk mencari sisi-sisi baik setiap orang di balik kelemahan-kelemahannya. Jika sisi-sisi baik sudah ditemukan, maka inilah yang ditonjolkan, dengan melupakan kelemahannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin terkadang menjumpai ada orang yang sulit sekali memaafkan orang lain. Dia begitu dendamnya, sehingga rasa dendam itu begitu mendarah daging, menyatu dalam tubuhnya.

Orang yang seperti ini, menurut saya, adalah orang yang jarang ”ngopi”.
Karena kalau dia sering ”ngopi”, maka dia akan sampai pada satu filosofi hidup, bahwa semua yang terjadi pada kita, apakah itu yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, apakah itu kita disakiti atau disenangkan orang, yang bikin semua itu bisa terjadi semata-mata karena kehendak Allah SWT. Ketika Allah bikin kejadian yang tidak menyenangkan buat kita, kalau kita mau ”ngopi”, maka sesungguhnya Allah sedang menguji kita. Artinya, kita diuji dengan sesuatu yang tak menyenangkan. Dengan ujian itu, kita bisa lulus atau tidak.

Makanya, ketika ada orang yang ketika mendapati kejadian tak menyenangkan, lalu dia menyalahkan orang lain, atau mencari-cari kesalahan orang lain, maka dia berarti kurang ”ngopi”nya.
Jadi, mari kita sering-sering ”ngopi”: Ngolah pikiran. Agar menjadi pribadi yang bijak. Bukankah di dalam Alquran, Allah dalam beberapa ayat memerintahkan kepada kita untuk selalu menggunakan akal dan pikiran dalam menghadapi berbagai fenomena di alam ini? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

The post Ngopi…. appeared first on Radar Malang Online.